33

1458 Kata
Permasalahan Lisa dengan Jonathan telah berakhir dengan baik. Saga senang melihat sikap ibunya yang tidak memaksakkan kehendak pada Lisa. Tapi Saga sebenarnya tidak kaget. Rina memang bukan tipe ibu yang pemaksa. Malah saking tidak pemaksanya sampai seperti tidak peduli sama sekali. Pagi ini, wanita berusia 48 itu sedang duduk berdua di meja makan dengan Saga. Keduanya mengobrol singkat tentang perkuliahan Saga. “Gimana kuliahnya? Betah?” “Betah.” “Kamu kan gak suka belajar. Kenapa bisa betah?” Pertanyaan ibunya agak sedikit membuat Saga jengkel. Yang dia katakan memang benar, tapi itu seperti mengejek usahanya. “Soalnya ada Ayano.” “Apa?” Saga kelepasan. Dia mengulangi perkataannya. “Soalnya ada Argi. Dan aku juga emang sungguh-sungguh buat jadi dokter hewan. Jadi mau gak mau emang harus semangat.” Rina tersenyum. “Syukurlah, kamu ternyata telah berubah.” Percakapan pun berganti topik. Sekarang giliran Saga yang bertanya-tanya pada Rina. “Mama kenapa pulang cepet? Papa ditinggal sendirian?” Pertanyaan itu membuat Rina sedikit sedih. “Emang kamu gak suka Mama pulang?” “Eh, enggak, bukan gitu. Nanya aja.”  Rina pun menjawab. “Perjalanan bisnisnya bosen, jadi pulang aja deh.” “Terus Papa gimana?” “Papa kan udah gede, ditinggal sendirian juga gapapa.” Saga menghela napas. “Terserah deh.” Tidak ada yang berubah dari Rina setelah Saga tidak berjumpa dengannya selama enam bulan. Seperti biasa Rina suka bersikap seenaknya saja. Tapi meski begitu, dia tidak pernah memaksakkan kehendak. Dia pun tidak menentang saat Saga bilang ingin kuliah di Bandung. *** Setelah hampir sebulan tinggal di rumah, Saga berniat untuk pulang ke Bandung besok. Argi bilang dia masih ingin di Surabaya, jadi kemungkinan besok Saga akan pulang ke Bandung sendirian. “Ngebet banget ya pengen ketemu Ayano?” tanya Argi di telpon. “Iya, tapi bukan cuma karena itu aja.” “Emang karena apalagi?” Saga pun bercerita. “Bentar lagi gua ulang taun, dan nyokap gua ada di sini. Dia kalo ngerayain ultah anaknya suka keterlaluan. Semua temennya diundang. Bikin pesta besar-besaran kayak acara nikahan. Malu gua njiir. Jadi gua mau pulang aja.” Argi tertawa-tawa di telpon. “Oalah, hahaha. Kasian nyokap lu tuh udah siap-siap ngadain pesta lu malah pulang.” “Ah, gapapa, di sini masih ada Kak Lisa, Gamel, sama Melky. Mereka juga bentar lagi ulang taun. Biar mereka aja yang ultahnya dirayain.” Argi tertawa lagi di telpon. “Yaudah, selamat pulang ya. Sampe ketemu dua bulan lagi.” Libur semesteran memang berlangsung cukup lama, yakni hampir tiga bulan. Karena itu, Saga ingin pulang saja ke Bandung karena di sana ada Ayano. Dia ingin menghabiskan waktu bersamanya, karena kebetulan Ayano tidak pulang ke Jepang pada liburan kali ini. Tak lama, ponsel Saga berbunyi, ada sebuah panggilan dari Naufal. Teman baik Saga yang lain. “Gimana? Jadi gak mainnya? Terakhiran di Surabaya.” “Ayo!” *** Hari kepulangan Saga telah tiba. Dia sudah memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam cover. Rina terlihat paling sedih di antara semuanya. “Kenapa pulangnya cepet banget? Kamu gak suka ketemu sama Mama?” Saga menghela napas. “Bukan gitu, aku pulang karena ada urusan. Mama sendiri jangan sering keluar rumah. Kasian Kak Lisa gantiin peran Mama di sini.” Rina tidak bisa menjawab. Pergi keluar rumah dan berlibur di luar negeri memang sudah menjadi hobinya. “Iya, iya, bakal Mama kurangi.” Gamel dan Melky menahan lengan Saga. “Kak Saga gak nunggu besok aja? Besok Papa pulang, lo.” “Iya, Kak. Besok aja pulangnya.” Saga justru pulang sekarang karena sedang tidak ingin bertemu dengan ayahnya. Bukan karena ada masalah, justru karena ayah Saga terlalu sayang padanya. Jika Saga menunggu besok, niscaya ayahnya tidak akan mengizinkan Saga untuk pulang. “Kalian jangan nakal, ya. Jaga Catty baik-baik buat Kakak.” Setelah itu, Saga berpamitan pada anjing kesayangannya. Catty merasa iri karena sekarang hati Saga terbagi dua. Dia kesepian ditinggal Saga karena Ayano. Sebelum pergi, Saga meminta pada Melky untuk memotretnya dulu dengan Catty. Foto itu nanti akan ditunjukkan Saga pada Ayano. Sebelum benar-benar pergi, Saga berbicara terlebih dahulu dengan Kak Lisa. “Kak Lisa, jangan terlalu memaksakkan diri, ya. Kakak jangan cuma mikirin Gamel sama Melky, Kakak juga harus mikirin kebahagiaan Kakak sendiri. Sering-sering aja main sama Jonathan, gapapa kok.” Lisa tersenyum mendengarnya. “Iya, Kakak ngerti. Makasih ya adikku tersayang.” Pembicaraan itu menjadi yang terakhir sebelum Saga pergi masuk ke mobil. Setelah lebih dari satu bulan liburan di sini, Saga akhirnya kembali pulang ke Bandung. ***  Saga sampai di Bandung malam hari sekitar pukul delapan. Lagi-lagi dia menaiki kereta, tidak menaiki pesawat seperti yang dipinta oleh ibunya. Saga lebih memilih menaiki kereta karena menurutnya, pulang kampung atau pergi merantau akan lebih terasa jika menaiki kendaraan itu. Lamanya waktu di perjalanan bisa membuat Saga memikirkan banyak hal. “Baru ditinggal sebulan aja aromanya udah beda.” Saga tersenyum saat keluar dari pintu gerbang. Saat hendak menaiki taksi, Saga melihat Asep sedang berjalan masuk menuju stasiun. Saga segera memanggilnya, meminta taksi untuk menunggunya sebentar. “Asep!” Saga memanggil. Asep menoleh. “Eh, Sag? Udah pulang lagi? Cepet banget!” “Iya, gua udah kangen sama kontrakan.” “Kangen sama kontrakan apa kangen sama Ayano?” “Kangen sama lu.” Asep langsung muntah. “Mau ke mana malam-malam gini?” tanya Saga. “Ah, gua belum cerita, ya. Rumah gua ada di Cicalengka.” “Cicalengka?” “Iya, jaraknya sejam dari sini.” “Oalah.” Saga mengangguk-angguk. “Kapan-kapan mampir ke rumah gua, ya. Gak besar sih, tapi lu mungkin bakal suka sama suasana kampungnya.” Saga tersenyum. “Oke-oke, kapan-kapan gua mampir.” Tak seberapa lama, seorang gadis terlihat menghampiri Asep. “Maaf, aku terlambat.” Gadis itu ngos-ngosan. Saga sangat kenal dengan gadis itu. Dia teman sekelasnya Saga. “Tiara? Kamu ngapain ke sini?” tanya Saga. “Mau pulang,” jawabnya. “Ke mana?” “Cicalengka.” Saga terkejut. “Cicalengka? Kamu sekampung sama Asep?” “Bukan hanya sekampung, aku sama Asep juga se-SMA.” “Oalah, baru tau aku.” Saga mengangguk-angguk. Tiara lalu menoleh pada Asep, mengisyaratkan sebuah kode. Asep pun mengangguk-angguk. “Saga, sebenarnya aku ini pacarnya Asep. Kami udah pacaran sejak SMA,” ucap Tiara. Kekagetan Saga semakin memuncak. “Hah?!! Ka-kamu pacarnya Asep?!!” Ini hal yang sangat tidak Saga duga sama sekali. Maksudnya, Asep dan Tiara itu sangat berbanding terbalik. Tiara begitu cantik, dingin, dan terlihat seperti gadis rajin yang tidak berpacaran. Sementara Asep, kurang tampan, kocak, dan terlihat seperti jones yang tidak punya pacar. Ini benar-benar di luar dugaan Saga.  “Tolong rahasiakan ya. Ini cuma lu doang yang tau.” Asep menangkupkan kedua lengan. “Sisil juga gak tau?” “Iya.” Tiara yang menjawab. “Kenapa kalian merahasiakan hubungan?” Asep yang menjelaskan. “Gua gak mau hubungan kita mengekang orang lain. Kalau mereka tau gua sama Tiara pacaran, cowok-cowok di kelas mungkin bakal sungkan sama Tiara. Begitupun cewek-cewek, mereka mungkin bakal sungkan juga sama gua. Selain itu, gua gak suka aja mengumbar-umbar hubungan. Gua lebih suka hubungan yang diem-diem. Diem-diem nikah aja, hahaha.” Tiara melanjutkan. “Iya, selain itu, aku malu punya pacar jelek kayak Asep. Jadi lebih baik dirahasiakan saja.” Bukannya sakit hati, Asep malah tertawa-tawa mendengarnya. Saga benar-benar bingung. Otaknya masih belum bisa mencerna semua ini. Tiara yang anggun berpacaran dengan Asep yang kocak? Apa mungkin itu terjadi. “Yaudah, oke deh, tenang aja gua bakal rahasiakan, kok.” Saga memberi jempol untuk mereka berdua. Asep tersenyum dan menepuk pundak Saga. “Makasih ya, Bro.” “Rahasia kamu yang anak keluarga Harvent juga bakal aman sama kita.” Tiara berbicara. Saga langsung menoleh pada Tiara. “Kamu tau aku anak keluarga Harvent?!” “Diceritain sama Asep.” Saga langsung menggeram pada Asep. Asep pun segera menjelaskan. “Tenang-tenang, Bro. Rahasia lu bakal aman kok sama gua dan Tiara. Gua sama Tiara ini satu paket. Jadi, kalau gua tau sesuatu, Tiara juga harus tau. Begitupun sebaliknya. Pokoknya gitu deh.” “Iya, kamu tenang aja, Saga. Aku bukan orang yang comel.” Saga menghela napas. “Oke lah, pokoknya jangan sampai orang lain tau, ya. Terutama Jenni sama Ayano. Bisa gawat kalau mereka tau.” Asep dan Tiara sama-sama mengacungkan jempol. “Siip, tenang aja!” Setelah itu, mereka pun pamitan. Asep dan Tiara pergi menuju loket untuk membeli tiket pulang, sementara Saga pergi menuju taksi yang sudah lama menunggunya. “Asep sama Tiara pacaran, tapi pura-pura gak pacaran. Argi sama Ranti gak pacaran, tapi pura-pura pacaran. Ada apa sih sama orang-orang di sekitar gua?” Saga menggeleng-gelengkan kepalanya. Malam di Bandung lebih dingin dari malam di Surabaya. Meski begitu, suasana di kota ini terasa lebih hangat bagi Saga. Mungkin karena ada Ayano.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN