Lisa dan Jonathan dikejutkan dengan kedatangan Rina Harvent, ibunda Lisa bersama para saudaranya. Lebih mengejutkan lagi karena wanita itu datang tidak dengan suaminya, melainkan dengan seorang lelaki yang lebih muda darinya.
“Mama? Kok udah pulang? Bukannya dua minggu lagi pulangnya?” tanya Lisa kebingungan, berganti menatap lelaki di sebelahnya tapi tidak menyapa.
“Eh, kenapa emangnya kalau Mama pulang duluan? Kamu gak seneng, ya?”
Lisa menelan ludah. “Enggak gitu juga, cuma kaget aja.”
“Oalah, omong-omong ini Mama bawain jodoh buat kamu. Namanya Rey, anaknya rekan bisnis Papa di Australia. Dia ini direktur di perusahaan Ayahnya lo. Hebat dan ganteng, kan?”
Rey langsung mengulurkan tangannya untuk mengajak Lisa berkenalan. “Rey.”
“Lisa.” Lisa menyalaminya.
Dilihat dari tampangnya, Rey mungkin lebih tua sekitar lima tahun.
Rina lalu berganti menatap pada Jonathan yang sedang duduk di sofa.
“Emm… dan ini siapa, ya? Lisa.”
Lisa menjawab. “Ah, dia—”
“Saya teman kuliahnya Lisa, Tante. Barusan ngembaliin barangnya yang ketinggalan di Jogja.”
“Oh, teman kuliahnya, toh.”
Jonathan mengangguk. “Iya, tante. Kalau gitu saya permisi dulu.” Jonathan beranjak dari sofa, lalu memandang Lisa sejenak. “Lisa, aku pulang dulu, ya.”
“Ah iya, makasih Jo.”
Begitu Jonathan pergi meninggalkan rumah, Lisa menarik lengan ibunya dan berbicara di tempat yang jauh dari Rey.
“Mama, cowok itu siapa? Kenapa Mama bawa ke sini?!” bisik Lisa.
“Itu jodoh yang Mama janjikan dulu.”
Dulu saat Lisa masih SMA, Rina pernah membicarakan hal ini dengan Lisa. Rina bilang dia ingin mencarikan jodoh untuk Lisa jika dia masih jomblo. Saat itu Lisa menganggap ibunya hanya bercanda, dan mengatakan iya iya saja.
“Itu kan waktu aku masih kelas 3 SMA! Kenapa Mama mendadak bawa cowok, sih?!”
“Ya kan kamu bilang kamu lagi gak pacaran sama siapa-siapa, jadi yaudah Mama ajak aja dia ke sini buat kenalan sama kamu.”
“Kenapa gak bilang ke aku dulu?!”
“Ya biar surprise. Lagian kalau Mama bilang dulu, kamu pasti gak bakal mau. Iya, kan?”
Lisa menampar wajahnya sendiri, menghela napas. Sekarang dia merasa tidak enak pada Jonathan, merasa telah berkhianat padanya.
Di lain sisi, dia juga tidak enak pada Rey jika mengabaikannya begitu saja.
“Aah, Mama jahat. Mama jahat!” Lisa pergi meninggalkan ibunya dan pergi menuju Rey.
“Eh?!!!” Ibunya kebingungan.
Lisa berusaha bersikap setenang mungkin saat berhadapan dengan Rey.
“Rey, kamu naik mobil kan ke sini sama Mama?” tanya Lisa.
“Iya, kenapa emangnya?”
“Jalan-jalan, yuk. Aku lagi pengen keluar nih.”
Rey berdiri dan mengeluarkan kunci mobilnya dari saku.
“Ayo, mau ke mana?”
“Ke mana aja, pokoknya jalan-jalan.”
“Oke deh.”
Lisa dan Rey pun pamitan pada Rina.
Rina memegangi pipinya, merasa telah berbuat salah pada Lisa.
Saat Lisa dan Rey keluar, Saga dan adik-adiknya baru pulang dari toko swalayan.
“Eh, Kak Lisa mau ke mana? Kenapa Kak Jo nya makin ganteng?” tanya Saga.
“Ini bukan Jo! Ini Rey! Udah, kalian masuk aja. Di dalem ada Mama. Kakak mau keluar dulu.” Lisa bergegas pergi.
“Oh iya, hati-hati di jalan, Kak!”
Mobil pun melaju, Lisa mengambil tempat duduk di depan tepat di sebelah pengemudi.
“Rey, kamu hafal Surabaya, gak?”
“Hafal lah, aku kan orang Surabaya.”
Lisa terkejut. “Oh gitu, yaudah main ke mana aja deh bebas. Yang penting jauh dari sini.”
Rey menuruti permintaan Lisa.
“Oke.”
Selama di perjalanan, mereka lebih banyak diamnya ketimbang mengobrol. Rey bukan tipe laki-laki seperti Jonathan yang pandai bicara, dia lebih sering diam dan hanya menjawab pertanyaan dari Lisa.
Namun, kali ini dia mencoba bertanya terlebih dahulu.
“Lisa, cowok tadi itu pacarmu, ya?”
Lisa terkejut. “Eh, kenapa kamu tau?”
Rey tersenyum. “Feeling aja sih, hahaha. Soalnya kamu keliatan gelisah waktu aku datang tadi.”
“Ah gitu, i-iya, dia sebenarnya mantan pacarku. Terus hari ini baru balikan lagi.” Lisa menjawab dengan sedikit tergagap.
Rey langsung tertawa.
“Hahaha, waduh, kalo gitu waktunya gak tepat banget, dong.”
“I-iya, makanya aku marah sama Mama.”
Lisa lalu bercerita tentang Mamanya yang dulu mengatakan akan membawakan Lisa jodoh saat dia masih SMA. Lisa bilang Mamanya bodoh karena menganggap jawaban Lisa saat itu serius. Apalagi dia tidak bilang-bilang dulu dan tiba-tiba bawa Rey. Lisa tidak marah atau menyalahkan Rey, dia hanya kesal dengan sikap Mamanya.
Rey tertawa-tawa saat mendengar cerita itu. Menurutnya Rina memang sudah berbuat salah dengan tiba-tiba mengajak dirinya tanpa bertanya pada Lisa terlebih dahulu. Soalnya Rey tahu, seorang anak tentu punya rahasia yang orang tuanya tidak tahu. Dalam kasus ini, Rina tidak tahu bahwa Lisa baru saja berpacaran dengan Jonathan. Rina bahkan tidak tahu bahwa Jonathan adalah mantan pacarnya.
“Hahaha, kamu tenang aja Lisa. Aku gak bakal maksa kamu, kok. Sejujurnya, waktu pertama ketemu tadi, aku emang langsung suka sama Lisa. Ternyata Lisa lebih cantik dari foto yang ditunjukkin sama Tante Rina. Tapi kalau Lisa udah punya pacar, yaudah nggak papa, gak usah khawatirin aku.”
Lisa hampir menangis saat mendengarnya. Dia bersyukur Rey adalah pria yang baik-baik.
“Makasih ya Rey, aku seneng banget dengernya. Seandainya gak ada Jonathan, aku pasti bakal mau kok sama kamu.”
Mendengar itu dari mulut Lisa yang dibarengi senyuman membuat hati Rey berdebar-debar. Selama hidupnya, Rey tidak pernah berpacaran karena terlalu berfokus pada belajar dan karir. Hari ini dia baru merasakan apa yang orang-orang sebut dengan cinta.
“Sayang sekali, ya. Hahaha.”
Rey membawa Lisa ke restoran karena Lisa bilang dia sedang lapar. Rey tahu, Lisa bukanlah pacarnya, bukan juga calon istrinya mengingat Lisa sendiri yang bilang bahwa dia sudah punya pacar. Tetapi, saat ini, Lisa adalah tanggung jawab Rey. Dia akan menjaganya sampai kembali pulang ke rumah.
“Makasih ya traktirannya, tapi makanannya kurang enak.” Lisa berkata jujur.
“Eh, masa? Menurutku itu lumayan enak loh.”
“Kamu gak pernah coba masakanku, sih. Masakanku tiga kali lebih enak dari yang tadi.”
“Eh, gitu ya.”
Padahal Rey yakin Lisa akan menyukai makanan di restoran itu, soalnya dia cukup sering pergi ke sana, bahkan dengan gadis-gadis yang pernah ayahnya pilihkan untuk menjadi istrinya. Baik dia atau para mantan calon istrinya, semua mengatakan enak. Hanya Lisa saja yang tidak berkata begitu.
“Aku pernah dijodohin, tiga kali, tapi gak ada satupun yang cocok. Mereka terlalu kaku, terlalu formal, kurang cocok sama aku.” Rey tiba-tiba bercerita.
“Eh gitu ya….”
“Mereka selalu setuju sama yang aku omongin, banyak basa-basinya, aku gak suka. Tapi, kamu beda sama mereka, Lisa. Kamu lebih natural.”
Lisa garuk-garuk kepala, merasa malu karena dipuji terus.
“Kamu bilang masakanmu tiga kali lebih enak, ya? Kapan-kapan, aku boleh nyoba?”
Lisa tersenyum. “Boleh.”
Setelah itu, mereka berdua pulang ke rumah. Lisa senang semua kesalahpahaman ini telah berakhir. Lisa senang Rey orang yang mudah diajak bicara. Dan Lisa pun sebenarnya menaruh sedikit rasa pada Rey. Dia tidak bohong saat mengatakan akan memilihnya jika dia tidak sedang bersama Jonathan.
***
Keesokan harinya, Lisa mengundang Rey dan Jonathan sekaligus ke rumahnya. Mereka berdua sedang duduk berhadapan di atas meja makan yang telah tersedia banyak masakan buatan Lisa. Rina juga duduk di sana bersama Lisa.
“Jadi, ada apa ini? Kenapa kamu ngumpulin kami di sini?” tanya Rina.
Lisa berdehem. “Aku ingin meluruskan sesuatu.” Lisa langsung menatap Rina dan Rey secara bergantian. “Mama, Rey, ini namanya Jonathan. Pacar aku, kita baru jadian kemarin.”
Rina terkaget. “Eh??? Kenapa kamu gak bilang-bilang sama Mama kalau kamu punya pacar?!”
“Kenapa Mama gak nanya?!”
Rina pun merasa bersalah. “Maafin Mama, ya.” Sekarang dia merasa bersalah telah membawa Rey saat mengetahui bahwa Lisa sudah punya lelaki pilihannya sendiri.
Rey mengajak Jonathan bersalaman. “Rey.”
“Jo.” Jonathan menyalaminya.
Rey melihat Jonathan sedang merasa gelisah sekaligus sebal, terlihat dari ekspresinya.
“Emm… Jo, tenang aja. Perjodohannya gak jadi. Lisa bilang dia lebih milih kamu daripada aku. Jadi, kalian boleh melanjutkan hubungan kalian, kok.” Rey berkata dengan begitu tenang, menunjukkan bahwa umurnya memang sudah dewasa.
Senyuman pun mengembang di wajah Jonathan. “O-oh, gi-gitu, ya. Ya, bagus deh. Bagus, bagus.”
Lisa menahan tawa, Jo terlihat salah tingkah.
Rina lalu menangkupkan kedua lengan pada Jonathan.
“Jo, maafin tante, ya. Tante gak tau kalau kamu itu pacarnya. Kamu gak usah khawatir, tante restuin hubungan kalian, kok. Sekali lagi maaf, ya.”
Sekarang malah Jo yang merasa tidak enak karena telah membuat calon mertuanya merendah seperti itu.
“E-enggak Tante, Tante nggak perlu minta maaf. Ini hanya sebuah kesalahpahaman aja.”
Rina lalu berganti menatap Rey.
“Rey, Tante juga minta maaf ya udah bawa kamu ke sini tanpa tahu kalau Lisa udah punya pacar. Maafin Tante karena perjodohannya gak jadi.”
Rey membalas dengan tenang. “Enggak papa, Tante. Aku malah seneng karena bisa ketemu Lisa langsung. Gak jadian juga, gak papa, aku senang udah kenal sama Lisa. Dia bener-bener gadis yang baik dan setia.”
Rina masih merasa tidak enak.
“Kalau gak keberatan, kamu bisa kok sama Gamel, tapi—”
“Mama, Gamel masih kecil!!!” Lisa berteriak.
“Iya, iya, Mama cuma bercanda!!!”
Mereka semua lalu tertawa bersama-sama.
“Silakan cicipi masakannya.” Lisa yang sudah memasakan makanan mempersilakan mereka untuk makan.
Saat Rey menyeruput kuah kari yang dimasak oleh Lisa, hatinya seketika hancur.
“Enak banget. Tiga kali lebih enak dari restoran tempat makan kita kemarin,” komentar Rey.
Lisa tersenyum lebar. “Bener, kan?!”
Rey mengangguk-angguk.
Rey patah hati hari ini, pertama kalinya seumur hidup. Dia benar-benar menyayangkan Lisa yang sudah lebih dulu bersama Jonathan. Dia sudah menyukai Lisa dari sejak pertama bertemu.
Lebih dari sekedar wajahnya yang cantik, yang membuat Rey tergila-gila pada Lisa adalah sifatnya yang jujur apa adanya. Masakannya juga enak.
Dibanding gadis-gadis berpendidikkan tinggi yang pernah dijodohkan dengannya, Rey merasa Lisa yang tidak punya gelar sarjana lebih spesial dari mereka. Lisa tidak hanya pintar dalam pendidikkan, tapi dia juga pintar menyenangkan orang lain.
Rey patah hati, tapi dia tidak bisa merebut Lisa dari Jonathan. Dia bukan tipe yang merebut perempuan dari laki-laki lain. Lagipula, Rey pun tahu, Lisa tidak akan suka jika dia melakukan hal tersebut.
Dibanding menyesal karena melihat Lisa sudah lebih dulu diambil orang lain, dia lebih memilih bersyukur karena bisa mengenalnya.
Rey lantas menatap Jonathan dan menepuk pundaknya.
“Jaga Lisa baik-baik, ya.”