Hari-hari Saga yang biasanya dijalani bersama Argi, kini mendapatkan warna baru dengan munculnya Mira. Saga sadar Argi tidak senang dengan keberadaannya, tapi Saga ingin menahannya dulu, tidak ingin cepat-cepat memutuskan hubungan.
“Saga, ke kantin, yuk!” Seperti biasa, Mira mengajak Saga ke kelasnya. Dan seperti biasa juga, Argi tidak senang melihat Mira yang menampakkan wajahnya.
“Yuk.”
Rumor Saga yang berpacaran dengan Mira tentu sudah menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Ada yang mendukung, ada juga yang mencemooh, menganggap Mira memanfaatkan Saga untuk memoroti uangnya.
“Lihat, mereka berdua makan siang bareng tiap hari. Pasti Saga yang bayarin.”
“Pastilah, cewek yang pacaran sama Saga pasti alasannya itu.”
“Saga cowok biasa banget soalnya, kalau gak kaya dia gak ada spesialnya.”
Mira yang punya pendengaran tajam dapat mendengar bisik-bisik para anak perempuan yang duduk tidak jauh dari mereka. Sementara Saga, benar-benar tidak peduli bahkan suara bisikan itu tidak terdengar sama sekali di telinganya.
“Saga, aku kok kasian ya sama kamu,” ucap Mira tiba-tiba.
“Lah, kok kasian. Aku hidup enak gini, kasian dari mananya?”
“Ya, soalnya, gara-gara kamu kaya, jadi susah buat dapetin cewek yang tulus suka sama kamu. Cewek yang ngincer kamu pasti alasannya karena uang, bukan karena kamu. Kayak aku sekarang ini contohnya.” Mira tidak ragu mengatakan apa yang dia pikirkan.
Saga terkikik. “Kamu ini emang jujur banget, ya. Gapapa, aku gak peduli kok sama yang namanya cinta sejati. Kalau gak bisa dicari, aku beli aja cinta sejati itu pake uang. Suatu saat bakal ada kok.”
Mira menghela napas. “Ya, terserah kamu deh pokoknya Sag, asal jangan sampai dimanfaatin.”
“Iya.”
***
Minggu siang, Mira mengajak Saga untuk pergi ke kampus Unair. Mira ingin melihat-lihat kampus itu sebagai calon universitas yang hendak dia masuki.
“Kampus ini favorit loh Mir, yakin mau masuk sini?”
Mira mengangguk. “Sebenernya nggak mau, tapi disuruh ortu buat kuliah di sini. Katanya aku gak boleh pilih universitas yang bukan dari Surabaya.”
Mira lalu bercerita bahwa orang tuanya sudah tahu dengan sifat Mira yang sering gonta-ganti pacar, dan tentu itu membuat mereka tidak senang. Jika mereka membiarkan Mira kuliah di luar Surabaya, mereka takut Mira semakin terjerumus ke dalam pergaulan bebas.
“Mau masuk jurusan apa di sini?” tanya Saga.
“Kayaknya Ilmu Keperawatan. Masa depannya cukup cerah.”
“Emang kamu suka sama jurusannya?”
Mira tediam sejenak. “Enggak, sih. Sebenernya aku sukanya seni. Tepatnya seni drama. Tapi mau gimana lagi, ortu gak dukung. Mereka gak mau ngebiayain aku kuliah di jurusan itu. Katanya prospeknya kurang cerah.”
Saga mengangguk-angguk, meski bodoh dia juga memahami apa yang Mira maksud. Dibanding kesenian, kebanyakan orang tua calon mahasiswa tentu lebih menginginkan anaknya untuk kuliah di jurusan kedokteran, teknik, atau justru kuliah di kedinasan.
Jurusan tidak favorit seperti seni drama tentu membuat mereka berpikir dua kali untuk menyetujui keinginan anaknya.
“Jadi, kamu bakal coba dulu di jurusan keperawatan?”
“Iya, kalau lulus aku bakal ngelamar kerja di Rumah Sakit Umum Harvent,” ucap Mira, membuat Saga terkikik.
“Yaudah, semoga lulus, deh. Nanti aku bakal sering main kalau kamu kerja di rumah sakit Kakakku.”
Selama berada di kampus Unair, Saga menemani Mira yang ingin melihat secara langsung bangunan Fakultas Keperawatan. Mira banyak bertanya pada para mahasiswa yang sedang nongkrong di sana, ingin mendengar lebih jelas tentang jurusan yang akan ia masuki itu. Dia tidak malu-malu.
“Terima kasih banyak Kak, atas informasinya.”
“Iya, sama-sama Adik. Semoga keterima, ya.”
Setelah selesai urusan di Fakultas Keperawatan, mereka tidak langsung pulang, melainkan berkeliling sebentar di sekitaran rektorat. Di depan bangunan rektorat terdapat danau besar yang dipenuhi oleh ikan serta angsa yang berenang. Tempat ini banyak dikunjungi oleh orang-orang, entah untuk memancing, memberi makan ikan, atau sekedar bersantai menikmati pemandangan.
“Saga, ke jembatan itu, yuk.”
“Oh iya, ayo.”
Di tengah-tengah danau, ada jembatan yang memisahkan bagian tengahnya. Dari posisi ini, mereka dapat menikmati keindahan danau dengan lebih baik, tempatnya juga bagus untuk berswafoto.
“Enak ya tempatnya.”
“Iya.” Saga mengangguk.
Ketika sedang menikmati suasana di tengah jembatan ini, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa Saga.
“Saga?”
Saga menoleh, matanya terbelalak.
“Naufal?”
Naufal adalah teman lama Saga saat SMP, bisa dibilang mereka teman yang sangat dekat. Sebelum kenal Argi. Saga lebih dulu bersahabat dengan Naufal.
“Fal, lu kemana aja?! Kapan pindah ke sini?! Kok gak kabar-kabar!” Saga langsung memeluk tubuh Naufal saking kangennya.
Dulu saat naik ke kelas tiga SMP, Naufal pindah ke Kalimantan, membuat mereka tidak bisa bertemu lagi. Naufal pindah tanpa memberitahu Saga terlebih dahulu.
“Maaf baru ngabari, gua pindah ke sini lagi pas kelas 2 SMA. Gua mau ngabari lu, tapi gua bingung. Gua takut lu marah.” Naufal terlihat sedikit takut.
“Bego, ya bener lah gua marah! Kenapa lu pindah gak bilang-bilang?! Tapi yaudah deh, yang penting sekarang lu ada di sini. Jangan pergi lagi, ya! Mana nomor hape lu, gua minta!” Saga benar-benar antusias, dia senang melihat Naufal lagi setelah tiga tahun tidak bertemu.
Naufal pun memberikan nomor handphone-nya.
Sama seperti Saga, Naufal pun merasa senang bisa melihat Saga kembali. Kekhawatirannya selama ini mendadak lenyap karena melihat Saga yang tidak berubah sama sekali.
Saat melihat Mira, Naufal terkaget.
“Loh, Mira? Kamu lagi ngapain di sini?”
“Eh?” Saga menoleh pada Mira, kemudian kembali menoleh pada Naufal. “Lu kenal sama Mira?”
“Kenal banget malah, dia mantan pacar gua.”
“Eh?!!” Saga bener-bener terkejut.
Mira lalu bergabung dalam pembicaraan. “Naufal apa kabar? Kamu baik-baik aja?”
Naufal memalingkan pandangan, tidak menjawab perkataannya. Dia berganti menatap Sag.
“Sag, lu ngapain ke sini sama Mira?”
“Mira ini pacar gua, Fal. Gua nemenin dia keliling di kampus.”
Setelah mengetahui Mira ini mantannya Naufal, Saga jadi merasa tidak enak. Apalagi setelah melihat reaksi Naufal yang tiba-tiba berubah menjadi serius.
Naufal langsung menepuk pundak Saga.
“Sag, sebagai temen lama, gua mau lu dengerin omongan gua. Hati-hati sama Mira, dia ini berbahaya.”
Ekspresi yang ditunjukkan Naufal sama persis seperti yang ditunjukkan oleh Argi.
“Maksudnya karena dia sering ganti-ganti pacar?”
Naufal terkaget. “Oh, jadi lu udah tau, baguslah kalau gitu gua gak perlu bercerita panjang lebar. Pokoknya hati-hati aja. Mira ini tukang perusak persahabatan. Gara-gara dia, gua jadi musuhan sama temen gua. Nyesel gua pacaran sama dia.”
Tepat di depan Mira, Naufal mengatakan hal itu dengan yakin, membuat wajah Mira memerah.