Flashback
Saga adalah murid Kelas XII yang disegani banyak orang. Bukan karena dia kuat, pintar, atau punya keunggulan lainnya. Dia disegani karena dia anak orang paling kaya di kota. Tidak ada yang berani macam-macam dengannya karena tahu bagaimana akhir nasib mereka jika sampai melakukan itu.
Seperti biasa, Saga pergi berangkat sekolah bersama Argi. Kedua lelaki itu memang menjadi murid paling mencolok di SMA Petra 99. Saga terkenal sebagai murid paling kaya, sementara Argi terkenal sebagai murid paling diincar perempuan.
Mereka seperti tinggal di dunia yang berbeda, membuat kebanyakan murid agak sulit mendekatinya. Hal ini mengundang ketertarikan seorang murid baru bernama Mira Avisha.
“Enak banget ya kalau jadi pacarnya Saga, pasti hidupnya dijamin bahagia.”
“Iya lah, keluarganya kan termasuk salah satu keluarga paling kaya di Indonesia.”
“Kalo aku sih lebih tertarik sama Argi. Ganteng soalnya, hihihi.”
Beberapa gadis di kelas Mira sedang membicarakan mereka berdua. Hampir setiap hari semenjak kepindahannya ke sekolah ini Mira selalu mendengar tentang keduanya. Namun, sampai saat ini dia masih belum mengetahui yang mana orangnya.
Akhirnya, Mira pun bertanya pada teman-temannya.
“Saga sama Argi itu yang mana sih orangnya?” tanya Mira, mendekati kerumunan gadis yang sedang membicarakan kedua orang itu.
“Loh, kamu gak tau?”
“Iya lah, Mira kan anak baru.”
“Oh iya, juga.”
Salah satu dari mereka lantas membuka i********:, kemudian menunjukkan foto Argi dan Saga yang sedang berfoto berdua.
“Ini Argi, yang sebelahnya lagi Saga,” tunjuk teman sekelasnya itu.
Dengan refleks Mira bersiul, terutama saat melihat wajah Argi yang tampan. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.
“Mereka udah punya pacar belum?” tanya Mira dengan santai.
“Belum. Apalagi Argi, dia belum pernah pacaran sama sekali. Standar ceweknya terlalu tinggi.”
“Oh, gitu.” Mira mengangguk-angguk.
“Iya, kalau kamu niat mau nembak dia, lupain aja, nanti kamu patah hati. Kalau mau sama Saga aja. Tapi jangan serius pacarannya.”
Perkataan temannya itu membuat Mira penasaran.
“Kenapa jangan serius?”
“Soalnya percuma, dia sendiri gak pernah serius. Dia pacaran cuma buat seneng-seneng. Kalau udah bosen langsung diputusin. Seenaknya banget sih, mentang-mentang dia orang kaya.”
Mira tersentak.
“Kalau gitu, dia gak ada bedanya sama gue,” batin Mira.
Sama seperti Saga, Mira juga sering pacaran hanya untuk senang-senang. Kalau sudah bosan akan langsung diputuskan. Dia tidak pernah serius dalam pacaran, hanya memenuhi rasa penasaran, kemudian memutuskan hubungan, setelah itu mencari yang baru lagi.
Sudah banyak laki-laki di sekolah lamanya yang jadi korbannya, dan tidak ada satupun laki-laki yang benar-benar dia sukai. Gara-gara hal itu, Mira jadi dijuluki playgirl oleh murid-murid di sekolah lamanya. Alasan itulah yang membuat Mira risih dan memutuskan untuk pindah sekolah.
“Ah, tapi ada enaknya loh kalau pacaran sama Saga, kamu setidaknya bakal dapet satu handphone yang mahal secara gratis. Bahkan ada juga cewek yang pernah dikasih motor. Jadi sebenarnya enak banget kok jadi pacar Saga itu, asal jangan naruh perasaan.” Gadis itu bercerita panjang lebar.
Mendengar cerita tersebut, Mira semakin tertarik pada keduanya. Dia tertarik pada Saga karena ingin mendapatkan sesuatu darinya, tapi juga tertarik pada Argi karena ingin merasakan cinta yang sebenarnya.
“Aduh, sialan, padahal gue mau tobat jadi playgirl, kenapa malah ketemu sasaran empuk gini, sih,” batin Mira.
Mira lantas berpikir, yang mana dulu yang harus dia pacari. Saga dulu atau Argi dulu. Tujuan utama Mira tentu Argi karena lelaki itu memang sangat tipenya, tapi Mira juga tidak ingin melewatkan Saga yang penuh dengan harta benda. Mira ingin dapat handphone baru darinya.
“Ah, pikirin nanti aja, siapa yang ketemu duluan dia yang akan gue deketin.”
***
Saat jam istirahat, Mira lupa membawa dompet saat akan membayar pesanan makanannya di kantin. Dia tidak bisa meminjam uang temannya karena datang sendirian ke sini. Di saat hendak kembali ke kelas, seseorang berbicara pada penjualnya.
“Biar saya saja yang bayarin.”
Mira terpukau saat melihat ke arah lelaki yang berbicara, orang itu adalah Argi. Menurut Mira dia jauh lebih tampan ketimbang yang dia lihat di foto.
“Makasih ya, nanti aku ganti uangnya.”
“Nggak usah nggak papa.” Uang yang dia bayarkan adalah uang jajan pemberian dari Saga, jadi Argi berpikir tidak apa membaginya sedikit pada orang lain.
Namun, Mira menanggapinya berlebihan. “Ma-makasih kalau begitu.”
“Sama-sama.”
Setelah bertahun-tahun, Mira merasa kembali menjadi gadis normal. Dia jatuh cinta lagi pada seorang laki-laki.
“Anjir, kenapa gue cenat-cenut gini. Sial, dia berkilau banget.” Mira mengomentari Argi dalam hatinya.
Semenjak menjadi playgirl, Mira memang sudah tidak bisa merasakan jatuh cinta lagi. Yang ada hanya rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba-coba berpacaran. Dari semua hubungan pacaran yang telah dia jalani atas dasar rasa penasaran itu tidak ada satupun yang membuatnya benar-benar merasakan cinta.
Hubungan yang Mira dapatkan hanya hubungan biasa yang dipenuhi dengan senyuman palsu. Dia tidak merasakan apapun, cepat bosan, tidak ada yang menggetarkan hatinya. Setelah bosan, dengan mudahnya dia langsung mematahkan hati para mantan pacarnya.
Namun sekarang berbeda. Setelah melihat Argi, jantungnya berdebar-debar lagi. Mira mulai berpikir untuk menjadikan Argi seorang pacar. Kali ini bukan pacar iseng-iseng lagi, Mira ingin serius padanya.
Semenjak kejadian itu, Mira jadi sering main ke Kelas XII IPA 2, kelasnya Argi. Dia sering mencari-cari alasan untuk bertemu Argi, salah satunya karena ingin membalas budi atas kebaikan Argi saat di kantin. Karena Mira terus memaksa, Argi pun menerima kebaikannya. Argi setuju untuk ditraktir menonton bioskop oleh Mira.
Argi pikir Mira tidak akan datang lagi setelah dia menerima kebaikannya, namun Mira justru semakin gencar mendekatinya. Dia mulai mencari alasan lain agar bisa dekat dengan Argi. Alasan yang baru itu adalah menanyakan perihal game yang sering dimainkan oleh Argi. Mira memang pandai mendekati laki-laki.
“Tempat rahasia untuk nemuin harta karun kristal hijau di mana sih?” tanya Mira, sampai repot-repot pinjam PSP mantan pacarnya agar bisa bermain game yang sama dengan Argi.
Argi pun membalas. “Kamu harus selesaikan misi sampingan dulu di kota A, jangan langsung misi utama. Nanti harta karunnya muncul di dekat hutan di kota C.”
Mira tersenyum. “Oh, gitu ya. Ngerti, ngerti, makasih ya Argi.”
Berbagai cara Mira lakukan agar bisa dekat dengan Argi. Kali ini tidak ada niat terselubung lagi, Mira benar-benar ingin menjadikan Argi pacarnya.
“Wah, game ini seru banget ternyata. Besok aku main ke sini lagi, ya.” Mira beranjak dari tempat duduk saat bel masuk istirahat berbunyi, bersiap meninggalkan kelas Argi.
Argi tersenyum. “Iya, ke sini aja, aku juga seneng punya temen main game ini. Saga gak ngerti sama gamenya soalnya, haha.”
Mira terpukau melihat senyum tulus dari Argi.
“Besok aku bakal dateng ke sini lagi!”