Jonathan datang setiap hari ke rumah Lisa meski Lisa tidak pernah membukakkan pintu gerbang untuknya. Melihat pemandangan ini setiap hari membuat Saga merasa tidak enak pada Jonathan. Saga bisa melihat bahwa laki-laki itu benar-benar menyukai kakak perempuannya.
“Kenapa gak dibiarin masuk aja, Kak? Kasian kan tiap hari cuma nongol depan gerbang.” Saga berbicara pada Lisa setelah dia baru saja mengusir Jonathan dari depan rumahnya.
“Biarin aja, dia cuma pengganggu.”
“Kalau pengganggu kenapa Kakak temuin dia tiap hari? Kan bisa dibiarin aja, nanti juga pulang sendiri.”
Lisa memutar bola matanya. “Kakak gak enak kalau gak temuin dia.”
“Lah, terus kenapa gak sekalian diajak masuk aja?”
“Itu beda lagi! Udahlah, biarin aja. Kamu jangan mikirin soal Jonathan.”
Saga menghela napas. “Kalau Kakak gitu terus, nanti Jonathan capek loh. Dia mungkin gak bakal mau nemuin Kakak lagi, dan pergi mengejar gadis yang lain.”
“Ya gapapa, bagus kalau itu sampai terjadi.” Setelah mengatakan itu, Lisa pergi meninggalkan Saga.
Seperti yang dikatakan Saga, keesokan harinya Jonathan tidak datang. Lisa yang berkata tidak mengharapkan kedatangannya malah terlihat resah. Dia berulang kali menengok ke arah gerbang lewat jendela rumahnya.
“Kakak nungguin Jonathan, ya?”
Lisa terkejut. “E-enggak, kok. Iya sih, kakak nunggu dia. Tapi Kakak nunggu dia agar bisa Kakak usir secepatnya, biar Kakak bisa tenang.”
“Oh, gitu.”
Keesokan harinya dan selama tiga hari berikutnya Jonathan tidak kunjung datang juga. Saga dapat melihat raut wajah Lisa yang gelisah. Sama seperti hari-hari sebelumnya, Lisa berulang kali mengecek ponselnya serta bolak-balik menengok gerbang lewat jendela.
“Kakak kangen ya sama Jonathan?” goda Saga.
Lisa tersentak. “E-enggak! Kamu ngapain sih ikut campur urusan Kakak?!”
“Aku cuma nanya aja, Kak. Jangan sampe marah gitu dong.”
“Oh iya, maaf-maaf, hehehe.” Raut wajahnya kembali murung di sofa.
Saga lalu duduk di sebelahnya.
“Kak, Kakak ngehindarin Jonathan karena pengen fokus ngurus rumah tangga, ya?”
“Kenapa kamu tau? Eh, maksudnya, enggak, kok!” Lisa kelepasan.
Saga tersenyum. “Udah lah, Kak, ngaku aja. Aku ini adiknya, Kak Lisa. Aku tau betul kalau Kak Lisa lagi boong. Kakak sebenernya masih suka kan sama Jonathan?”
Setelah didesak seperti itu, Lisa pun mulai bercerita. Kebetulan Gamel dan Melky sedang tidak ada di rumah, jadi Lisa bisa leluasa bercerita.
“Kamu emang udah dewasa ya, Sag. Sampai bisa tahu kalau kakak lagi bohong. Iya, Kakak masih suka sama Jonathan. Tapi Kakak gak mau pacaran lagi sama dia. Kakak takut lepas tanggung jawab dari Gamel sama Melky. Kalau Kakak pacaran sama Jonathan, Kakak takut jadi lebih utamain dia ketimbang Gamel sama Melky. Kakak gak mau.”
Saga mengerti dengan apa yang dia rasakan. Saga sendiri pernah melarang Argi untuk berpacaran karena tidak ingin temannya itu lebih mengutamakan pacarnya ketimbang dirinya. Namun sekarang dia paham bagaimana cara mengurusnya.
“Kakak balikan lagi aja sama Jonathan, terus jelasin sama dia kalau Kakak lebih utamain buat ngurus Gamel dan Melky. Aku yakin, Jonathan bakal ngerti, kok. Dia mungkin malah bakal bantuin Kakak buat ngurus Gamel dan Melky.”
Saran dari Saga dipikirkan matang-matang oleh Lisa. Sebenarnya dari dulu keinginan itu memang ada, tapi dia terlalu takut untuk mencoba.
“Kakak juga butuh kebahagiaan Kakak sendiri. Aku yakin, Gamel sama Melky bakal tambah bahagia loh kalau lihat Kak Lisa bahagia.” Saga menambahkan.
Lisa benar-benar takjub melihat Saga yang sekarang. Rasanya seperti banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Saga yang dulu tidaklah seperti ini, dia benar-benar acuh dan memikirkan segala hal berdasarkan logika semata, tanpa ada perasaan.
Lisa merasa kuliahnya Saga di Bandung telah mengubah kepribadiannya menjadi lebih dewasa.
“Yaudah, oke. Nanti Kakak ajak Jonathan balikan.”
Saga tersenyum. “Seriusan?”
“Iya, itu pun kalau dia dateng lagi ke sini. Kalau enggak yaudah.”
Seolah terikat benang takdir, keesokan harinya Jonathan kembali berkunjung ke rumah keluarga Harvent, menaiki mobil kijang hitamnya seperti biasa.
“Mau apa ke sini?” tanya Lisa, jutek.
“Maaf sebelumnya karena gak ke sini selama beberapa hari, aku gak enak badan.”
“Oh, yaudah, kalo gitu ayo masuk.” Lisa membukakkan pintu gerbang untuknya.
Jonathan terkaget. “Eh eh eh, ini seriusan?! Aku boleh masuk ke rumah kamu?”
“Cepetan masuk, kalau nggak mau aku tutup lagi.”
“Oke, oke, aku masuk sekarang!” Jonathan berlari menuju mobil kijangnya dan segera memarkirkan mobilnya di garasi rumah Lisa.
Lisa mengajaknya masuk, dan menyuruhnya duduk di sofa.
“Jadi ini rumahnya Lisa, bagus banget.” Jonathan memberi pujian, tapi Lisa tidak menanggapi. Dia beranjak pergi ke dapur untuk menyajikan sesuatu.
Tak lama, Gamel dan Melky datang menghampirinya.
“Eh, pacarnya Kak Lisa, ya?” Melky menunjuk Jonathan.
“Bukan Melky, tapi mantan pacarnya.” Gamel membenarkan.
“Nah iya, itu.”
Jonathan tersenyum. “Jangan dibilang gitu ah, anggap aja aku calon pacarnya Lisa. Soalnya kita bakal pacaran lagi.”
Gamel dan Melky terkejut. “Eh, beneran?!”
Jonathan mengangguk-angguk.
Mereka bertiga lalu mengobrol bersama-sama. Jonathan orang yang sangat ramah dan pandai berbicara, jadi sangat nyambung saat mengobrol dengan Melky dan Gamel. Meski mereka baru bertemu dua kali, tapi mereka langsung akrab.
“Kak Jo, suka apanya dari Kak Lisa?” tanya Gamel.
Jonathan menaruh telunjuknya di pipi. “Hmm, apa ya. Suka semuanya sih.”
Lisa yang sedang menguping pembicaraan itu langsung berwajah merah. Ice tea yang hendak dia suguhkan masih ada di atas nampan.
“Spesifiknya dong Kak Jo,” pinta Melky.
“Cantik, baik, lucu, perhatian, cantik, pinter, ramah, cantik, langsing, cantik, cantik, cantik.” Jonathan menjawab.
“Kok cantiknya disebut berulang kali?”
“Ya, karena Lisa emang cantik banget.”
Wajah Lisa kembali memerah, Jonathan benar-benar kurang ajar padanya.
“Sama aku cantikan siapa?” tanya Gamel.
“Cantikan Lisa dong.”
Mendengar jawaban itu Gamel langsung manyun.
Di saat itu, datanglah Lisa sambil berdehem membawa nampan berisi empat gelas ice tea.
“Kalian lagi ngomongin apa sih? Kayaknya seru banget.” Lisa pura-pura tidak tahu.
“Kata Kak Jo, Kak Lisa cantik banget.” Melky menjawab dengan polos.
Wajah Lisa kembali memerah.
“Ah, masa sih.”
“Iya, bahkan diulang-ulang terus.”
“Oh, gitu.”
Lisa salah tingkah, dia duduk tapi terlihat sangat kaku. Jonathan menahan tawa melihatnya.
Tak seberapa lama, Saga datang.
“Melky, Gamel, mau ikut Kakak ke toko swalayan, gak?”
Wajah Gamel dan Melky mendadak sumringah.
“Ikut, ikut!”
“Ayok, ayok!”
Gamel dan Melky selalu sumringah setiap kali diajak keluar baik oleh Saga atau Lisa. Soalnya, mereka berdua dilarang pergi keluar jika tidak ada pengawasan dari saudaranya.
“Yaudah, kalian berdua jaga rumah, ya.” Saga lalu mengedipkan mata pada Lisa.
Lisa pun tersadar bahwa ini adalah akal-akalannya agar dia bisa berduaan dengan Jonathan.
“Kami pergi dulu, Kak!”
Sekarang tinggal ada Jonathan dan Lisa saja berduaan di rumah. Suasana sempat hening sejenak. Lisa masih bingung harus bicara apa pada Jonathan. Sementara Jonathan sengaja diam karena ingin mendengar Lisa berbicara duluan.
“A-anu… maafin aku ya, selama ini terus ngehindarin kamu.”
“Kenapa tiba-tiba ngomong itu?”
“Ya, nggak papa, aku cuma mau minta maaf aja! Aku kasihan sama kamu soalnya.”
Jonathan tersenyum. “Oh, gitu ya. Yaudah iya, aku maafin.”
Tubuh Lisa tidak bisa berhenti bergetar. Dia benar-benar gugup saat ini. Sudah lama dia tidak berduaan dengan Jonathan. Dulu pembicaraan mereka lebih mengalir, tapi hari ini agak tersendat. Hanya Lisa saja.
“Ka-kamu… beneran masih suka sama aku?”
“Iya, kamu juga masih suka sama aku, kan?” Jonathan bertanya.
“Enggak kok eh, kata siapa? Kalau aku masih suka sama kamu ngapain aku putusin kamu?!” Lisa mencoba berbohong, terlalu malu mengakui kenyataannya.
“Oh gitu, yah sayang sekali.” Jonathan terlihat kecewa.
“Ada sih, hanya sedikit tapi, sedikit banget.” Lisa meliriknya sedikit.
“Apa itu?”
“Ya itu.”
“Apa?”
“Ya itu.”
“Apa?”
“Perasaan sukaku ke kamu.”
Jonathan tersenyum. “Baguslah, aku pikir kamu udah beneran gak ada perasaan lagi ke aku. Walau perasaanmu tersisa dikit, tapi aku seneng.”
Mereka kembali terdiam.
Lisa kembali membuka suara.
“Kamu beneran belum punya pacar lagi?”
Jonathan terlonjak. “Eh, kenapa? Kamu mau ngajak aku pacaran? Ayo!”
“Enggak, enggak! Aku gak bilang apa-apa! Aku cuma nanya aja!” Lisa dengan cepat membenarkan.
“Oh, kirain.”
Kembali hening.
“Kamu kenapa masih suka sama aku? Aku kan udah jahat sama kamu. Tiba-tiba mutusin terus kabur gitu aja. Aku juga ngehindarin kamu terus pas kita ketemu lagi.”
Jonathan menghela napas, kemudian tersenyum. “Ya, mau gimana lagi, aku udah suka banget sama kamu soalnya. Mau kamu bersikap kayak gimana pun ke aku, aku bakal tetep suka. Aku sempet mikir gapapa gak ngejar kamu lagi kalau itu bisa bikin kamu bahagia. Tapi ternyata gak bisa, aku maunya kita kembali bersama. Aku seneng liat kamu bahagia, tapi lebih seneng lagi kalau alasan bahagianya karena aku.” Jonathan mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya.
Wajah Lisa memerah. “Oh, gitu ya.”
“Iya.”
“Yaudah.”
“Yaudah apa?”
“Kalau kamu maunya gitu, aku gak keberatan kok.”
Jantung Jonathan berdebar-debar. “Ma-maksudnya gimana? Jelasin sejelas-jelasnya!”
“Kamu mau aku bahagia dengan kamu sebagai alasannya, kan? Yaudah, aku juga sama, kok. Aku mau kamu bahagia dengan aku sebagai alasannya. Karena itu, aku gak keberatan kok kalau kita kembali bersama lagi.” Perkataan itu meluncur begitu saja dari mulut Lisa. Kali ini Jonathan yang tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya.
“Se-seriusan?”
“Kenapa jadi ragu-ragu?”
“Ah, iya iya, yaudah. Kamu mau kita pacaran lagi? Pacaran dengan tujuan menikah setelah waktunya tiba. Gimana?” Jonathan benar-benar gugup, sampai kata-katanya belepotan.
“Kamu nanya apa minta?”
“Ngajak.”
Lisa tersipu. “Ya-yaudah, aku gak keberatan, kok. Tapi, untuk sekarang aku gak bisa utamain kamu. Aku harus jaga Gamel sama Melky soalnya. Kamu gak keberatan?”
Lisa lalu sekalian bercerita pada Jonathan tentang alasannya keluar dari kuliah.
“Iya, aku gak keberatan, kok. Malah seneng sama keputusan kamu. Aku juga sama, aku gak bisa utamain kamu dulu, soalnya aku harus fokus kuliah sampai lulus dan dapat pekerjaan. Kita berdua sama, kok.”
Lisa tersenyum. “Bagus kalau gitu.”
“Jadi ini kita pacaran lagi?” Jonathan memastikan.
Lisa pergi meninggalkan ruangan sambil tersenyum. “Pikir aja sendiri.”
“Eh, yang jelas dong!”
“Nomor WA kamu udah gak aku blok lagi, tanya aja lewat sana.”
“Asiiik!!!”
Hari itu, Lisa dan Jonathan pun kembali menjalin hubungan. Baik Lisa maupun Jonathan, keduanya telah mengungkapkan perasannya masing-masing. Keduanya sama-sama mengaku bahwa keduanya masih saling menyukai.
Namun, belum sampai satu jam hubungan mereka kembali berjalan, masalah baru muncul.
“Mama pulang!”