"Jadi pacar kamu?" tanya Saga sekali lagi, memastikan dia tidak salah dengar.
"Iya, jadi pacar aku. Mau gak?"
"Kenapa kok tiba-tiba?"
Mira menggigit bibir bawahnya, menenangkan diri bersiap mengucap kebohongannya.
"Sebenarnya, alasan aku main game sama Argi itu biar bisa deket sama kamu. Yang aku sukai itu kamu, bukan Argi."
Saga terbelalak.
"Se-seriusan?"
"Iya." Mira mencengkram erat tangan Saga.
Sekarang Saga melepaskan genggaman tangan dari Mira karena beberapa orang mulai melihat ke arah mereka.
"Kenapa kamu suka sama aku? Apa karena aku anak keluarga Harvent?"
"Iya." Mira menjawab jujur.
Saga terkejut. Baru pertama kali ada gadis yang berkata dengan begitu jujurnya. Semua mantan Saga yang sebelumnya mengatakan bahwa mereka menyukai Saga apa adanya. Namun, pada akhirnya niat busuk mereka ketahuan.
"Kalau kamu mau uang bilang aja, gak usah pacaran sama aku segala. Mau berapa? Cepet bilang." Saga langsung mengeluarkan handphone-nya.
Mira menggeleng. "Enggak, aku gak butuh uang kamu. Aku maunya milikkin kamu."
"Emang kenapa kalau kamu milikin aku?"
"Ya, biar hidup enak dong. Kalau kita pacaran dan terus nikah, nanti aku bakal hidup bahagia."
Saga terkikik. "Astaga, jujur banget sih kamu. Tapi kan akunya gak suka. Paling kalau udah bosen kamu aku putusin."
"Aku jamin kamu gak bakal bosen sama aku. Karena itu, ayo dicoba dulu pacaran." Mira mengedipkan sebelah mata sembari menggenggam tangan Saga lagi.
Saga terlihat galau sesaat. "Gimana ya, Argi ngelarang aku buat pacaran lagi kalau gak serius. Dia bilang kasian dompetku yang kekuras terus."
"Kalau gitu kamu gak usah keluarin duit aja kalau jadian sama aku. Aku gak bakal minta-minta kok, aku hanya mau pacaran sama kamu." Mira membujuknya lagi.
"Eh, tapi gimana aku bikin kamu bahagia kalau aku gak kasih kamu uang? Aku harus ngapain?"
"Cukup berikan saja waktumu untukku. Kalau aku butuh kamu, kamu harus ada. Kalau kamu butuh aku, aku juga harus ada. Gimana?"
Saga menepuk-nepuk pipi. "Gimana ya, jujur aku sama sekali gak tertarik sama kamu. Aku udah bosen pacaran."
Mira mulai panik. "Aku tau, temen-temenku bilang kamu sering ganti-ganti pacar karena bosen. Sejujurnya, aku juga gitu, di sekolah lamaku aku sering ganti-ganti pacar. Kita ini mirip loh."
"Eh, seriusan?"
"Iya, makanya, yok kita coba yok. Aku juga sebenernya belum ada rasa apa-apa sama kamu. Tapi aku ingin kita coba dulu, siapa tau kita cocok. Gimana?"
Saga benar-benar terlihat bingung, tapi karena Mira terus mendesak, Saga pun membuat keputusan.
"Oke deh, ayo kita pacaran."
Mira tersenyum, dan lantas mengangguk-angguk.
"Resmi, ya."
"Iya."
***
Keesokan siangnya, tepat saat jam istirahat, Mira berjalan masuk ke kelas Argi dan Saga. Sudah tidak ada rasa malu lagi karena terlalu sering ke sini.
Begitu Mira berjalan mendekat ke bangku Saga dan Argi, Argi langsung berkomentar.
"Aku dah gak main Hero Quest lagi. Ngapain kamu ke sini?"
Dengan wajah sinisnya, Mira langsung menjawab. "Emang siapa yang mau ketemu kamu? Ih, geer. Aku mau ketemu sama Saga, kok."
Argi langsung menoleh pada Saga.
"Ada apa ke sini, Mir?"
"Makan bareng di kantin, yuk. Aku gak ada temen."
"Oh, yaudah ayo," jawab Saga.
Argi tentu terkaget dengan perubahan sikap Mira yang tiba-tiba. Kenapa dia mendekati Saga?
"Oi oi, tunggu sebentar. Sejak kapan kalian deket gini? Kalian ada hubungan apa?" tanya Argi.
Mira tidak menjawab, membiarkan Saga yang mengatakannya.
"Ah, Mira sama aku sekarang pacaran," jawab Saga dengan santainya.
Argi semakin terkaget lagi, dia lantas membawa Saga dan Mira ke tempat yang sepi.
"Oi, Saga. Mira tuh dah punya pacar, namanya Ferry. Dia kemarin datang ke sekolah ini. Lu ngapain pacaran sama pacar orang?" Argi menggebrak-gebrak tubuh Saga.
Dengan cepat, Mira langsung menyela.
"Kami udah putus kok. Nih liat." Mira menunjukkan history chatnya dengan Ferry.
Argi makin naik darah. Setelah sebelumnya memanfaatkan Ferry agar bisa dekat dengan Argi, sekarang Mira membuat Ferry sakit hati agar bisa berpacaran dengan Saga.
Dia langsung menoleh pada Saga. "Sag, cewek ini gak bener. Lu jangan mau pacaran sama dia."
Dengan santai Saga menjawab. "Gua tau kok, dia sendiri yang cerita. Dia sering ganti-ganti pacar waktu di sekolah lamanya, sama kayak gua. Gua dan Mira ini sama, Gi."
Argi geleng-geleng kepala. "Enggak-enggak. Kalian itu berbeda. Lu emang suka ganti-ganti cewek, tapi lu gak pernah nyakitin hati mereka. Beda sama Mira. Dia ini tukang tipu."
Dibilang begitu oleh Argi, Mira merasa tersinggung.
Mira memalingkan pandangan. Kalau dia debat di sini, dia mungkin akan kalah dan membuat suasana menjadi kacau. Dia tidak ingin semuanya menjadi kacau.
"Udah-udah Gi, gapapa. Gua tau kok Mira orangnya seburuk apa. Tapi gapapa, gua terima kok. Dia bilang dia ingin berubah."
Argi berdecih. "Orang kayak gini gak bakal bisa berubah, Sag. Sulit. Duit lu abis nanti kalau pacaran sama dia. Udah jelas dia ngincer duit lu."
Mira menahan tawa. Sebenarnya memoroti uang Saga hanya tujuan nomor dua. Tujuan utamanya adalah membuat Argi sakit hati sekaligus merebut Saga dari sisinya.
Saga menepuk pundak Argi. "Gapapa, Gi. Santai, gua tau apa yang harus gua lakuin. Lu tenang aja, gua udah gak bodoh lagi kayak dulu. Gua bisa berhubungan baik sama Mira. Okay?"
Melihat Saga yang bersikeras, Argi akhirnya menyerah. "Yaudah, terserah lu deh. Kalau ada apa-apa gua gak tanggung jawab."
"Iya, tenang aja. Kalo gitu gua sama Mira ke kantin dulu."
"Daah Argi." Mira melambaikan tangan.
Saga dan Mira akhirnya pergi meninggalkan Argi sendirian.
Argi menendang tembok karena kesal.
Selama di kantin, Mira dan Saga saling bertukar kata.
"Maaf ya, Argi itu emang overprotective. Dia gak jahat, kok," ucap Saga setelah menyeruput kuah sotonya.
"Iya, aku tau kok. Tapi, beneran gak masalah nih? Aku gak bakal rusak hubungan pertemanan kalian berdua, kan?"
"Gak bakal lah, aku sama Argi itu udah sahabatan. Gak mungkin kita tengkar cuma karena masalah cewek."
Mira tersenyum. "Bagus deh kalo gitu."
Mereka lantas melanjutkan makan.
Saga memang sudah tahu bagaimana latar belakang Mira selama di sekolah lamanya. Dia sama sekali tidak mempermasalahkannya, karena faktanya Saga juga seperti itu di sekolah ini.
Alasan mengapa Saga tertarik untuk menjadi pacar Mira adalah karena penasaran bagaimana jadinya jika dia berpacaran dengan gadis sejenisnya.
Saga tidak akan menaruh hati, tidak akan mengeluarkan uang, hanya ingin menjalani hubungan berpacaran mereka saja.
Seandainya berhasil, itu akan bagus untuk Saga karena bisa mendapatkan cinta yang sejati. Namun, seandainya gagal, Saga juga tidak ambil pusing.