34

1154 Kata
Asep dan Tiara duduk bersebelahan di kereta malam menuju stasiun Cicalengka. Jarak antara kota kecil itu dengan kota Bandung hanya sekitar satu jam. Kereta malam ini cukup sepi, Asep dan Tiara duduk bersebelahan di tempat duduk yang empuk. Tiara mengambil tempat duduk di sebelah jendela. “Seriusan gapapa kita kasih tau hubungan rahasia kita ini ke Saga?” tanya Tiara. “Gapapa, Saga itu orang baik. Dia gak bakal bocorin ini ke siapa-siapa, bahkan ke Argi.” Asep menjawab. Sejak awal, Asep lah yang ingin merahasiakan hubungan ini pada teman-teman sekampus. Padahal di sekolah baik-baik saja, tapi saat di kampus Asep bilang ingin merahasiakannya. Suara bel kereta berbunyi, ular besi raksasa ini mulai melaju meninggalkan stasiun. Tiara melanjutkan pembicaraannya. “Tapi, kenapa sih harus dirahasiakan segala? Kamu malu punya pacar kayak aku?” tanya Tiara, serius. “Gak mungkin lah, kamu cantik gitu, mana mungkin aku malu. Di kampus udah ada berapa cowok coba yang nembak kamu?” Tiara terdiam sejenak. “Dua.” “Tuhkan, itu berarti kamu emang cantik. Gak mungkin aku malu punya pacar kayak kamu, malah sebenernya ingin dipamerin.” Asep lalu tertawa. “Terus kenapa dirahasiain dong? Aku gapapa loh kalau temen-temen kita tau.” Asep menghela napas. “Jangan deh, aku udah bilang, takutnya hubungan kita sama temen-temen jadi terkekang. Di kampus kita temenan aja, di luar kampus baru pacaran.” Setiap kali Tiara bertanya, alasan Asep selalu itu. “Yaudah kalo gitu, oke deh.” Jika dilihat dari luar, sangat tidak mungkin rasanya seorang Asep bisa pacaran dengan Tiara. Teman-teman di kampus pun pasti tidak ada akan yang berpikir sampai ke sana. Kalaupun orang-orang tahu Asep berpacaran dengan Tiara, pasti mereka menyangka Asep lah yang menyatakan cinta. Tapi nyatanya tidak. Tiara lah yang mengejar-ngejar Asep. Mereka berdua dulu di SMA yang sama, dan mulai saling mengenal sejak mereka menjadi teman sekelas di kelas sebelas. Saat itu, Tiara sedang kesulitan mencari teman. Tiara yang pendiam dan bermuka garang rupanya ditakuti oleh teman-teman sekelasnya, terutama para perempuan. Tidak ada yang berani mengajak Tiara bicara, begitupun Tiara yang tidak berani mengajak para perempuan berbicara. Pada akhirnya, Tiara sendirian lagi, sama seperti saat kelas satu. Istirahat jajan sendirian, pulang sekolah sendirian, kalau mencari kelompok selalu kesusahan. Tiara merasa dirinya tidak bisa berbaur dengan orang-orang. Dia bahkan tidak akrab dengan teman sebangkunya sendiri. Pada saat itu, datanglah Asep. Dia meminta Tiara untuk berganti tempat duduk dengan Veni. Asep ingin memasangkan Tiara dan Retno karena dia merasa kedua orang itu cocok. “Nah, kalian berdua sekarang sebangku, ayo ngobrol.” Asep duduk di depan Tiara dan Retno, memperhatikan keduanya dengan seksama. “Ngobrol apa?” tanya Tiara, sedikit gugup. “Iya, ngobrolin apa coba, gak bisa dipaksa lah.” Retno juga gugup. Sama seperti Tiara, Retno juga sebenarnya seorang gadis yang pendiam. Bedanya, Retno sering memaksakan diri untuk bicara, sedangkan Tiara pasrah-pasrah saja jika tidak ada yang mengajaknya bicara. Tiara sudah sampai ke level tidak peduli jika dia tidak punya teman di sekolah. “Banyak lah, coba kalian obrolin hobi kalian apa,” ucap Asep. “Aku gak punya hobby, palingan nonton film,” balas Tiara. “Film apa yang kamu suka?” “Banyak sih, tapi yang paling suka Harry Potter.” Jawaban Tiara membuat Retno merespon dengan cepat. “Kamu suka Harry Potter?! Aku juga suka! Suka banget malah!” Retno menjawab dengan sangat antusias. Tiara pun tersenyum. “Eh, seriusan? Kamu suka siapa di filmnya?” “Aku sukanya sama Ron, dia lucu banget. Gak sehebat Harry sih, tapi Ron itu tipe temen yang setia. Pengen deh punya temen kayak Ron!” Tiara membalas. “Ah, Ron Weasley, iya dia lucu orangnya, sering kena sial, hahaha.” “Kalau kamu sukanya siapa?” “Aku sukanya Draco Malfoy. Emang agak jahat sih orangnya, tapi dia sebenarnya ada baiknya juga.” “Ah, kamu suka tipe cowok yang badboy gitu, ya?” “Iya, tapi di film doang. Badboy di sini mah gak ada yang ganteng kayak Draco.” “Iya, iya, bener.” Tiara dan Retno terhanyut dalam pembicaraan mereka tentang Harry Potter sampai melupakan keberadaan Asep yang berada di depan mereka. Asep pun tersenyum. Sebagai ketua kelas, dia merasa telah berhasil mempersatukan dua orang yang tidak mempunyai teman. Semenjak kenal dengan Retno, Tiara jadi sering bicara. Seringnya memang hanya dengan Retno, tapi secara perlahan dia juga mulai berani bicara pada murid lain, terutama pada Asep yang merupakan ketua kelasnya. Tiara bersyukur diperkenalkan oleh Asep pada Retno, karena mereka berdua akhirnya menjadi teman dekat. Tiara bingung bagaimana jadinya seandainya saat itu Asep tidak meminta Tiara untuk berpindah bangku dan berkenalan dengan Retno. Masa sekolahnya mungkin akan menjadi sedikit hampa. Suatu hari, saat para murid sedang gencar-gencarnya mencari jurusan kuliah, Tiara kebetulan mendengar pilihan jurusan yang ingin dituju Asep. “Asep, kamu mau jadi dokter hewan?!” tanya Tiara. “Iya. Aku tertarik sama peternakan soalnya. Daripada jadi peternak aja, lebih enak jadi dokter hewan biar sekalian bisa ngobatin.” Asep bercerita. Tiara merasa takjub. “Aku juga mau masuk dokter hewan, Sep! Kamu masuk UPD, kan?!” Asep mengangguk. “Iya, aku mau masuk sana, yang deket aja pokoknya.” “Yeay, aku jadi punya temen kalo gitu.” “Kamu sendiri kenapa milih dokter hewan?” tanya Asep. “Bapakku dokter hewan soalnya, punya usaha klinik hewan di deket toko alat tulis usbar. Kamu tau, kan?” Asep terbelalak. “Oh, klinik hewan itu punya bapakmu, ya? Astaga, aku baru tau.” Tiara mengangguk-angguk. “Tapi kamu seriusan masuk dokter hewan? Katanya kuliahnya sulit, loh.” “Iya, aku tau, kok. Tapi gapapa, aku bakal tetep coba. Aku suka anjing sama kucing soalnya, aku ingin bisa ngobatin mereka kayak yang ayah lakukan.” Asep mengangguk-angguk. “Baguslah kalau gitu, emang harus suka sama hewan kalau pengen jadi dokter hewan.” Sejak saat itu, Tiara dan Asep jadi lebih sering mengobrol. Tiara mendapat sahabat baru setelah Retno. Dia senang dengan sifat Asep yang mudah untuk diajak bicara. Tak lama setelah mereka mulai akrab, Tiara menyatakan cinta pada Asep. Asep tentu terkejut, tidak mengira ada gadis cantik yang menyatakan cinta pada orang biasa seperti dirinya. “Eh, seriusan Tiara? Aku ini biasa banget, loh,” jawab Asep saat itu. “Nggak peduli, aku nyaman sama kamu soalnya.” “Emang gak ada yang nembak kamu? Pasti gak ada, ya? Soalnya wajahmu garang gitu.” Asep mengalihkan pembicaraan. Wajah Tiara memang agak sedikit garang, kalau diam seperti orang yang marah, karena itulah meski dia cantik hanya segilintir pria saja yang berani menyatakan cinta padanya. “Iya, emang gak ada yang nembak aku. Makanya kamu harus jadi pacar aku, kalau enggak aku bakal jadi jomblo selamanya.” Mendengar itu, Asep pun tertawa-tawa. Dia tidak mengira Tiara akan memberi jawaban seperti itu. “Yaudah, ayo kita pacaran!” Selama di kereta, Tiara tersenyum-senyum mengingat kejadian itu. Asep yang duduk di sebelahnya bertanya. “Kamu kenapa ketawa-ketawa?” Tiara menjawab. “I Love You.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN