Satu hari sebelum UAS, Ranti pergi bersama Argi ke sebuah event anime. Dibanding pergi bersama, sebenarnya Argi diseret paksa oleh Ranti untuk menemaninya. Ranti bilang terlepas dari uang sewa yang telah dibayarkan, kewajiban Argi untuk menemani Ranti ke sebuah event anime harus tetap dilakukan.
“Besok UAS loh njiir, ngapain main ke sini?! Mana panas lagi!” Argi mengipas-ngipasi lehernya dengan tangan.
“Emang kenapa kalo besok UAS? Lu kan pinter, gak usah belajar juga bisa dapat nilai tinggi.” Ranti membalas dengan santai.
Argi berdecak, Ranti memang paling pandai dalam membalas.
“Ya, gua sih santai. Lu sendiri gimana?”
“Tenang, gua juga santai, kok. Gua biasa belajar SKS.”
Argi menghela napas. “Yaudah, terserah deh, pokoknya jangan lama-lama.”
Argi dan Ranti saat ini sedang berada di sebuah lapangan luas tempat event anime diadakan. Banyak orang yang sedang bercosplay karakter anime dan game di tempat ini. Banyak juga para pedagang yang menjajakkan berbagai macam merchandise. Bagi Ranti ini adalah hal yang biasa, tapi bagi Argi semua ini hal yang baru.
“Astaga, selama 18 taun hidup gua baru tau ada acara macam ginian.” Argi masih merasa asing dengan hal-hal yang seperti ini.
“Lu harus biasain mulai dari sekarang. Selama empat taun ke depan, kita bakal sering datang ke sini.” Ranti berjalan dengan santainya.
“Sial.”
Selama di event, Ranti sering sekali meminta Argi untuk memotretnya dengan orang-orang yang memakai kostum atau biasa disebut cosplayer. Seperti yang Argi duga, di acara seperti ini Argi hanya menjadi babunya Ranti.
“Argi, bawain ini, ini, ini, dan ini.” Ranti menyerahkan poster, sticker, gantungan kunci, dan kaos anime yang baru saja dibelinya.
“Iya, iya.”
“Awas, hati-hati nyimpennya, jangan sampe tertekuk.”
“Iya!”
Di tengah-tengah acara, saat Ranti masih berkeliaran mencari merchandise, dia bertemu dengan beberapa teman perempuannya.
“Eh, Ranti. Kita ketemu lagi!”
“Wanda, Kinal!”
Ranti mengobrol banyak dengan kedua temannya. Mereka membicarakan hal-hal yang Argi sama sekali tidak mengerti. Meski begitu, Argi merasa kedua temannya Ranti itu terlihat lebih normal. Barang yang mereka beli tidak sebanyak Ranti.
“Kenalin, ini pacarku, namanya Argi!”
Tanpa Argi sadari, Ranti dan kedua temannya telah sama-sama menatapnya.
“Ah, iya, salam kenal, aku Argi.” Argi mengangguk.
Wanda dan Kinal menatap Argi lebih dekat.
“Ganteng banget.”
“Beneran kamu pacarnya Ranti?”
Argi sebenarnya ingin mengatakan bukan, tapi melihat tatapan Ranti yang mencekam membuat dia terpaksa mengatakan kebohongan lagi.
“Iya.”
Mendengar itu, Wanda dan Kinal langsung menjerit kegirangan. Mereka langsung mendekati Ranti dan memberinya selamat.
“Wah, Ranti keren banget sih!”
“Kok bisa dapat pacar yang ganteng gitu!”
Ranti tersenyum sombong. “Iya dong, aku gitu. Aku ini kan reinkarnasinya Kagura-Hime. Cowok manapun bakal takluk sama aku!”
Wanda dan Kinal tertawa. “Ahahaha, dasar, Chuunibyou-nya kambuh lagi!”
“Kagura-Hime hebat deh!”
Ranti masih menikmati pujian dari mereka.
“Tapi, bukannya kamu pernah bilang kalo kamu gak suka cowok 3 dimensi?”
“Oh iya, ya. Kenapa tiba-tiba punya pacar.”
Tanpa bingung, Ranti langsung menjawab.
“Aku emang alergi sama cowok 3D, tapi kalau ganteng gapapa.”
Mendengar itu, Wanda dan Kinal tertawa lagi. Argi hanya menghela napas.
Percakapan itu hanya berlangsung singkat, Wanda dan Ranti kembali berkeliling meninggalkan Ranti karena tidak ingin mengganggu waktunya bersama Argi.
“Lu punya temen, toh.”
“Ya punya, lah.”
“Bagus deh.”
Setelah berkeliling seharian, Ranti mengajak Argi makan di stand makanan.
“Biar gua aja yang bayar.” Ranti memberikan sejumlah uang pada pedagang takoyaki.
“Tumben baik.”
“Gapapa, kasian lu udah bantuin gua seharian.”
Benar-benar hari yang membosankan sekaligus melelahkan bagi Argi. Di Minggu siang yang panas ini Argi padahal bisa tiduran atau membaca buku di ruangan ber-AC di kontrakan miliknya dengan Saga. Atau menonton film favoritnya seharian sambil memakan popcorn.
Namun, yang dia lakukan malah menemani Ranti ke event anime sebagai orang yang membawa-bawakan barang milik gadis itu. Sekali lagi, Argi merasa menyesal telah menyetujui perjanjian ini.
“Kok lu kayak yang kecapean gitu, sih?” tanya Ranti.
“Ya capek lah. Kita muter-muter terus dari tadi, gak berhenti-berhenti. Gua juga bawain barang-barang lu. Mana panas lagi. Gimana gak capek.”
Ranti menatapnya. “Terus kenapa lu mau? Lu bisa nolak kok kalau gak mau.”
Argi berdecak. “Kan lu sendiri yang maksa gua buat ke sini?! Lu bilang gua gak boleh nolak!”
“Ya, tapi tetep aja lu punya hak untuk nolak. Gapapa kok.”
“Ogah, nanti lu sebarin lagi rahasia ini sama anak-anak kampus. Gak mau. Gua pokoknya gak mau.”
Ranti mengedipkan mata, merasa bingung dengan sikap Argi yang seperti ini. Saat pertama melihat, Ranti berpikir Argi adalah tipe laki-laki yang mendominasi perempuan. Namun, ternyata tidak seperti dugaannya.
“Lu tenang aja. Semisal gua sebarin rahasia ini ke anak sekampus, lu pikir mereka bakal percaya? Gua ini bukan orang terkenal, malah jadi musuh cewek satu kampus. Lu pikir mereka bakal percaya perkataan gua?” Ranti berargumen.
Kalau Argi pikir memang ada benarnya juga. Jika Ranti mengucap apapun dan Argi menyanggahnya, orang-orang pasti akan lebih percaya pada Argi. Namun, entah mengapa, Argi seperti tidak bisa melakukannya. Argi merasa akan berada dalam kondisi yang buruk jika sampai membuat Ranti marah.
“Gua udah bilang, gua ingin lu jadi pacar pura-pura gua. Sebagai pihak yang meminta, gua harus membuat lu nyaman, karena lu juga membuat gua nyaman. Itu aja.” Argi membalas.
“Tapi lu kan udah bayar gua dua puluh juta, itu udah lebih dari cukup kok seharusnya. Lu gak usah capek-capek turutin kemauan gua, gua cuma bercanda kemarin.”
Argi berdecak. “Jadi gapapa nih kalau lu gua tinggal? Gapapa kalau gua gak anterin lu lagi ke event anime?”
“Gapapa, kok. Sekali ini aja udah cukup. Makasih, ya. Tenang aja, gua gak bakal sebar rahasia, kok. Selama di kampus gua bakal tetep pura-pura jadi pacar lu. Kalau menurut lu udah cukup, gua pun akan berhenti. Paham?”
Ranti yang seenaknya tiba-tiba berubah menjadi Ranti yang pengertian. Argi agak sedikit kesulitan menghadapi Ranti yang baru ini.
“Gapapa, gua bakal tetep anterin lu ke event-event anime. Atau ke manapun yang lu mau, anggap aja ini sebagai latihan pura-pura pacaran. Kalau kita kurang komunikasi, nanti bakal ketahuan.” Argi memalingkan pandangan.
“Eh, seriusan? Gua kan ngerepotin, loh.”
“Udah, gapapa, ini gua yang menentukan, gua yang mau. Lu diem aja. Jadi seperti biasanya aja.”
Mendengar itu, Ranti tersenyum, merasa bingung tapi sedikit senang.
“Oke deh, makasih Argi sayang!”
“Eh, eh, jangan ngomong gitu juga! Geli anjir!”
“Hehehe.”
Setelah menghabiskan takoyakinya, mereka berdua pun pulang.