26

1133 Kata
(End of flashback) Mira bercerita sedikit pada Ayano tentang masa lalu mereka berdua, tentu dengan tidak menyebutkan bagian-bagian buruknya, entah itu yang melibatkan mereka berdua atau yang melibatkan Argi, juga yang melibatkan mantan-mantan Mira yang lain. Mira hanya bercerita pada Ayano bahwa dulunya dia dan Saga pernah berpacaran lebih dari satu minggu, dan putus karena sebuah ketidakcocokkan. “Oh, begitu, saya mengerti.” Ayano mengangguk-angguk. Saga benar-benar berkeringat dingin, dia takut Mira mengatakan sesuatu yang tidak perlu diceritakan. Untungnya Mira menepati janjinya. “Terus sekarang kamu lagi pacaran gak? atau lagi jomblo?” tanya Saga. “Kenapa nanya itu? Mau ngajak balikan?” goda Mira. “Kagak lah, nanya doang!” Saga sedikit ngegas. Mira tertawa sembari menutup mulutnya. “Iya, iya, cuma bercanda. Setelah putus sama kamu aku gak pernah pacaran lagi sampai sekarang. Aku mau fokus kuliah dulu di seni drama, setelah lulus baru mulai mikirin pasangan.” Saga tersenyum, Mira rupanya memang sudah berubah dibanding terakhir kali mereka bertemu. Mira jadi terlihat sedikit lebih baik. “Mira kenapa milih jurusan seni drama?” tanya Ayano. “Aku suka sama drama panggung. Jadi pemain film, drama, teater, sinetron, bintang iklan, atau apa aja deh, aku pengen tampil di hadapan orang-orang. Soalnya, aku ini jago banget aktingnya. Iya gak, Sag?” Mira menoleh pada Saga. Saga menahan tawa. “Iya, kamu jago banget aktingnya.” “Iya, kan? Aku lagi berusaha banget ini. Ya, kalau beruntung sih, aku pengen banget bisa sukses kayak Jennifer Priscilla. Masih muda tapi udah sangat terkenal.” Mira menatap langit, membayangkan dirinya bisa sesukses dirinya. “Oalah pengen kayak si Jenni.” “Jenni ternyata emang hebat, ya.” Mira terheran-heran mendengar ucapan mereka berdua. “Kalian kok manggilnya Jenni, sih? Kayak kenal aja sama orangnya.” “Lah, emang kenal, kok. Dia kan temen sekampus gua.” Mira langsung tertawa. “Alah, mana mungkin, gak usah bercanda lah, hahaha.” “Enggak, gua serius. Mau gua panggil orangnya ke sini?” Mira mulai berhenti tertawa. Dia berganti menatap Ayano, dan gadis asal Jepang itu hanya tersenyum. “Yaudah, buktiin kalo lu temen sekampusnya Jennifer Priscilla!” Saga menoleh pada Ayano. “Ayano, coba kamu telpon Jenni. Suruh dia ke sini.” Ayano mengangguk. “Jenni, kamu lagi di mana?” “Baru selesai syuting. Ada apa?” “Bisa datang ke taman deket balai kota, tidak?” “Eh, mau ngapain? Capek ah, aku mau istirahat.” “Di sini ada Saga.” “Hah?! Yaudah, tungguin ya, jangan pergi ke mana-mana!” Ayano langsung tertawa setelah menutup teleponnya. “Jenni lucu banget. Dia katanya capek karena baru saja syuting, tapi setelah saya bilang di sini ada Saga, dia langsung bersemangat.” Saga berdecak. “Hadeuh, dia pasti pengen ngerjain aku lagi.” Mira benar-benar bingung, percakapan Saga dan Ayano seolah-olah mereka memang kenal dekat dengan Jennifer Priscilla, bukan sekedar kenalan atau teman sekampus. Beberapa belas menit berlalu, seorang gadis berpakaian kasual turun dari sebuah mobil mewah berwarna hitam. Dia melihat-lihat keadaan sekitar. Setelah menemukan tempat Saga dan Ayano, dia langsung tersenyum dan berjalan ke arah mereka. “Weh, kalian lagi ngapain di sini?” Jenni berganti menatap Saga. “Saga, lu kok gak ajak-ajak sih kalau mau maen? Kenapa ngajak Ayano doang?!” “Gua gak ngajak Ayano, kita kebetulan ketemu di sini. Makanya gua minta Ayano buat telepon lu.” “Ah, gak percaya, lu pasti bohong.” Mira terpana melihat percakapan mereka berdua. Gadis yang sedang mengobrol dengan Saga benar-benar gadis yang selama ini dia lihat di televisi. Tubuh Mira sampai merinding. “Jennifer Priscilla?” gumam Mira. Jenni menoleh, sempat tidak menyadari keberadaan Mira. “Ah, iya. Selamat siang.” Jenni tersenyum. “Gak usah pura-pura senyum gitu. Dia ini temen SMA gua, katanya dia pengen ketemu sama lu.” Mulut Jenni membulat, dia segera merubah sikap dan mengajak gadis itu bersalaman. “Kenalin, aku Jennifer Priscilla. Teman sekampusnya Saga.” Mira menelan ludah, lalu menjabat tangan Jenni. “A-aku Mira Avisha, temen sekelasnya Saga waktu SMA.” “Ah iya, salam kenal Mira.” Serasa terbang ke langit, Mira sangat bahagia bisa bertemu langsung dengan Jenni, bahkan mereka berdua sampai berjabat tangan. Mimpi ada Mira semalam sampai bisa bertemu dengan artis idolanya? “Mira ini katanya mantan pacar Saga waktu SMA.” Ayano berkata. Saga terlonjak. “Eh, Ayano? Kenapa kamu bilang gitu? Jangan kasih tahu Jenni harusnya!” Ayano tertawa melihat Saga yang begitu panik. “Oh iya, lupa. Hihihi.” Jenni langsung tersenyum jahil, membuat Saga jadi merinding. Jenni berganti menatap Mira, dan langsung duduk di sebelahnya. “Boleh minta nomor WA-nya, gak? Aku mau tau soal Saga waktu SMA.” Mira kelabakan, terlalu dibuat terkejut. Bukan hanya bertemu dan berjabat tangan, Mira juga dimintai nomor WA yang seharusnya Mira lah yang meminta pada Jenni. “I-iya, ini nomornya.” Jenni pun mengucap terima kasih setelah Mira memberi nomornya. “Makasih ya Mira, nanti ceritain soal aib-aib Saga waktu SMA, ya.” Saga terlonjak. “Eh, kampret jadi itu alasan lu minta nomornya Mira?!” “Ya iyalah, terus buat apa lagi?” Saga kehabisan kata-kata. “Yaudah, terserah deh.” Mira dan Ayano tertawa-tawa melihat tingkah mereka berdua. Mira lalu membuka suara. “A-anu Jenni. Aku kuliah di jurusan seni drama, loh. Nanti boleh ya tanya-tanya soal akting?” Jenni tersenyum. “Ah, jadi kamu tertarik sama seni akting? Ya, boleh, tanya-tanya aja, aku juga masih belajar, kok. Nanti aku juga tanya-tanya sama kamu. Sambil ngobrolin aibnya Saga.” “Hahaha, iya, iya.”  Setelah percakapan berakhir, Saga mengajak mereka bertiga untuk makan siang. “Kalo gitu aku pulang dulu, ya.” Mira pamit, tidak ingin mengganggu waktu mereka bertiga. Namun, Ayano menahannya. “Eh, Mira ikut aja. Mumpung lagi di sini.” “Iya, Saga mau traktir kita katanya. Mau habisin uang bulanannya, hahaha,” kata Jenni. Saga terlonjak. “Hah? Lu lah yang bayar, lu kan artis!” “Gak mau, weee!” Mira terlihat iri melihat keakraban mereka bertiga. Sejak dari SMA, Mira tidak punya yang namanya teman dekat, karena itulah dia sering sekali menghancurkan hubungan persahabatan para anak laki-laki maupun perempuan. Tapi Karma itu telah berakhir semenjak dia mengenal Saga. Mira mulai berubah dan tidak menghancurkan lagi hubungan yang telah dijalin oleh orang-orang. Mira berbisik pada Saga. “Jenni juga gak tau ya, kalo kamu itu anak keluarga Harvent?” “Iya, dia nggak tau, dan jangan sampai tau. Kamu boleh cerita apa aja ke dia, asal jangan singgung nama keluargaku.” Mira tersenyum. “Iya, tenang saja.” Siang itu, mereka pergi ke restoran sederhana bersama-sama. Saga menjadi tontonan para laki-laki karena dirinya berjalan bersama tiga wanita cantik sekaligus. Satu artis, satu orang Jepang, satu lagi gadis yang tidak kalah cantiknya. Mira bergumam dalam hatinya. “Aku beruntung pernah berpacaran dengan Saga.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN