Siang hari, Lisa pergi ke toko swalayan bersama para saudaranya untuk membeli keperluan rumah tangga. Waktu-waktu seperti ini adalah hal yang sangat disukai oleh Lisa, karena dirinya bisa memilih sendiri bahan-bahan masakan yang akan dia buat nantinya.
Saat melihat tanda diskon di lapak penjualan daging ayam, Lisa langsung pergi ke sana. Saga mengikutinya sambil mendorong troli.
“Kenapa beli yang diskon, Kak? Yang lebih mahal dan bagus kan banyak.”
Lisa langsung menoleh padanya. “Enggak, jangan mikir gitu, Saga. Kita emang anak orang kaya, tapi yang namanya diskon tetaplah diskon. Sisa uang belanjanya bisa Kakak simpan untuk keperluan yang lain!”
Saga mengerutkan kening. “Kalau habis kan tinggal minta lagi. Lagian emang uang belanjanya pernah habis?”
“Belum sih, ayah sama ibu kalau ngirim suka kebanyakan. Tapi tetep kita gak boleh bersikap gitu, jangan terlalu berfoya-foya. Hemat pangkal kaya!”
Saga menghela napas. “Yaudah, terserah Kak Lisa aja.”
Banyak keperluan yang mereka beli seperti minyak, margarin, sayuran, buah-buahan, minuman bervitamin, dll. Gamel dan Melky yang ikut berbelanja juga banyak membeli snack chiki serta pudding dan minuman dingin. Layaknya anak-anak biasa, Gamel dan Melky tidak melihat label harga pada setiap makanan yang hendak mereka beli. Dan Lisa pun tidak pernah mempermasalahkannya.
Ketika sedang memilah-milih ikan salmon yang hendak dibeli, seorang lelaki tiba-tiba menyapa Lisa. Membuat dia dan Saga menoleh bersamaan.
“Lisa? Lisa! Akhirnya kita ketemu lagi!” Laki-laki itu tampak antusias, berbeda dengan Lisa yang langsung berwajah pucat.
Saga menoleh pada Lisa. “Dia siapa, Kak?”
Sebelum Lisa menjawab, lelaki di depannya segera memperkenalkan diri. “Ah, aku Jonathan. Temen—maksudnya pacarnya Lisa. Kamu Saga kan, ya?”
Saga terkejut atas dua hal sekaligus. Pertama mendengar bahwa dia pacar kakaknya, kedua bahwa dia mengenal dirinya.
“Iya, aku Saga.” Saga menganggukkan kepalanya.
“Kita udah putus Jonathan, jangan ngaku-ngaku terus.” Lisa akhirnya bersuara.
“Tapi aku gak mau, Lisa. Aku sayang banget sama kamu. Kamu kenapa sih kok hindarin aku? Mana keluar dari kampus lagi.”
Lisa terdiam. “I-itu….”
Saga tidak melihat tanda-tanda keburukan pada Jonathan. Lelaki di depannya terlihat begitu tampan, memiliki kulit cerah serta tinggi yang semampai. Sikap serta tutur katanya juga sopan meski terdengar agak memaksa.
“Kalau ada masalah bilang aja sama aku, jangan dipendem-pendem. Aku siap bantu, kok. Kamu jangan dingin gitu sama aku.”
Lisa berdecak. Dia lantas menatap mata Jonathan. “Aku udah ninggalin kamu lebih dari setaun. Kamu kok gak capek-capek sih ngejar aku?”
“Ya karena aku suka sama kamu.” Jonathan menjawab singkat.
“Kamu suka sama hartaku.”
Jonathan menggeleng. “Enggak, yang aku suka itu kamu. Kalau yang kucari uang, aku gak bakal pacarin kamu, tapi pacarin Bapakmu.”
Saga langsung tertawa, tapi ditahan-tahan. Tak disangka Jonathan ini ternyata cukup lucu.
“Kita udah pisah lebih dari setaun, kamu pasti udah punya pacar baru.”
“Enggak, aku sama sekali gak tertarik sama cewek lain. Aku maunya cuma sama kamu Lisa.”
Saga tidak ingin masuk ke dalam pembicaraan mereka, dia ingin pergi meninggalkan mereka berdua. Namun, sedari tadi Lisa mencengkram kuat tangan Saga, seolah tidak ingin dia pergi meninggalkan dirinya.
“Po-pokoknya, aku gak mau balikan lagi sama kamu. Aku sibuk, jangan cari aku. Ayo Saga, kita pergi!” Lisa menarik paksa lengan Saga.
Saga dan Lisa pun pergi meninggalkan Jonathan, dan laki-laki itu tidak mengejar mereka berdua.
Saat di perjalanan pulang, Saga bertanya pada Lisa.
“Yang tadi itu beneran pacar Kak Lisa?”
Suara Saga terlalu keras, sampai terdengar oleh Gamel dan Melky yang duduk di kursi belakang mobil.
“Pacar Kak Lisa?!”
“Kak Lisa punya pacar?!”
Dengan cepat Lisa membenarkan. “Mantan pacar. Bukan pacar.”
“Oh.”
Tanpa diminta, Lisa lalu bercerita.
“Dulu dia temen sekampus Kakak, dia juga sama orang Surabaya, makanya tadi bisa ketemu. Dia sebenernya baik, dan emang tulus mencintai Kakak. Tapi Kakak gak bisa pacaran sama dia sekarang, makanya Kakak putusin.”
“Kenapa sekarang gak bisa? Memangnya ada apa Kak?” tanya Gamel.
“Ya gak bisa pokoknya, Kakak lagi sibuk sama sesuatu.”
“Sibuk apa?” Kali ini Melky yang bertanya.
“Rahasia.”
Alasan mengapa Lisa memutuskan hubungan dirinya dengan Jonathan adalah karena Lisa ingin fokus mengurus rumah tangga. Jika dia pacaran dengan Jonathan, dia takut waktunya di rumah akan terganggu sehingga Gamel dan Melky nantinya tidak terurus. Oleh karena itu, Lisa membuang ego pribadinya, dan lebih memilih menyendiri agar bisa fokus mengurus adik-adiknya.
***
Keesokan harinya, setelah Lisa bertemu Jonathan di toko swalayan, Jonathan pergi berkunjung ke rumah Lisa.
Lisa tentu kaget mengapa dia bisa tahu lokasi rumahnya.
“Kamu ngapain ke sini?!”
“Mau main lah, aku kangen sama kamu. Udah lama kita gak ngobrol.”
“Kamu tau darimana rumahku ini?!”
“Kemarin aku ngikutin kamu diem-diem pas baru pulang dari toko swalayan, jadi tau deh.” Jonathan berkata jujur.
Lisa menepuk wajahnya sendiri. “Kamu kok kayak penguntit sih.”
“Aku bukan penguntit, aku cuma ingin ketemu kamu.”
“Iya, tapi….”
“Kamu kenapa ngehindarin aku? Aku salah apa? Apa jangan-jangan ada laki-laki lain yang kamu suka?”
Dengan refleks Lisa menjawab. “Enggak kok, aku lagi gak suka sama siapa-siapa.”
Jonathan tersenyum. “Kalau gitu masih suka sama aku dong?”
“Enggak juga!”
Jonathan tertawa-tawa.
“Udah ah, jangan ganggu aku lagi. Pulang sana, cepet!”
Jonathan pun kembali memasuki mobilnya. “Oke deh, besok aku dateng lagi. Buat hari ini liat wajah sama denger suara kamu aja udah cukup. Bye-bye Lisa.”
Mobil Jonathan pun pergi meninggalkan rumahnya.
Lisa tahu, Jonathan memang tulus mencintainya, bukan ingin mengincar hartanya. Soalnya, Jonathan sendiri juga memang berasal dari keluarga terpandang, meski tidak lebih tinggi kedudukannya dibanding keluarga Harvent.
Jonathan juga tipe laki-laki yang setia dan bertanggung jawab. Selama berpacaran dengan Jonathan, Lisa tidak pernah melihat dia sekalipun menunjukkan ketertarikan pada perempuan lain meski ada yang lebih cantik dari dirinya. Jonathan selalu berfokus pada Lisa, selalu berusaha untuk membuat dia senang.
Lisa memang merasa berat melepas Jonathan, tapi sekali lagi, dia lebih ingin mengutamakan keluarga daripada ego pribadinya.
***
Keesokan harinya, Jonathan datang lagi, persis seperti yang dia janjikan.
“Kamu ngapain ke sini lagi?”
“Kemarin kan aku udah bilang bakal ke sini lagi.”
“Mau ngapain? Aku kan gak bolehin kamu masuk.”
“Ya nggak papa, aku cuma mau liat wajah kamu aja.”
“Lewat foto aja kan bisa.”
“Mau denger suaranya juga.”
“Ini udah denger suaranya, sekarang cepet pulang!”
Lisa mengusir Jonathan bukan karena dia membencinya, tapi karena tidak ingin Jonathan menyadari kalau dia juga masih menyukai dirinya.
“Bentar lagi, semenit lagi deh. Suara dah wajahmu sekarang jadi dopamin lagi buat aku.”
Wajah Lisa memerah. “Ah, terserah deh. Aku aja yang pergi. Kamu terserah mau diem di situ juga!”
Lisa masuk lagi ke rumah, meninggalkan Jonathan di luar gerbang.
Jonathan tersenyum, lalu kembali masuk ke mobilnya.
“Besok aku dateng lagi.”