Datangnya Mira ke kelas Argi sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Setiap lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi, Mira selalu saja mampir ke Kelas XII IPA 2. Semua murid sudah hapal jika Mira menampakkan wajahnya, sudah pasti untuk mengajak Argi bermain game di PSP.
“Maaf ya Argi, tiap hari aku dateng ke sini.” Mira merasa tidak enak.
“Nggak papa, aku malah nunggu kamu dateng.”
“Waah, Argi.” Mata Mira berkilauan.
Rutinitas itu terus berlanjut, Mira yang awalnya iseng-iseng bermain game itu jadi mulai menikmatinya. Namun, tetap saja, bukan itu tujuan utamanya mendekati Argi. Mira ingin menjadikannya pacar secepat mungkin.
Meski begitu, Mira tidak berpikir niatnya itu akan berjalan dengan mudah. Pasalnya, meski sudah saling mengenal selama satu bulan lebih, Argi tidak menunjukkan sedikitpun rasa ketertarikan. Mira merasa bahwa Argi hanya menganggapnya sebagai teman bermain game PSP.
Kalau seperti ini terus, Mira bisa terjebak dalam zona friend zone, dan dia tidak mau jika itu sampai terjadi. Maka dari itu, Mira pun memberanikan diri mengajak Argi tatap muka untuk membicarakan hal yang serius.
“Argi, ada yang mau aku bicarain?” tanya Mira setelah membawanya ke parkiran sekolah.
Argi berfirasat tidak enak.
“Ya, mau bicarain apa?”
Mira menatap wajah Argi lekat-lekat. “Semenjak pertama kita bertemu, aku gak bisa berhenti mikirin kamu. Kamu baik, aku suka. Aku denger katanya kamu banyak nolak cewek di sekolah ini. Kalau sama aku mau nggak?”
Mira menyatakan perasaan dengan yakin. Dia sudah sangat terlatih, jadi tidak gugup saat membicarakannya secara langsung.
Argi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“Maaf, aku nggak bisa.”
Mira cemberut. Dia sudah menduganya, tapi tetap saja rasanya sakit.
“Kenapa?”
“Aku gak ada perasaan apa-apa sama kamu. Selain itu, aku juga udah nyaman sama hubungan pertemanan ini, aku gak mau merusaknya.”
Mira berdecih. “Dicoba dulu mau nggak? Seminggu aja.”
“Nggak bisa. Aku gak mau mainin hati kamu.” Argi tersenyum.
“Kalau gitu—”
“Mira!”
Perkataan Mira terhenti saat seorang lelaki berseragam sekolah lain memanggilnya dari samping. Mira menoleh, ternyata lelaki itu adalah mantan Mira yang meminjamkan PSP-nya.
“Ferry? Kamu ngapain ke sini?” Mira terlihat panik.
“Kamu udah tiga hari gak bales chat aku, aku khawatir lah. Pengen ketemu juga sama kamu, hehe.” Ferry menjawab dengan polosnya.
Mira mulai berkeringat dingin di saat Argi menoleh padanya.
“Kamu siapa?” tanya Argi.
“Ah, aku Ferry, pacarnya Mira.” Ferry tersenyum.
Mata Argi terbelalak, dia segera menoleh pada Mira, namun gadis itu memalingkan pandangan.
Argi pun mulai paham, gadis bernama Mira ini bukan gadis yang seperti ada di pikirannya.
“Oalah pacarnya Mira toh, kenalin aku Argi. Temen sekelasnya. Dia temen aku main game Hero Quest.”
Mata Ferry terbelalak. “Oh, jadi kamu orangnya! Mira sering cerita soal kamu, katanya ada cowok di sekolahnya yang jago banget main Hero Quest! Aku kaget banget, Mira kok tiba-tiba jadi suka main game. Bagus deh, berkat kamu aku sama Mira jadi bisa balikan, hehe.”
“Balikan?” Argi kembali bingung.
“Iya, aku dan Mira sebenarnya udah lama putus. Terus Mira ngajakin aku balikkan lagi, asalkan aku pinjemin dia PSP punyaku, dia mau main Hero Quest katanya. Yaudah, aku pinjemin aja. Aku senang kalau Mira jadi gamer seperti aku, hehehe.”
Argi benar-benar kagum pada lelaki di depannya. Dia sama sekali tidak menaruh curiga baik pada Argi maupun pada Mira. Padahal umumnya seorang laki-laki akan merasa cemburu jika mengetahui gadisnya sering menghabiskan waktu bersama dengan laki-laki lain. Tetapi, kekhawatiran itu tidak terlihat di mata Ferry.
Ferry terlalu baik, terlalu mudah dimanfaatkan. Argi sekarang paham kenapa Mira tiba-tiba ingin main Hero Quest dengannya, tujuannya adalah agar bisa berpacaran dengannya.
“Oh, gitu. Tapi mulai hari ini berhenti main deh kayaknya, udah bosen.” Argi terpaksa berbohong. Dia lalu menatap Mira. “Kamu kalau mau main lagi sendiri aja ya, aku mau main game yang lain.”
Mira mengangguk-angguk.
Argi benar-benar kesal pada gadis bernama Mira ini. Bisa-bisanya dia menyatakan cinta padanya di saat dia sudah memiliki pacar. Belum lagi, gadis itu memanfaatkan pacarnya agar bisa dekat dengan dirinya. Tipe perempuan penipu seperti ini paling Argi benci.
Argi menepuk pundak Ferry.
“Ferry, makasih ya udah dateng, aku seneng liat kamu.” Argi tersenyum.
Lelaki polos itu membalas dengan senyum juga. “Iya, sama-sama, aku juga senang ketemu temennya Mira.”
Sejak saat itu, Mira tidak berani lagi datang ke Kelas Argi dan Saga. Bahkan saat berpapasan pun Argi tidak mau menyapanya. Dia benar-benar marah pada Mira, tidak mau mengenalnya lagi.
Di lain sisi, Mira juga kesal pada Argi. Sikapnya seolah-olah menunjukkan bahwa dirinya adalah gadis paling buruk di dunia. Mira tidak suka diperlakukan seperti itu.
Namun, satu hal yang dia syukuri, Argi sepertinya tidak menceritakan kejadian di parkiran pada teman-temannya. Soalnya, sampai sekarang tidak ada gosip miring apapun mengenai dirinya.
Meski begitu, Mira tetap ingin balas dendam. Karena itu, dia pun mendekati Saga di saat ada kesempatan.
“Sa-Saga!” Mira memanggil Saga saat dia duduk di depan kelas sendirian.
“Wah, temen main game-nya Argi. Kenapa sekarang jarang ke sini?” tanyanya penasaran.
“Aku udah bosen mainnya, hehe.”
“Oh, gitu.”
Setelah makan di jam istirahat, Argi dan Saga memang selalu memisahkan diri sejenak. Argi bermain game di kelas, sementara Saga duduk di depan kelas tidak ada kerjaan. Mira bersyukur karena bisa mendekatinya tanpa diketahui oleh Argi.
“Saga, aku boleh tanya sesuatu?” Mira menyentuh tangan Saga, bermaksud membuat dirinya gugup dengan serangan tiba-tiba.
“Mau tanya apa?” Saga membiarkan tangan Mira yang menyentuh tangannya.
“Menurutmu, aku cantik gak?”
Saga memperhatikan wajahnya dengan serius.
“Enggak.”
“Ah, beneran?!” Mira pura-pura khawatir.
“Tapi bohong. Cantik kok, lumayan.”
Mira pun bernapas lega.
“Kenapa? Gak pede nembak Argi?” Saga yang sekarang bertanya.
“Enggak, bukan. Kata siapa aku mau nembak Argi?”
“Kataku barusan,” balas Saga.
Mira manyun. “Maksudku, kenapa kamu mikir aku mau nembak Argi?”
“Ya soalnya kamu kan tiap hari deketin dia buat main game, jadi wajar dong kalau ada benih-benih cinta yang muncul.”
Mira pura-pura terkaget. “Eh? Enggak-enggak, gak ada yang begituan. Aku gak ada perasaan apa-apa sama Argi.”
Saga tersenyum. “Oh gitu, bagus lah. Kamu bakal patah hati kalau suka sama dia.”
Percakapan kemudian terhenti, Mira bersiap-siap mengutarakan maksud hatinya.
“Menurutmu aku cantik gak?” Mira bertanya itu sekali lagi.
“Kenapa nanya mulu, sih? Iya cantik-cantik.” Saga terkikik.
“Kalau gitu, Saga mau gak jadi pacar aku?”