Pagi ini Saga sedang memberi makan Doggy setelah kucing itu mengeong-ngeong di kakinya. Entah bagaimana, Saga jadi sayang pada Doggy. Hatinya kini terbagi dua, tidak hanya pada Catty saja. Kucing bengal jantan itu membawa berkah bagi Saga karena gara-gara dia Ayano jadi sering main ke kontrakannya.
Liburan masih lama, Saga masih tidak ada kegiatan selain bermalas-malasan di kontrakannya serta mendapat kunjungan dari Ayano.
Saga sebenarnya malu dikunjungi Ayano terus. Saga juga ingin menjadi pihak yang mengunjungi Ayano. Tapi mau bagaimana lagi, Ayano itu tinggal di asrama perempuan. Saga mana boleh menginjakkan kakinya di sana.
Kecuali kalau dia berpura-pura menjadi tamu.
“Ah, semua ini berjalan terlalu lancar. Ayano punya perasaan gak sih sama gua? Kalau gua tembak bakal diterima gak?”
“Gimana kalo ada yang suka ke Ayano juga, terus dia ditembak dan malah diterima, terus mereka jadian, deh. Nanti gua harus apa?”
Saga berbicara dengan dirinya sendiri, memikirkan hal-hal buruk yang terjadi. Saga benar-benar tidak bisa membayangkan seandainya Ayano jadi pacar orang lain.
Saat sedang melamunkan hal itu, tiba-tiba ada suara bel yang berbunyi.
“Eh? Ayano dateng lagi? Biasanya kan ngabarin dulu.” Saga lantas beranjak dari tempat tidurnya menuju keluar.
Begitu menengok lewat jendela dia terkaget, ternyata yang datang bukan Ayano, melainkan Ranti; pacar pura-puranya Argi.
Saga pun keluar dari dalam kontrakannya.
“Arginya gak ada,” ucap Saga.
“Gua gak nyariin Argi, kok. Gua nyariin lu,” balas Ranti.
“Eh? Gua? Mau apa?”
“Bukain dulu gerbangnya.”
Saga pun membukakan gerbang untuknya, Ranti pun masuk setelah turun dari motor. Motornya dia taruh di luar gerbang.
“Gua izin masuk ya, mau ganti baju. Lu tunggu di luar.”
“Eh, bentar-bentar, gimana ini?”
“Udah, tunggu aja.”
Ranti masuk ke kontrakkan Saga sembari menjinjing sebuah tas.
Saga pun duduk di kursi depan, bertanya-tanya untuk apa Ranti berganti baju. Padahal bajunya tidak kotor ataupun basah.
“Apa dia ganti celana dalam?” batin Saga.
Tapi kalau hanya itu untuk apa jauh-jauh ke kontrakan Saga?
Tak seberapa lama, Ranti muncul dari balik pintu, dia mengenakan sebuah kostum aneh yang tidak pernah Saga lihat sebelumnya.
“Lu, lu ngapain pake kostum aneh gitu?!”
Ranti langsung menggeplak kepala Saga. “Ini bukan kostum aneh, ini namanya kostum cosplay. Lagian aneh dari mananya? Gua kan cuma pake seragam sekolah Jepang aja.”
Di hadapan Saga, Ranti memakai seragam sekolah jepang dengan motif biru muda serta rok dengan warna yang sama. Ranti juga memakai sebuah bando berwarna merah yang tidak lazim dipakai orang-orang.
“Oalah, Cosplay. Terus kenapa ganti kostumnya di sini?”
Ranti menepuk pundak Saga. “Anterin gua ke event anime.”
“Hah? Ogah, ah. Itu kan kewajibannya si Argi, kenapa harus sama gua?”
“Arginya kan gak ada. Jadi terpaksa sama lu. Ayolah, gua gak bisa datang ke sana sendirian. Masa aja gua motoran pake kostum gini?”
Saga menghela napas. Seperti yang dikatakan Argi, gadis ini memang aneh sekaligus merepotkan. Tapi entah kenapa, Saga juga merasa takut pada gadis ini. Seolah ada dorongan untuk tidak menolak permintaannya.
“Lu bisa naik motor, kan?”
“Bisa.”
“Bagus kalo gitu, boncengin gua cepet.”
Ranti segera pergi menuju motornya setelah memasukkan semua bajunya ke dalam tas.
Saga tahu, cosplay ini adalah salah satu budaya Jepang. Mungkin dengan mengetahui budaya ini bisa membuat dia lebih dekat lagi dengan Ayano. Karena itu, Saga tidak menolak permintaannya. Dia bisa sekalian main karena sedang libur.
“Iya, iya, bentar gua kunci kontrakkan dulu.”
Setelah mengunci kontrakkan, Saga langsung menaiki motor yang telah diduduki oleh Ranti. Dia menyalakan motornya dan langsung melaju dengan kecepatan sedang.
“Di mana tempat acaranya?” tanya Saga.
“Di kampus ITENA.”
“Wah, jauh juga.”
“Hapal jalannya?”
“Hapal, dulu pernah main sama Argi ke sana. Ada cewek yang disukai Argi di sana.”
Ranti terdiam sejenak.
“Cewek yang disukai Argi?” tanya Ranti masih dibonceng di belakang.
“Ah, gua belum cerita, ya. Argi itu punya cewek yang dia kejar-kejar dari SMA, namanya Gaida. Dari kelas satu Argi udah suka sama dia, tapi si Gaida ini udah pacaran dari SMP sama pacarnya. Sampe sekarang belum putus, awet banget. Si Arginya juga masih suka, awet banget lagi.”
Karena bercerita di atas motor, Ranti jadi tidak bisa mendengar semua pembicaraannya. Tapi Ranti paham inti ceritanya.
“Oh, jadi dia suka sama cewek orang, ya.”
“Begitulah. Kasian sebenernya.”
Ranti sebenarnya ingin mendengar cerita itu lebih lanjut, tapi mereka sudah sampai di parkiran motor. Ranti pun segera turun dan menuntun Saga ke tempat acara.
“Lah, di sini ada tempat ganti baju. Kenapa lu gantinya di rumah gua?” Saga bertanya-tanya.
“Males ganti di sini, diliatin banyak orang.”
Berbeda dengan event anime sebelumnya yang diadakan di tengah lapangan, event kali ini diadakan di dalam gedung alias indoor. Keuntungannya cuaca tidak terlalu panas, tapi kerugiannya event kali ini harus mengeluarkan biaya masuk, dan tempatnya juga tidak seluas yang sebelumnya.
“Wah, jadi ini event anime, banyak orang pake kostum aneh.” Saga berkomentar.
Saga digeplak lagi oleh Ranti.
“Jangan bilang kostum aneh, ini kostum cosplay!”
“Oh iya, sorry-sorry.”
Pada event kali ini, Ranti tidak berburu merchandise lagi, tetapi berperan menjadi cosplayer. Para cosplayer (Orang yang berkostum seperti karakter anime/film) biasanya berkeliling di sekitar arena event. Menikmati acara sekaligus memakerkan kostum yang mereka kenakan.
“Cosplayer lain banyak yang diminta foto bareng. Lu kok enggak?”
Pertanyaan Saga membuat Ranti menggeplak kepalanya lagi.
“Gua baru pertama kali pake kostum cosplay, wajar dong. Lagian gua juga gak berharap diajak foto, kok.” Ranti berdecak.
Ranti tentu berbohong. Dalam lubuk hati terdalamnya, dia ingin sekali ada pengunjung yang mengajaknya berfoto bersama. Itu adalah salah satu pencapaian dan kesenangan bagi para cosplayer.
“Pe-permisi, Kak. Ini cosplay Suzumiya Haruhi, ya?” tanya seorang lelaki berkacamata dengan kulit agak sedikit gelap.
“Iya.” Ranti menjawab ramah.
“Boleh foto bareng gak, Kak?”
“Oh iya, boleh.”
Lelaki itu pun memberikan ponselnya pada temannya. Ranti dan lelaki itu pun berdiri bersebalahan dan berfoto dengan banyak gaya.
“Terima kasih, Kak!”
“Sama-sama.”
Setelah lelaki itu pergi, Ranti menyunggingkan sedikit senyum.
“Ciee ada yang ngajak foto bareng. Seneng pasti,” goda Saga.
Ekspresi senyum Ranti kembali hilang. “Enggak, biasa aja.”
Ranti bilang, tokoh yang di-cosplay-kan oleh Ranti adalah tokoh yang kurang populer di kalangan para pecinta anime. Tidak populer seperti Naruto, Luffy, Nezuko, Rem, Gojou Satoru, Mikey, dan banyak lainnya. Oleh karena itu, Ranti sangat jarang ada yang mengajak foto bareng.
Namun, meski begitu, Ranti senang, karena rupanya ada beberapa yang tahu tokoh yang sedang dia cosplay-kan.
“Eh, Ranti! Kita ketemu lagi!”
“Wah, kali ini jadi cosplayer! Tokoh dari anime apa ini?”
Ranti kembali bertemu dengan dua teman sehobinya, Wanda dan Kinal. Mereka tidak terlalu dekat, hanya sering pergi ke event bersama saja saat SMA.
“Ini cosplay Suzumiya Haruhi dari anime The Melancholy of Suzumiya Haruhi. Tau gak?”
Keduanya menggeleng.
“Yah, kalian coba tonton deh. Animenya rada jadul emang, tapi seru kok.” Ranti tersenyum.
“Ok! Kapan-kapan aku nonton!”
“Ayo Ranti kita foto bareng!”
Ranti pun melirik Saga, meminta dia untuk memfotokan mereka bertiga.
“Eh, Ranti ini siapa lagi?”
“Cowok baru?”
Dengan cepat Ranti membalas. “Bukan, dia cuma temen. Pacar aku yang kemarin itu.”
“Oh, kirain.”
“Bagus deh, yang kemarin lebih ganteng soalnya.”
Saga merasa sebal mendengarnya. Sudah minta difotokan tapi malah mengejek. Ingin sekali Saga meninju wajah kedua teman Ranti.
“Oke, satu dua, cekrek!”
Setelah melakukan pemotretan dengan beberapa gaya, Saga pun memberikan handphonenya kembali pada pemilik.
“Waah, makasih, ya.”
“Sampai ketemu lagi, Ranti!”
Wanda dan Kinal meninggalkan Ranti dan Saga.
“Siapa sih mereka itu? Sombong banget ngejek anak orang kaya!” Saga benar-benar kesal.
“Udah lah, gitu aja marah. Argi kan emang lebih ganteng.”
Setelah berjam-jam berada di event, Ranti pun merasa cukup dan merasa ingin pulang.
“Udahan ah, pulang yuk.”
“Akhirnya….”
“Tapi makan dulu bentar. Aku lagi pengen Okonomiyaki.”
“Oke.”
Saga dan Ranti keluar dari bangunan acara. Ranti tidak mau mengganti kostumnya di sini, jadi dia pergi ke stand makanan masih dengan menggunakan kostum cosplay.
“Okonomiyakinya dua,” pesan Saga.
“Oke.”
Ranti mengeluarkan dompetnya. “Ini uangnya, gua yang bayar.”
Saga menolak. “Gapapa, biar gua aja yang bayar. Ini banyak uang kembalian.”
“Uang kembalian? Itu kan uang seratus ribuan.”
“Iya, kembalian dari beli kucing bengal.”
Ranti menghela napas. “Terserah deh, anak keluarga Harvent mah bebas.”
Saga terkaget. “Lu kok tau gua anak keluarga Harvent? Dikasih tau Argi, kah?!”
“Enggak, gua bisa nebak aja. Lagian anak kuliahan mana yang ngeluarin duit dua puluh juta buat hal yang gak berguna? Selain itu, gua emang punya kekuatan khusus, makanya gua tau.”
Sudah Saga duga, Ranti ini memang bukan orang biasa. Bisa mengetahui Saga anak keluarga Harvent saja sudah sangat hebat. Padahal banyak marga orang kaya di Indonesia, bukan cuma Harvent saja.
“Oke, jaga rahasia, ya.”
“Iya, tenang aja.”
Mulai detik ini Saga bersumpah tidak akan bersikap macam-macam pada Ranti.
Begitu okonomiyaki matang, mereka berdua langsung menyantapnya selagi masih hangat. Saga cukup familier dengan makanan ini karena keluarganya sering membuat di rumah.
Saga memang kurang tahu budaya Jepang, tapi kalau makanannya dia tau banyak.
Ketika sedang mencicipi Okonomiyaki-nya, Saga dikejutkan oleh kedatangan seorang perempuan. Dia memakai kacamata serta pakaian kuliah yang rapi.
“Saga? Sedang apa di sini? Kamu suka anime?”
Orang yang berada di depannya adalah Gaida, gadis yang sudah tiga tahun Argi kejar.
“Enggak, aku nemenin temen. Gaida gimana kabarnya?”