20

1138 Kata
Satu bulan telah berlalu semenjak Argi berpura-pura pacaran dengan Ranti. Melihat dia yang sudah punya pasangan membuat Saga merasa lega, tapi juga menyimpan sedikit kesedihan. Semenjak Argi berpacaran dengan Ranti, waktu mereka untuk menghabiskan waktu bersama jadi sedikit berkurang. Namun, karena mereka tinggal di kontrakan yang sama itu semua tidak menjadi masalah. “Aaah sepi banget, anjir. Argi malah ngedate sama Ranti. Mereka pacaran bohongan apa beneran, sih?” Saga menatap langit-langit, merasa bosan di hari Minggu yang kosong ini. Satu minggu ke depan, kuliah akan diliburkan sebelum menjalani Ujian Akhir Semester 1. Saga menggulir-gulir riwayat chat w******p-nya. Ada satu nomor yang sangat jarang dia chat meski mereka cukup dekat, orang itu adalah Ayano. Wajah Saga mulai memerah ketika dia membayangkan untuk mengajaknya kencan. Faktanya, selama enam bulan mereka saling mengenal, selalu Ayano yang berinisiatif dalam mengambil tindakan. “Gua ini cupu atau terlalu berhati-hati, sih?” Saga bertanya pada dirinya sendiri. Saga lantas menekan kontak Shiraishi Ayano, kemudian mulai mengiriminya pesan. ’Ayano lagi apa?’ “Duh, kok gua kayak orang gabut, sih? Ganti-ganti!” Saga tidak jadi mengirimnya. ‘Ayano, punya waktu luang? Mau belajar bareng?’ “Enggak-enggak, gua udah belajar tiap hari, gua mau rehat dulu.” Saga kembali menghapus pesannya. Saga mencoba mengirim pesan pada Ayano, tapi tidak ada yang jadi. Selama setengah jam, dia berkutat dengan nomor Ayano tapi tidak melakukan apa-apa. Karena kesal, Saga pun akhirnya mengirim apa saja yang ada di pikirannya. ‘Ayano, vertebrata itu hewan bertulang belakang, ya?’ ‘Iya.’ Ayano membalas dengan cepat. Saga tidak menyadari kalau sedari tadi Ayano sedang online. Saga: ‘Oh gitu, siip makasih.’ Ayano: ‘Sama-sama.’ Saga menghela napas. “Masa chat-nya gitu doang, sih. Enggak-enggak, gua pengen lebih lama lagi ngobrol sama Ayano. Gua pengen ngomongin hal lain. Tapi… udahlah, gua gak mau ganggu. Ayano mungkin lagi sibuk. Gua main keluar aja.” Saga pun mengambil handuk dan mulai membersihkan badan di kamar mandi. Setelah itu, dia pergi meninggalkan kontrakan sambil membawa kamera digitalnya. Di antara semua tempat, Saga pergi ke taman-taman yang ada di kota Bandung. Dia memotret objek apa saja yang menurut dia menarik. Seperti biasa, hasilnya sangat bagus, tapi Saga tidak menyadarinya. Saga memotret pemandangan sudut kota, kondisi langitnya, orang-orang yang tertawa, sampai akhirnya kameranya mengarah pada seorang gadis yang sedang menjilati es krim. Cekrek. Gadis yang difoto oleh Saga menoleh padanya, menyadari keberadaannya. “Eh, Saga?” “Ayano?” Mereka berdua saling bertatapan. “Kamu lagi apa di sini?” tanya Saga. “Saya bosen di asrama, jadi main ke sini. Saga sendiri lagi apa di sini?” Ayano balik bertanya. “Aku juga sama, lagi bosen.” Saga lalu mengambil tempat duduk di sebelah Ayano. Tetap merasa gugup meski sudah mengenalnya cukup lama. “Saga boleh saya lihat hasil foto-foto kamu?” “Oh iya, boleh.” Saga memberikan kamera digitalnya pada Ayano. “Terima kasih.” Ayano lantas melihat satu per satu hasil potretannya. Ayano terkagum dan sering sekali mengatakan bahwa fotonya sangat bagus. Saga hanya mengangguk saja, menganggap bahwa pujian Ayano hanya sebuah candaan. Padahal itu memang hal yang sebenarnya. Karena foto-foto Saga bagus, Ayano tertarik untuk terus melihatnya. Dia menekan tombol next berkali-kali sampai kamera digital itu menampilkan foto-foto saat sedang acara kelompokkan. Ayano merasa senang melihatnya. “Waah, nostalgia sekali, padahal baru enam bulan.” “Iya, hahaha.” Ayano terus menekan tombol next pada kamera digitalnya sampai akhirnya tiba di foto-foto sebelum Saga masuk kuliah, di saat itu, Saga langsung merebut kameranya karena tidak ingin dilihat oleh Ayano. “Maaf, cukup sampai sini saja, kamu gak boleh liat foto-fotoku saat masih SMA.” “Hee, kenapa?” Ayano menggembungkan pipi. “Gak boleh pokoknya.” Foto-foto setelahnya adalah foto-foto Saga bersama keluarganya yang sedang berlibur ke luar negeri. Saga tidak ingin Ayano melihat semua itu. Karena dilihat dari manapun, foto-foto itu menunjukkan bahwa Saga adalah anak orang kaya. “Kalau dipikir-pikir, di foto-foto pas kelompokkan, kok banyak foto saya, ya?” Ayano merasa bingung. Saga tersentak. Secara tidak sadar, dia memang sering memotret Ayano. “Aku juga sering memotet yang lain, tapi hasilnya blur, yang foto Ayano doang yang masih bagus.” Saga membuat alasan. “Oh, kirain karena….” Ayano menghentikan perkataannya. “Karena apa?” “Bukan apa-apa.” Ayano memalingkan pandangannya. Saga merasa berdebar-debar. Dia merasa Ayano sedang merahasiakan sesuatu darinya, tapi dia malu untuk mengatakannya. “Saga? Kamu Saga, kan?!” Seorang gadis berambut pendek tiba-tiba memanggil namanya. Mata Saga terbelalak, dia kaget melihat gadis itu berada di sini. “Mira? Lagi apa kamu di sini?” “Aku kuliah di sini Saga. Wah, gak nyangka banget bisa ketemu kamu lagi!” Gadis itu langsung duduk di sebelahnya. “Kamu kuliah di sini?!” Saga mengulangi perkataannya. “Iya, kenapa emang?” “Bukannya kamu gak dibolehin kuliah di luar Surabaya?” Mira terkikik. “Emang gak dibolehin, tapi aku maksa-maksa. Aku bilang sama ortu, kalau gak kuliah di Bandung, aku gak mau kuliah. Soalnya bosen di Surabaya terus, akhirnya mereka bolehin deh.” Mira terlihat sangat santai. “Oh, ambil jurusan apa? Tetep Ilmu Keperawatan?” Mira menggeleng. “Enggak. Aku ambil jurusan Seni Drama.” Saga tersenyum. "Oh. Bagus, deh." Mereka berdua lalu banyak mengobrol, tapi menggunakan bahasa jawa. Mira menanyakan Saga kuliah di mana. Dan saat Saga menjawab kuliah di universitas negeri jurusan dokter hewan, Mira langsung tertawa. Dia mengira Saga berbohong karena tidak mungkin seorang Saga yang malas belajar masuk jurusan kedokteran. “Saga, kamu nyogok, ya?” tanya Mira dalam bahasa jawa. “Bukan nyogok, tapi nyumbang dana.” “Ya, itu pokoknya, haha.” Saga menatap Mira dalam-dalam. “Jangan ngomong yang aneh-aneh soal masa laluku. Kalau bilang, kamu bakal tau sendiri akibatnya.” Mira merasa sedikit terancam. “Kenapa emangnya?” Masih percakapan dalam bahasa jawa. “Ini cewek sebelahku ini temen satu kampusku. Aku gak mau dia denger yang aneh-aneh.” Mira pun menoleh pada Ayano dan kemudian tertawa, dia tidak menyadari kehadiran Ayano karena terlalu asik mengobrol dengan Saga. Mira langsung meminta maaf. “Maaf, aku tidak sadar di sana ada kamu. Kamu temennya Saga? Asalnya dari mana?” tanya Mira menggunakan bahasa Indonesia. “Saya Shiraishi Ayano, dari Jepang. Saya teman sekampusnya Saga.” Mira merasa terpukau. “Waw, dari Jepang. Hebat juga ya kamu bisa bacara bahasa Indonesia.” “Iya, soalnya Saga yang ajarin.” Ayano menunjuk Saga, membuat dia tersipu malu. Mira kembali merasa terpukau. “Waah, Saga sekarang mulai berani ya sama cewek, ahahaha. Keren-keren.” “Elah, cuman ngajarin bahasa Indonesia doang.” “Tetep aja hebat. Saga yang dulu kan tidak peduli pada orang lain.” Saga tidak membalas. “Omong-omong, kamu siapanya Saga, ya? Sepertinya sudah lama kenal?” tanya Ayano, penasaran. Mira tersenyum. “Aku mantannya Saga waktu SMA.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN