28

1134 Kata
Ujian Akhir Semester 1 baru saja selesai dilaksanakan. Argi dan Saga memutuskan untuk pulang ke Surabaya. Saga ingin pulang karena kangen dengan Catty, anjing jantannya yang sangat dia sayangi. Saat ini, Argi dan Saga sedang berada di kereta jurusan Bandung – Surabaya. Memerlukan waktu sekitar 13 jam untuk bisa sampai ke stasiun gubeng Surabaya. Sebenarnya mereka bisa saja menaiki pesawat yang hanya memerlukan waktu 1-2 jam untuk bisa sampai, tapi Saga bilang dia sedang ingin menaiki kereta. “Lu serius pulang kampung? Ayano gak pulang ke Jepang, loh. Lu kan bisa manfaatin waktu liburan itu untuk lebih deket sama Ayano lagi.” Argi yang duduk di sebelahnya bertanya. “Iya, gua tau, tapi mau gimana lagi, gua kangen banget sama si Catty. Setidaknya, gua pulang seminggu deh, habis itu ke sini lagi buat nemenin Ayano.” “Oh, jadi lu kangennya sama si Catty aja ya, bukan sama keluarga lu?” “Iya, sama si Catty doang.” Saga menjawab yakin. Setelah langit berganti dari malam menuju pagi, kereta pun berhenti di tempat pemberhentian yang terakhir. Kereta telah sampai di stasiun gubeng Surabaya. “Sag, bangun. Kita udah nyampe nih.” Saga mengucek-ngucek matanya. “Ah iya, ayo turun.” Mereka berdua lalu turun sembari menarik koper mereka masing-masing. Di tempat keluar stasiun, banyak sekali sopir taksi dan ojek yang menawarkan untuk mengantarkan mereka, tapi dengan sopan Saga menolak karena sudah ada mobil yang akan menjemput mereka. Di bahu jalan, tepat di depan pintu gerbang stasiun, telah terparkir mobil sedan berwarna hitam dengan logo BMW di depannya. Sopir mobil itu membuka kaca jendelanya dan melambaikan tangan pada Saga. Saga dan Argi pun menyebrang untuk menaiki mobil jemputan itu. “Mau langsung pulang atau ke mana dulu?” tanya sopir pada Saga. “Ke rumah Argi dulu, habis itu langsung pulang.” “Siap bos kecil.” Saga berdecak. “Pak Yanto, aku udah gede, aku bukan bos kecil lagi.” “Ahahaha, di mata Bapak, kamu tetep bos kecil. Soalnya bos besarnya kan Ayahmu.” “Yaudah, terserah deh.” Mobil pun melaju meninggalkan stasiun. Langit di luar sedikit mendung saat waktu menunjukkan pukul 6 pagi. Berbeda dengan suasana pagi saat di Bandung, di Surabaya sama sekali tidak dingin. “Di sini gak dingin, ya.” “Ya emang, lu kan dah lama tinggal di sini, kenapa aneh gitu.” Saga membalas komentar Argi. “Ya enggak, kita kan udah enam bulan tinggal di Bandung, jadi rada aneh juga pas balik ke sini.” Saga mengangguk. “Emang sih, ditinggal enam bulan aja aura kotanya udah kayak yang beda. Pasti ada sesuatu yang berubah, tapi kita gak sadar.” “Bener.” Tak lama setelah itu, Argi pun sampai di rumahnya. “Gua duluan, ya. Nanti gua main ke rumah lu,” ucap Argi setelah mengeluarkan kopernya dari dalam mobil. “Oke, gua tunggu.” Mobil pun kembali melaju setelah keduanya selesai berbicara. Perjalanan berikutnya memerlukan waktu yang cukup lama. Jarak antara rumah Argi dengan rumah Saga memang sangat jauh. “Kalian akrab banget ya, gak berubah dari SMA,” ucap Pak Yanto saat mobil sedang berhenti di lampu merah. “Iya lah, dia itu teman terbaik aku Pak.” Pak Yanto tersenyum. Kalau Saga pikir lagi, dia merasa beruntung karena Argi bersekolah di tempat yang jauh dari rumahnya. Jika dulu Argi lebih memilih sekolah yang ada di dekat rumahnya, mereka berdua mungkin tidak akan bertemu dan menjadi teman. Saga pernah bertanya pada Argi alasan mengapa Argi memilih sekolah yang jauh dari rumahnya. Argi bilang karena dia tidak mau satu sekolah lagi dengan teman-teman SMP-nya. Argi tidak bilang alasannya, yang pasti dia tidak mau bertemu mereka lagi. Setelah satu jam berlalu, mobil pun sampai di depan sebuah rumah megah berlantai tingkat di suatu perumahan elit. Perumahan elit itu milik keluarga Saga. “Sudah sampai, ayo turun bos kecil.” Saga terbangun dari tidurnya. “Oh iya.” Pak Yanto membantu Saga mengeluarkan kopernya dari bagasi, kemudian menariknya ke dalam rumah dengan pintu masuk yang besar. Saat membuka pintu, dua orang yang lebih muda dari Saga sudah menyambut dengan wajah bahagia. Dua orang itu adalah adik laki-laki dan perempuan Saga yang masih duduk di bangku SMP. Gamel Harvent dan Melky Harvent. “Kak Saga!!!” Gamel dan Melky langsung berlari memeluknya. Saga tersenyum. “Wah, kalian sehat-sehat aja, kan?” “Iya, Kak!!” “Aku juga sehat!!” Saga adalah kakak yang paling disayangi oleh Gamel dan Melky karena umurnya yang tidak terlalu jauh dengan mereka. Kakak pertama sampai keempat hampir tidak mereka kenali karena jarang sekali ada di rumah. “Ibu sama Ayah ada?” Mereka berdua menggeleng. “Papa sama Mama sibuk terus!” “Iya, katanya lagi ada proyek di Australia. Gak bakal pulang selama sebulan!” Saga menghela napas. Ternyata memang sulit menemui mereka berdua, meskipun keduanya adalah orang tua kandung dirinya. “Kalau Kak Lisa ada?” tanya Saga lagi. “Ada, di dapur lagi masak!” Baru saja dibicarakan, Lisa langsung muncul sembari membawa sarapan pagi dari atas nampan. Dia tampak kaget saat melihat Saga, nampan di tangannya hampir terjatuh sebelum akhirnya dia taruh di atas meja. “Saga! Kamu kenapa gak ngabarin Kakak kalau mau pulang?!” Saga cengar-cengir. “Ehehe, kan biar kejutan.” Saga memang merahasiakan kepulangannya dari Lisa. Dia hanya memberitahukannya pada Gamel dan Melky saja. Alasannya karena Lisa pasti akan repot-repot memasakannya makanan mewah saat Saga pulang ke rumah. “Eh, aduh, kakak belum masak apa-apa. Kakak belanja keluar dulu, ya? Atau mau kakak pesenin makanan lewat online? Kamu mau makan apa?” Lisa terlihat tergesa-gesa. Saga langsung menepuk bahu kakaknya. “Udah gapapa Kak, gak usah. Aku sarapan pagi biasa aja.” Lisa menatap mata Saga. “Seriusan?” “Iya, udah-udah, ayo makan yang udah Kakak bikin aja.” Lisa tersenyum. “Yaudah, kalo gitu.” Di antara semua anak keluarga Harvent, Lisa adalah yang paling sayang pada para saudaranya. Saking sayangnya, Lisa sampai memutuskan untuk berhenti kuliah agar bisa tinggal di rumah untuk mengurus tiga saudara kecilnya. Hal ini karena ibu dan ayah mereka sangat jarang sekali ada di rumah, dan Lisa tidak mau jika adik-adiknya hanya diurus oleh para pembantu. “Seriusan ih, kamu kok jauh-jauh kuliahnya ke Bandung, di sini kan jadi sepi. Pindah ke kampus yang deket sini aja, Saga.” Lisa berkata pada Saga. “Iya Kak, kuliah di sini saja.” “Iya!” Dua adiknya juga merajuk. Saga hanya tersenyum. Tujuan utama Saga kuliah di Bandung adalah karena ingin memulai hidup yang baru. Ingin kuliah di tempat di mana orang-orangnya tidak tahu bahwa Saga adalah anak keluarga Harvent. “Aku udah betah di Bandung, Kak. Apalagi di sana….” Saga berhenti, hampir mengatakan karena di sana ada Ayano. “Di sana ada apa?” Saga tertawa kecil. “Gak ada apa-apa.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN