25

1113 Kata
“Perusak persahabatan?” Naufal lalu menceritakan semuanya pada Saga tepat di hadapan Mira secara langsung. Naufal bercerita bahwa hubungannya dengan teman dekatnya yang bernama Ferry hancur gara-gara Mira. Saat Naufal berpacaran dengan Mira, Mira menggoda Ferry agar mau berpacaran dengan dirinya. Awalnya Ferry menolak karena tahu bahwa Mira ini adalah pacarnya Naufal. Namun, Mira membuat kebohongan pada Ferry, Mira bilang dia berpacaran dengan Naufal karena diancam olehnya. Mira tahu sifat Ferry yang mudah percaya pada orang lain sehingga memanfaatkan hal ini untuk merusak hubungan persahabatan keduanya. Yang Naufal sayangkan, Ferry malah lebih percaya pada Mira ketimbang pada temannya sendiri. Karena Mira lah, sekarang Naufal dan Ferry tidak bisa berteman lagi. “Jadi gitulah pokoknya, hati-hati sama cewek ini. Jangan sampai hubungan lu sama temen lu rusak gara-gara dia.” Setelah mengatakan itu, Naufal pergi meninggalkan mereka berdua. Suasana menjadi berat setelah Saga mendengar cerita tersebut dari Naufal. Dia menoleh pada Mira, dan Mira hanya memalingkan pandangan. “Cerita barusan emang beneran, ya?” tanya Saga pada Mira, memastikan. “Dia temen lamamu, loh. Masa kamu gak percaya sama dia.” “Percaya banget, lah. Tapi pengen denger kepastiannya dari kamu.” “Iya, emang bener, kok.” Saga menghela napas. Meski tahu perbuatan Mira benar-benar kejam, apalagi melibatkan teman lamanya sendiri, entah mengapa Saga tidak bisa marah begitu saja. Masih ada setitik rasa peduli Saga pada Mira meski dia tahu berbagai sifat buruknya. “Kamu lapar gak? Makan, yuk.” Saga mengajak. “Mau makan di mana?” “Terserah.” “Kalau gitu, Marugame Udon, yuk?” Mereka berdua lalu pergi ke mall yang berada di dekat kampus yang mereka kunjungi. Mereka berdua mengunjungi restoran udon yang berada di dalam mall tersebut. “Pesen apa aja, aku yang bayar.” “Beli yang paling mahal gapapa?” “Mau sepuluh porsi juga boleh.” Mira tersenyum. “Satu aja cukup.” Mereka berdua lantas makan udon bersama-sama. Saga cukup menyukai masakan Jepang, jadi dia setuju saat Mira mengajaknya ke tempat ini. Selepas makan udon mereka tidak langsung pulang, melainkan pergi ke berbagai tempat lain untuk melanjutkan kencan mereka siang itu. Tidak pernah Saga rasakan kencan semenyenangkan ini. Dibanding para mantannya yang lain, Mira yang penuh kebohongan ini justru bersikap jujur di hadapan Saga. Dia tidak menutup-nutupi niatnya, dan bersikap apa adanya. Saat hari mulai gelap, mereka mengunjungi taman sebentar. Ada hal yang ingin Saga bicarakan dimana Mira sudah bisa menebak apa yang ingin dia bahas. Mereka duduk bersebelahan di bangku taman yang kosong. “Mau putus kan, ya?” Mira berkata lebih dulu. “Kok bisa tau, sih?” “Kamu pikir aku udah pacaran berapa kali?” “Bener juga sih, kamu udah berpengalaman.” Saga lantas tertawa. Meski sudah tahu hubungan keduanya tidak akan berlanjut, baik Mira maupun Saga, keduanya tidak ada yang menaruh dendam. “Sebenarnya aku belum mau putus, aku merasa kamu beda sama mantan-mantanku yang sebelumnya. Kamu jujur meski kata orang lain kamu pembohong.” Mendengar kata-kata itu, Mira langsung tertawa. “Jujur apaan, aku juga lagi bohongin kamu tau. Emang kamu tau alasan aku ngajak kamu pacaran?” Saga menghela napas. “Tau lah, karena pengen bikin Argi cemburu, kan?” Mira tersentak. Bagaimana Saga bisa tahu? Padahal selama ini Mira merasa Saga sudah terjerat dalam permainannya. “Kenapa bisa tau? Aku kan bilangnya aku pacaran sama kamu karena ingin jadi pacar orang kaya. Kenapa bisa tau aku ingin bikin Argi cemburu?” Saga menjawab. “Aku sudah terlalu sering dibohongi. Kamu pikir berapa kali aku dibohongi saat pacaran sama orang lain? Jadi meski kamu berkata jujur, aku tetep waswas. Tapi gak masalah, soalnya apapun yang kamu katakan, hubunganku sama Argi gak bakal pernah berubah. Jadi, aku gak masalah pacaran sama kamu.” “Terus kenapa sekarang minta putus?” “Mau gimana lagi, Argi sama Naufal bener-bener gak suka aku pacaran sama kamu. Dalam lubuk hati yang terdalam, aku sama sekali gak ada perasaan sama kamu, tapi dalam lubuk hati terdalam, aku juga belum mau putus sama kamu. Aku masih ingin mencoba, apa kedepannya kita akan cocok apa enggak? Meski aku yakin, kayaknya enggak bakal. Karena sejak awal, kita berdua pacaran dengan niat untuk nipu.” Mira terbelalak. “Gak mungkin lah Argi diem aja soal kamu yang nembak dia saat kamu lagi pacaran sama Ferry. Aku tau kok soal itu. Jadi aku juga nipu kamu, pura-pura kalau aku lagi kena tipu.” Mira menggigit bibir bawahnya. “Jadi kamu tau niatku pacaran sama kamu agar Argi marah?” “Tau lah.” “Terus kenapa dilakuin?!” “Ya, nggak papa. Lagian Argi juga tau kok kalau aku mau pacaran sama kamu karena niatnya mau nipu. Argi yang marah-marah sama kamu itu semua akting loh.” Mira langsung tertawa-tawa saat mendengarnya. “Jadi, saat pertama kali aku nembak kamu itu, kamu udah tau kalau di hari sebelumnya aku nembak Argi dan ditolak?” “Tau lah, Argi langsung cerita malemnya.” Mira menghela napas. “Aku pikir Argi bukan tipe cowok yang suka cerita soal gituan. Baru kali ini penilaianku salah. Kacau deh.” Saga tersenyum. “Sayang sekali, ya.” “Gapapa, karena hal ini aku jadi sadar. Gak semua orang bisa ditipu. Sekarang aku kena karmanya, aku ditipu sama kamu. Kayaknya, aku memang harus berhenti melakukan hal ini.” Saga pun merasa tidak enak telah menipunya. “Maaf, ya. Kamu boleh marah kok.” “Buat apa marah. Harusnya kamu yang marah karena aku udah berniat nipu kamu.” “Aku udah bilang, aku udah terbiasa ditipu. Jadi gak bisa marah lagi soal itu.” “Gitu, ya.” Keduanya lantas terdiam, memikirkan banyak hal dalam kepala mereka. “Jadi, kita beneran putus, nih?” Mira memastikan. “Iya.” “Yaudah, kalo gitu aku pulang dulu.” “Tunggu!” Saga menghentikan langkah Mira. “Apa?” Mira menoleh. “Sebagai kompensasi karena udah nipu kamu, kamu boleh minta apa aja sama aku. Dalam lubuk hati terdalammu, kamu pengen dibeliin sesuatu sama aku, kan?” Mira tersenyum, dia tentu tidak ingin rugi dan hanya mendapat patah hati dalam hubungannya dengan anak salah satu orang terkaya di Indonesia. “Kalau gitu, aku mau handphone baru, yang harganya belasan juta. Mau beliin?” “Gampang, ayo beli sekarang juga.” Dengan mudahnya Saga menjawab, membuat air mata berlinang di pipi Mira. “Sialan, kenapa aku nangis? Apa aku nyesel putus sama kamu? Ah, emang enak banget jadi pacarnya kamu.” Saga terkikik. “Kamu emang yang paling beda di antara semua mantanku.” Mira menyeka air matanya. “Makasih ya udah mau jadi pacar aku. Mulai sekarang aku janji gak bakal mainin hati cowok lagi.” Saga tersenyum. “Aku juga.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN