Saga mengabari Ayano kalau dia baru saja pulang dari Surabaya. Ayano bertanya-tanya mengapa Saga bisa pulang secepat itu, padahal liburan masih lama.
Saga pun menjawab lewat chat.
“Bosen di rumah terus.”
Tentu saja itu sebuah kebohongan, jawaban aslinya adalah “Karena aku pengen ketemu Ayano” tapi Saga tidak berani mengirim pesan itu, meskipun Ayano mungkin tidak akan berpikir yang aneh-aneh.
Karena hal itu, Saga merasa menyesal pulang lebih awal. Sekarang dia menganggur di kontrakan sendirian. Tidak ada Argi maupun Asep, Saga bingung bagaimana harus menghabiskan waktu. Satu-satunya yang bisa diajak hanya Ayano, tapi dia merasa malu.
“Gimana ini? Kenapa gua gak berani sih sama Ayano? Sama cewek lain padahal gua gak pernah ragu.”
Saga berpikir, mungkin itulah yang dinamakan cinta. Setiap memikirkan Ayano jantungnya selalu berdegup lebih kencang. Berbeda dengan gadis-gadis lain yang pernah ia temui dalam hidupnya.
“Ah, gua gak bisa gini terus, gua harus berani!”
Saga pun bangkit dari tempat tidurnya, dia mengambil handphone kemudian membuka pesan chat bersama Ayano yang sangat jarang itu. Dengan hati-hati, Saga menulis sebuah pesan.
Sayangnya, pesan itu tidak pernah berhasil diselesaikan. Setiap beberapa detik selalu dihapus karena Saga merasa pesannya kurang sopan atau terkesan terlalu akrab.
“Sial, ngirim pesan aja susah banget. Ah, kirim apa aja deh.”
Ketika hendak memencet tombol kirim, sebuah pesan justru muncul dari Ayano.
“Saga kenapa? Dari tadi ngetik terus gak jadi-jadi. Ada apa?”
Wajah Saga memerah. Dia merasa malu. Sedari tadi Ayano memang sedang ‘online’ tapi dia tidak tahu jika Ayano ternyata memperhatikan kolom pesan mereka berdua.
Sekarang, Saga bingung mau menjawab, tapi dia tidak mau lari.
“Maaf, tadi dimainin sama kucing aku keyboardnya, hahaha.”
Ayano membalas. “Dimainin sama kucing? Saga punya kucing di kontrakkan?”
“Iya.” Saga berbohong.
“Lucu gak kucingnya?”
“Lucu kok.”
Tapi lebih lucu Ayano, batinnya.
“Heee, fotoin dong, saya mau lihat.”
Saga panik. Bagaimana dia memotret kucing yang sama sekali tidak ada. “Gak mau, ah. Kalau mau lihat main aja ke sini.”
Pesan sudah terkirim pada Ayano, tapi dia belum mengirim balasan juga, membuat Saga panik. Apa dia salah bicara? Apa dia terlalu berani? Apa Saga terlihat seperti sedang merayu Ayano?
Setelah lima menit, barulah Ayano membalas.
“Alamat kontrakan Saga di mana?”
“Jl. XXX no. XXX gang XXX no rumah XXX.”
“Oh, oke. Sekarang saya main ke sana, ya. Mau lihat kucingnya.”
Setelah mengirim pesan itu, Ayano offline. Saga panik.
“Kampret, Ayano mau ke sini. Gimana gua harus nunjukkin kucingnya ke dia?!”
Saga berpikir dia akan berkata jujur saja bahwa dia sebenarnya tidak punya kucing. Tapi jika seperti itu, Saga takut Ayano mengecapnya sebagai seorang pembohong. Saga tidak ingin itu terjadi karena Ayano mungkin akan membencinya.
Karena itu, Saga pun terpaksa mencari kucing di luar.
“Gua harus cepet-cepet!”
Saga berjalan-jalan di sekitar kontrakannya, mencari kucing lewat untuk segera ditangkap. Akan tetapi, tidak ada satupun kucing yang berkeliaran.
Saga pun terus mencari, tidak ingin menyerah. Dia sampai bertanya pada setiap tetangga apakah mereka punya kucing?
“Kucing? Oh ada, tapi lagi hamil.”
Saga menolak, takut tiba-tiba melahirkan di kontrakannya.
“Ada, tapi kulitnya borok.”
Saga juga menolak, tidak mau mengambil kucing itu. Saga sudah bilang pada Ayano kalau kucingnya lucu, jadi akan aneh jika Ayano melihat kucing itu penuh dengan borok.
“Ini ada nih, tapi kucingnya senyum terus.”
Saga menolak lagi, kucing milik tetangga ini benar-benar aneh. Melihat kucing itu tersenyum terus menerus justru membuat dia ngeri, tidak ada lucu-lucunya sama sekali.
Saga banyak bertanya pada para tetangga, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang memiliki kucing lucu. Saat menemukan kucing di sisi jalan pun, kucingnya kebanyakan banyak kutu dan punya banyak luka, dibanding lucu Saga merasa kasihan pada kucing-kucing itu, jadi dia pun tidak mengambilnya.
Saat hampir menyerah, Saga tidak sengaja melihat toko penampungan kucing, dengan segera dia pun pergi ke sana.
“Permisi, di sini jual kucing lucu?” tanya Saga dengan buru-buru.
Pemilik tempat penampungan kucing pun tersenyum. “Iya, di sini ada banyak silakan pilih-pilih.”
Ada banyak jenis macam kucing di tempat ini, tapi mata Saga langsung tertuju pada kucing berkulit coklat dengan totol-totol seperti macan tutul. Kucing itu saling bertatapan dengan Saga.
“Berapa harga kucing ini?”
“Oh, yang ini harganya 10 juta. Mau beli?”
“Tolong bungkusin, saya mau ambil uangnya dulu.”
Saga langsung berlari meninggalkan tempat itu untuk pergi ke ATM. Dengan cepat, dia mengambil uang sepuluh juta dari sana. Tidak ada keraguan sama sekali dari Saga untuk mengeluarkan uang sebanyak itu. Lagipula sisa saldo di ATM-nya masih tersisa sekitar lima ratus juta.
Saat tiba kembali di tempat penampungan kucing, pemilik toko sudah mengandangi kucing itu serta menaruh beberapa plastik makanan kucing beserta mainan serta pasir untuk penampungan kotorannya.
“Akangnya udah tau cara merawat kucing?”
“Tau.” Saga menjawab bohong biar cepat.
“Kalau gitu, silakan dibawa pulang kucingnya. Urus dengan baik, ya!”
Saga pun menyerahkan uang tunai sepuluh juta dari genggaman tangannya. Pemilik toko kucing tahu Saga sedang terburu-buru, tapi tidak tahu alasannya.
“Ini uangnya.”
“Terima kasih! Hati-hati bawanya, ya!”
Setelah itu, Saga pun menjinjing kandang kucing itu dengan hati-hati. Saga tahu, membawanya dengan berlari bisa membuat kucing itu stress. Karena itu dia membawanya dengan santai.
Setibanya di kontrakan, Saga bernapas lega karena Ayano ternyata belum sampai. Dengan begitu, Saga pun bisa bersiap-siap.
Ketika sedang sapu-sapu di tengah rumah, sebuah pesan masuk ke handphone Saga. Saga bisa menebak itu pasti Ayano.
“Saga, maaf ya, aku gak jadi ke sana.”
Saga terkaget, sapu yang dipegangnya terlepas.
Saga tertunduk lesu, tahu begini dia tidak akan berlari-larian untuk mendapatkan kucing. Tapi tidak apa-apa, Saga tidak marah pada Ayano.
“Oh, gitu, ya nggak apa-apa.” Saga membalas.
“Uso~”
“Uso?”
“Bohong, hehe. Aku udah nyampe di depan kontrakan kamu.”
Deg deg deg.
Jantung Saga berdebar-debar. Ayano ada di depan? Ayano main ke kontrakkan Saga?
Saga salah tingkah, terlihat seperti gadis yang sedang jatuh cinta.
“Tu-tunggu sebentar, aku bukain gerbangnya.”
Saga pun bergegas keluar untuk membukakan pintu gerbang.
Dan benar saja, di depan gerbang sudah berdiri seorang gadis berambut hitam panjang yang mengenakan cardigan biru serta rok berwarna merah muda. Itu bukan pakaian yang biasa Ayano pakai ke kampus. Ayano bahkan memakai penjepit rambut.
Saga bisa pingsan sekarang juga.
“Ayano?”
“Saga!”
Saga segera membukakkan pintu gerbang untuknya.
“Silakan masuk, maaf kontrakannya jelek.”
Saga sengaja menyewa kontrakan yang biasa saja agar ketika temannya datang berkunjung, mereka tidak tahu bahwa Saga sebenarnya anak orang kaya.
“Wah, ternyata kontrakan Saga ada di sini. Gak terlalu jauh ya dari kampus.”
“Iya, begitulah.”
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam.
Jantung Saga berdetak semakin kencang, lebih kencang dibanding ketika sedang memikirkannya. Saga khawatir Ayano dapat mendengar suara detak jantungnya.
“Tunggu di sini, ya. Aku ambil kucingnya.” Saga meminta Ayano untuk duduk di sofa.
Tak seberapa lama, Ayano keluar dari kamarnya sembari memangku seekor kucing yang baru saja dia beli. Entah mengapa kucing itu tampak nyaman saat dipangku oleh Saga, seperti ada ikatan batin di antara mereka.
Begitu Saga datang, Ayano tampak antusias. Dia langsung meminta Saga untuk menurunkan kucingnya agar Ayano bisa mengelus-elusnya.
“Wah, kucing bengal!” Ayano tampak asik dengan kucing yang baru Saga beli. Selain dielus-elus, Ayano juga membenamkan kepalanya pada tubuh kucing itu.
Melihat Ayano yang bertingkah imut seperti itu membuat Saga hampir mimisan.
“Kucingnya ganteng banget, ya,” komentar Ayano sembari menatap wajahnya.
“Kalau yang punyanya?”
Ayano terdiam sejenak, kemudian tersenyum. “Ganteng juga, kok. Iya kan Meng?” jawab Ayano sambil memandangi kucingnya.
Baru kali ini ada yang menyebut Saga tampan selain anggota keluarganya sendiri. Saga senang setengah mati, rasanya ingin keluar dari kuliah dan menikahi Ayano saat ini juga.
“Oh iya, nama kucingnya siapa?” Ayano menoleh pada Saga.
Saga terbatuk. Dia lupa belum memikirkan nama untuk kucingnya.
“Na-namanya Doggy.”
Saga tidak terpikir nama lain selain itu.
Ayano tertawa. “Doggy? Kok kayak nama anjing, ahahaha.”
“Nggak papa biar beda. Anjing di rumahku juga namanya Catty.”
“Oh, gitu ya. Saga lucu banget kalo ngasih nama hewan.” Ayano lalu kembali menoleh pada kucingnya.
Saat ini, Saga merasa sedikit takut karena berduaan dengan Ayano di kontrakkan. Takut mengundang kecurigaan bagi warga sekitar.
Saga memang tidak berniat melakukan apa-apa, tapi tetap saja dia takut.
Sementara itu, Ayano tampak tenang-tenang saja. Dia bahkan merasa betah karena bisa bermain dengan kucing peliharaan Saga.
Di Jepang main ke rumah teman lelaki memang hal yang biasa, bahkan saat masuk ke kamarnya sekalipun. Di Jepang benar-benar tidak dipermasalahkan. Oleh karena itu, Ayano tenang-tenang saja saat masuk ke dalam kontrakan Saga. Dia tidak tahu perbedaan budaya di sana dengan di Indonesia.
“Enak ya Saga bisa melihara kucing. Di asrama perempuan tidak diperbolehkan. Jadinya aku main sama kucing jalanan aja.” Ayano mengelus-elus kucingnya.
“Yaudah, kalo kamu mau main sama Doggy kamu dateng ke sini aja.”
Saga keceplosan berkata begitu. Bukankah itu artinya Saga ingin Ayano sering main ke sini?
Ayano pun tersenyum. “Iya, baik aku akan sering main ke sini.”
Ayano menjawab polos-polos saja, sedangkan Saga tidak kuat menahan kesenangannya lagi.
“Saga udah sarapan belum?” tanya Ayano.
“Eh? Belum sih. Biasanya masak telor kalau pagi-pagi, tapi hari ini lagi males.”
Ayano pun beranjak dari tempat duduknya.
“Mau aku masakin? Aku juga kebetulan belum sarapan?”
Saga tertohok. “Di-dimasakkin Ayano?”
“Iya.”
Butuh waktu beberapa saat sebelum Saga membalas. “Iya, iya, boleh silakan pakai saja dapurnya.”
“Makasih.”
Ayano pun pergi ke dapur, dia melihat bahan-bahan yang ada sebelum memutuskan ingin membuat apa.
Saga hanya mengintip dari balik tembok.
“Aku pake telur sama nasinya gapapa, ya?” tanya Ayano.
“Iya, pake aja yang banyak.”
“Oke, Saga tunggu di kursi, ya.”
Pagi itu, Saga benar-benar gugup saat menunggu Ayano memasak di dapur. Suara oseng-osengnya terdengar begitu jelas. Saga merasa Ayano sudah seperti istrinya yang sedang membuatkannya sarapan.
Saga lalu menggeleng-geleng, tidak ingin berfantasi terlalu jauh.
Tak seberapa lama, Ayano pun datang membawa dua piring masakan. Terhidang dua makanan yang belum pernah Saga lihat sebelumnya.
“Ini namanya omurice. Saga pernah makan?”
Saga menggeleng. “Belum.”
“Kalo gitu cobain.”
Makanan di hadapan Saga adalah nasi goreng yang dibungkus oleh telur dadar. Nasi gorengnya sangat merah karena diberi banyak saos.
Saga pun mulai mencicipi masakannya.
“Enak. Enak banget!”
Serasa terbang di surga, masakan Ayano benar-benar enak, meskipun tidak seenak masakan buatan Lisa.
“Wah, benarkah? Syukurlah. Saya cukup sering membuat masakan ini, jadi percaya diri, hehe.”
Pagi itu Saga dan Ayano sarapan omurice berdua, ditemani Doggy yang juga menyantap makanannya sendiri.
Saga menarik kembali perkataannya yang berkata bahwa dia menyesal pulang dari Surabaya sebelum liburan berakhir.
Saga bersyukur pulang lebih cepat.