29

1675 Kata
Pagi ini, Saga bermain-main dengan anjing kesayangannya, Catty. Entah apa yang membuat Saga memberi nama anjingnya dengan nama yang lebih mirip dengan nama kucing itu, tapi Saga benar-benar menyayanginya. “Kak Saga sayang banget ya sama Catty.” Gamel berkomentar saat melihat Saga bermain dengan anjing kesayangannya. “Iya, Catty soalnya setia banget orangnya, eh anjingnya. Beda sama kebanyakan temen Kakak waktu SMP dan SMA.” Saga membalas sembari mengelus-elus kulitnya yang lembut. Melihat Saga yang menikmati mengelus-elus kulit lembut Catty, Gamel juga ikut mengelus. Catty adalah ras anjing Golden yang sekarang berusia sekitar empat tahun. Anjing itu sudah hidup bersama Saga ketika dia masih bayi. Saga menemukannya di dalam kardus di depan pekarangan rumahnya. Sejak saat itu, Saga yang tidak punya kegemaran selain bermain game mulai punya hobi baru. Dia merawat Catty sepenuh hati. Mengajaknya bermain, memberinya makan, dan tentu saja memberinya nama. Pada awalnya orang tua Saga melarangnya untuk membawa Catty ke rumah. Bagaimana tidak? Saat itu kondisi Catty benar-benar kotor, tampak terlihat seperti anjing kampung yang tidak terurus. Kulitnya penuh dengan tanah. Baik ayah dan ibu Saga tidak ada yang mau anjing itu untuk tinggal di rumahnya. Mereka bilang, lebih baik Saga membeli anjing baru saja yang lebih mahal. Namun tentu, Saga menolak. Saga hanya ingin merawat Catty, bukan anjing ras mahal manapun. Saat itu pun dengan cepat dia memandikan Catty sebisanya sampai kulit anjing itu terlihat lebih bersih. Melihat Saga yang begitu bersungguh-sungguh, ayah dan ibu Saga pun luluh. Keduanya akhirnya memperbolehkan Saga untuk merawat anjingnya. “Selama Kakak kuliah di Bandung Catty pernah sakit, gak?” tanya Saga pada Gamel. “Enggak, Kak. Catty selalu sehat, aktif bergerak, dan makannya juga bagus. Dokter Risto juga rajin datang ke sini buat periksa kesehatannya Catty,” jawab Gamel. Dokter Risto adalah dokter hewan pribadi untuk Catty. Saga sendiri yang menyewanya. Tapi kalau sudah lulus nanti, Saga lah yang akan menjadi dokter pribadi untuknya. Saga menoleh pada Gamel dan mengelus-elus kepalanya. “Makasih ya Gamel udah jagain Catty dengan baik.” “Iya, sama-sama Kak.” Setelah bermain-main dengan Catty, keduanya kembali ke rumah. Kebetulan waktu sekolah juga sedang libur, jadi semua anggota keluarga ada di rumah. Mereka semua berkumpul di ruang keluarga menonton televisi. “Kak Saga, Kak Saga udah punya pacar belum?” tanya Melky tiba-tiba. Saga tentu terkaget. Adiknya yang baru duduk di kelas 7 sudah menanyakan hal itu. “Belum lah, Kakak kan fokus belajar. Nanti kalau udah lulus baru Kakak cari pacar.” Saga menjawab sesuai fakta. “Bilang aja gak laku.” Melky mengejek. Mendengar itu, Saga langsung menoyor kepala adik laki-lakinya. “Ahahah, becanda-becanda Kak, sakit!!!” Gamel dan Lisa hanya tertawa saja melihatnya. “Melky minggu kemarin baru aja ditembak cewek, Kak. Makanya dia nanya gitu sama Kakak.” Gamel memberi informasi. Saga langsung menatap adik laki-lakinya. “Oh gitu, terus gimana? Kamu terima gak?” Melky menggeleng. “Enggak, Kak.” “Kamu ngomongnya gimana ke dia waktu nolak?” tanya Lisa. “Aku bilangnya: Maaf, aku gak bisa, soalnya kamu terlalu jelek buat aku.” Melky menjawab dengan polos. Saga langsung tertawa saat mendengarnya. Setelah berhenti tertawa, Saga menatap serius pada Melky. “Melky, kamu gak boleh ngomong gitu lagi ya kalau nolak cewek. Meskipun dia jelek, kamu gak boleh bilang langsung di depannya. Bilang aja gak bisa pacaran.” Melky mengerutkan kening. “Kan dulu Kakak yang ngajarin. Katanya kalau mau nolak cewek, bilang aja dia terlalu jelek buat aku.” Saga pun teringat. Dulu dia orangnya memang seperti itu, tidak pernah peduli pada perasaan perempuan. Namun, setelah mengenal Ayano sifatnya mulai berubah. “Iya, dulu Kakak emang pernah bilang begitu. Tapi lain kali jangan, ya. Kalau kamu mau nolak lagi bilang aja kalau kamu lagi gak mau pacaran.” Melky tersenyum. “Oh, oke kalau begitu, Kak!” *** Saga merasa senang bisa berkumpul lagi bersama keluarganya. Melihat Melky bermain game online, melihat Gamel menonton film Harry Potter, dan melihat Lisa merajut pakaian, adalah kebahagiaan yang sempurna untuknya. Di tahun ketiga masa SMA, Saga sempat pergi dari rumah dan pergi menyewa kontrakan untuk ditinggalinya sendirian. Tidak ada konflik atau masalah apapun dengan keluarganya, Saga hanya ingin mencoba hidup sendirian seperti yang Argi lakukan. Orang tua Saga tidak pernah melarang apapun yang dilakukannya selama itu tidak mengarah pada hal-hal negatif seperti narkoba, tawuran, atau judi. Apapun yang ingin Saga lakukan, kedua orang tuanya selalu mendukungnya sampai-sampai seperti tidak peduli sama sekali. Mereka hanya akan memberi Saga uang sebagai bentuk kepedulian. Hampir setahun menghabiskan waktu di kontrakkan di akhir masa SMA, dan dilanjutkan enam bulan kuliah di Bandung membuat Saga hampir melupakan rasanya suasana rumah. Karena itulah, hari ini dia terlihat benar-benar nyaman saat berada di rumah. “Makan malam siap, ayo makan dulu.” Seperti seorang ibu, Lisa menggiring adik-adiknya untuk segera pergi menuju meja makan. “Bentar Kak, lagi nanggung nih.” Melky masih asik dengan gadgetnya. “Iya, bentar kak, bentar lagi filmya selesai.” Gamel terlihat geregetan. Pada akhirnya, Saga yang merapat ke meja makan duluan. Dia duduk bersama Lisa menunggu Melky dan Gamel menyelesaikan urusannya masing-masing. “Kak Lisa makin jago aja ya masaknya,” puji Saga setelah mencicipi sedikit kuah kare ayam yang terhidang di meja. “Iya dong, Kakak kan berlatih tiap hari, hehe.” Semenjak keluar dari kuliah dan memutuskan untuk mengurus rumah tangga, Lisa memang menjadi handal dalam memasak. Dia bersungguh-sungguh dalam bidang ini. Dibanding ibunya yang sibuk, Lisa lebih ahli dalam mengurus rumah tangga. “Kalau udah nikah Kak Lisa pasti jadi ibu rumah tangga yang baik.” Saga memujinya lagi. Lisa langsung mendorong bahu Saga. “Ah, kamu bisa aja. Masih lama lah. Kakak kan masih 21 umurnya.” Saga dan Lisa terpaut dua tahun, lebih tepatnya dua tahun setengah. Saga lahir di bulan April sementara Lisa lahir di bulan September. Saat Lisa menginjak kelas 12, Saga sedang berada di bangku kelas 10. Jarak umurnya terbilang dekat, jadi keduanya bisa cukup akrab. “Tapi Kakak gak nyesel keluar dari kuliah? UGM itu bagus banget, loh. Banyak yang mau ke sana tapi gak keterima.” UGM atau Universitas Gadjah Mada adalah salah satu universitas terbaik di Indonesia. Dulu Lisa diterima di sana sebagai mahasiswa jurusan Teknis Industri, salah satu jurusan paling sulit untuk dimasuki. “Ya mau gimana lagi, Kakak kasian sama Gamel sama Melky soalnya. Ibu sama Ayah jarang di rumah. Kamu malah kabur ke kontrakkan. Kakak gak mau Gamel sama Melky cuma diurus sama Bi Sumi. Kasian mereka gak tau anggota keluarganya sendiri.” Saga mengangguk-angguk. “Iya sih. Kak Ronal sibuk main sepak bola di Jepang, Kak Alvaro udah berkeluarga di Australia, Kak Bella jadi guru di Jakarta, Kak Kai juga sibuk di rumah sakit. Ibu sama Ayah juga pulangnya sebulan sekali.” Saga membicarakan Kakak-kakaknya. “Makanya kan, semuanya sibuk sama urusan masing-masing. Kakak gak mau ninggalin mereka berdua. Lagian, ibu sama ayah juga gak peduli aku kuliah atau gak kuliah. Jadi yaudah, aku di rumah aja.” Ada perasaan sedih dan senang yang dirasakan oleh Saga. Dia sedih karena Lisa harus putus kuliah demi keluarganya sendiri, tapi dia juga senang karena Lisa orangnya seperti itu. Lebih mengutamakan keluarga dibanding apapun. “Tapi kamu gak boleh kayak Kakak, ya. Kamu harus tamat kuliahnya. Gamel sama Melky biar Kakak aja yang urus.” Saga tersenyum. “Iya, Kak.” Setelah pembicaraan itu selesai, Gamel dan Melky bergabung dalam untuk makan malam bersama mereka. “Kak Lisa sama Kak Saga lagi ngobrolin apa?” tanya Melky yang sudah duduk di mejanya. Lisa dan Saga tentu tidak menjawab yang sejujurnya, karena itu mungkin akan membuat mereka merasa khawatir meskipun sebenarnya mereka pun sudah tahu alasannya. “Ngobrolin pacarnya Kak Saga,” ucap Lisa. Melky dan gamel terkaget. “Pacarnya Kak Saga?!” “Pacarnya yang ke-17?” “Eh, aku punya pacar?” Saga juga terkaget. Lisa tertawa melihat reaksi mereka bertiga, terutama pada Saga yang malah ikut-ikutan terkaget. “Enggak-enggak, bukan apa-apa, kok. Ayo disantap aja makan malamnya, cepetan keburu dingin.” “Iya, Kak.” *** Malamnya, sebelum Saga tidur, Argi menelpon. “Halo Sag, gimana keadaan di sana? Baik-baik aja.” “Iya, baik-baik aja, kok. Kenapa tiba-tiba nelpon? Lu kangen sama gua? Baru juga dua hari.” “Enggak, gua gak kangen sama lu. Gua kangennya sama Kak Lisa, ahahaha.” “Elah, udah nyerah aja, Kak Lisa sukanya sama yang lebih tua dari dia.” “Elah, bercanda doang kali. Kak Lisa itu udah gua anggap sebagai Kakak sendiri, gak mungkinlah gua pacaran sama dia.” “Apaan, dia itu Kakak gua anjir. Jangan rebut lah.” “Ahahaha, overprotective banget sih lu.” “Iya lah, dia itu Kakak gua yang paling baik.” “Iya, gua tau.” Meski sama-sama laki-laki, Argi dan Saga tidak ragu untuk saling bertelpon. Meski sering dibilang homo karena terlalu dekat, mereka tidak peduli. Mereka hanya terlalu cocok sehingga banyak hal yang bisa mereka obrolkan. “Ini si Ranti parah banget anjir, dia mendalami peran banget. Chat gua hampir tiap hari. Padahal udah gua bilang jangan ganggu.” Saga tertawa. “Ahahaha, mungkin dia suka beneran sama lu. Hayo lo gimana?” “Gak mungkin lah, gua kan udah bilang ke dia buat jangan jatuh cinta ke gua. Lagian chat dia bukan tentang cinta-cintaan. Dia lagi ngedoktrin gua biar jadi penyuka anime kayak dia.” Saga tertawa lagi. “Yaudah, gak usah dibales aja, kalau perlu blok.” “Enggak ah, gua takut.” “Apa? Seorang Argi takut sama cewek? “Entahlah, dia punya aura yang aneh. Gua gak berani macam-macam. Lagian, gua udah nyoba satu anime yang disaranin sama dia. Seru juga sih. Terus gua minta rekomendasi lagi. Habis itulah dia mulai sering chat-chat gua tentang anime. Gila sih, dia freak banget.” “Oh, yaudah, turutin aja siapa tau cocok hobinya sama lu.” “Iya.” Mereka tidak mengobrol lama ditelpon, yang penting sudah tahu kabar masing-masing saat ini. Setelah panggilan itu berakhir Saga tidak jadi tidur karena tidak mengantuk. Dia menyalakan televisi dan bermain PS di kamarnya. “Liburan gini enaknya begadang main PS.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN