37

1716 Kata
(Flashback) Argi dan Saga sedang berdiri di sisi jalan menunggku angkot biru yang bertujuan ke kampus ITENA. Saga bingung dengan Argi yang tiba-tiba memaksanya mengajak. “Ada apa sih di kampus ITENA? Kok tiba-tiba banget?” “Ikut dulu aja pokoknya, nanti gua kasih tau pas di angkot.” Argi belum mau memberitahukan pada Saga karena takut jika nantinya Saga menolak untuk ikut. Setelah mereka berdua memasuki angkot, Saga kembali bertanya. “Ada apa sih sebenernya?” Argi menghela napas. “Jangan kaget, ya.” “Iya, ada apa?” “Gaida kuliah di ITENA.” “APA?!” Meski sudah diingatkan, Saga tetap saja terkaget. “Gaida cewek yang lu incer itu? Anak Kelas XII IPA 1?” Saga memastikan. “Iya.” Argi menjawab yakin. “Kok bisa?” “Ya emang dia kuliah di sini. Di Bandung. Alasan gua mau ikut kuliah di sini sama lu juga salah satu alasannya karena ada Gaida di deket kampus sini. Sorry gak ngasih tau lu soal ini.” Argi terlihat merasa bersalah, Saga jadi tidak enak melihatnya. “Lu masih ngejar-ngejar dia? Bukannya lu bilang udah nyerah?” “Gak bisa, gak semudah itu. Gaida itu cewek impian gua, tujuan hidup gua, gua gak mau ngelepas dia gitu aja.” “Tapi dia udah punya pacar. Dia sama pacarnya udah jadian lima taun, lu gak punya kesempatan, Argi.” “Selama janur kuning belum melengkung, gua gak bakal nyerah.” Saga menghela napas. Benar seperti kata pepatah, orang yang sedang jatuh cinta memang sulit dinasehati. “Yaudah, gua turun aja kalo gitu, lu temuin dia sendiri. Kir—” Argi langsung membekap mulut Saga. “Eh, jangan gitu dong, temenin gua anjir. Gua gak berani kalau sendirian.” “Mmmm mmmm mmmm.” Saga tidak bisa berbicara. Setelah Argi melepas tangannya dari mulut Saga, barulah dia bisa berkata-kata. “Cupu banget sih. Tampang aja ganteng, mental kayak tempe.” “Gu-gua belum pernah pacaran, Sag. Gua gak tau cara deketin cewek, gua biasanya yang dideketin. Lu harus datang buat mengurangi kegugupan gua.” “Oke deh, oke, cuma hari ini aja. Tapi lu mau ngapain nemuin Gaida?” tanya Saga. “Gua mau mastiin apa dia masih pacaran atau udah putus. Dia kan LDR-an sama pacarnya. Siapa tau udah putus.” Argi sedikit berharap. “Kalau udah putus emang lu mau ngapain?” “Ya deketin dia lah.” “Kalau belum?” “Gua mau nyerah dan lupain dia selama-lamanya.” “Yakin?” Saga terlihat ragu mengingat sifat Argi yang pantang menyerah. “Gua akan berusaha.” Mereka pun sampai di depan kampus ITENA setelah lima belas menit perjalanan menggunakan angkot. “Dia kuliah jurusan apa?” tanya Saga. “Teknik Informatika.” “Lu kok bisa tau?” “Segala tentang Gaida gua tau.” Argi menjawab dengan percaya diri. “Cuih.” Kampus kebetulan sedang ramai saat itu, Saga dan Argi bertanya pada para mahasiswa di sana lokasi gedung jurusan Teknik Informatika berada. Mereka pun segera diarahkan ke sana. “Nanti kalau ketemu orangnya lu mau bilang apa?” tanya Saga. Argi langsung memakai kacamata serta masker. “Lah, lu ngapain?” “Gua gak mau Gaida liat gua di sini.” “Lah terus ngapain lu ke sini?!” Saga naik darah. “Gua mau liat dari jauh, apakah dia beneran ada di sini? Apa dia sehat? Apa makannya teratur? Gua hanya ingin memastikan keadaannya saja.” “Terus gimana caranya lu nanya ke Gaida soal pacar dia?” Argi berdehem. “Gua mau tanya ke temen sekampusnya aja. Siapa tau ada yang tau.” Saga menampar wajahnya sendiri. “Ribet anjir.” “Yaudah, kalo gitu lu yang tanya ke Gaida langsung. Tapi jangan bilang gua ada di sini.” “Oke, oke.” Setelah berjalan beberapa saat, mereka pun sampai di gedung Teknik Informatika. Berhubung sekarang jam aktif kampus, para mahasiswa banyak yang berkeliaran di sekitar. “Lu liat Gaida, gak?” tanya Argi. “Kagak.” “Kalo liat bilang, gua mau sambil tanya-tanya.” Argi benar-benar melakukan apa yang dia katakan. Argi bertanya tentang Gaida pada para mahasiswa yang sedang nongkrong. “Permisi Mas, kenal Gaida Khairunissa mahasiswa baru Teknik Informatika?” “Maaf, enggak kenal Mas.” “Oke, terima kasih.” Argi tidak malu bertanya, atau lebih tepatnya tidak tau malu. “Permisi Mas, kenal Gaida Khairunissa mahasiswa baru Teknik Informatika?” “Kenalnya Gaida Vanessa, anak Arsitektur.” “Permisi Mba, kenal Gaida Khairunissa mahasiswa baru Teknik Informatika?” “Saya anak Sistem Informasi, jadi gak kenal, maaf ya.” “Permisi Mba, kenal Gaida Khairunissa mahasiswa baru Teknik Informatika?” “Saya bukan mahasiswa jadi tidak tau.” Argi sudah berkeliling bertanya, tapi tidak ada satupun yang menjawab tahu. “Gaida mungkin lagi gak ngampus,” ucap Saga. “Enggak, gua yakin Gaida ada di sini. Gua bisa merasakan kehadirannya.” Ucapan Argi membuat Saga merinding. Tak seberapa lama, Argi bertanya lagi pada mahasiswa sekitar. “Permisi Mba, kenal Gaida Khairunissa mahasiswa baru Teknik Informatika?” “Oh, Gaida, kenal. Itu mah temen aku atuh. Yang dari Surabaya, kan?” Argi tersenyum di balik maskernya. “Iya, bener. Dia punya pacar gak sih?” Argi bertanya to the point. Mahasiswi yang mendengar itu langsung tersenyum pada Argi. “Masnya suka ya sama Gaida?” “E-enggak, nanya aja.” “Hmmm… aku gak tau sih Gaida punya pacar apa enggak. Dia gak pernah cerita.” Jawaban itu membuat Argi tertunduk lesu. Kalau begini apa gunanya Argi bertanya. “Oh, yaudah, kalo gitu terima—” “Eh, Mas-mas. Itu Gaidanya ada tuh, baru keluar dari kantin. Masnya tanya langsung aja.” Tampak sesosok gadis berambut pendek berkacamata yang mengenakan kawat gigi. Gadis itu sedang memeluk buku di dadanya. Jantung Argi berdegup kencang. Berapa kalipun Argi melihat wajahnya, reaksi tubuhnya tidak pernah berubah. Argi selalu menyukai Gaida setiap kali mereka bertemu. “Mas-nya kok mau sih sama Gaida? Dia kan biasa aja, beda sama Mas-nya yang ganteng,” ucap gadis itu. Meski Argi mengenakan masker dan kacamata hitam, gadis itu bisa tahu kalau Argi sangatlah tampan. “Cinta itu buta, Neng. Bagi orang lain Gaida mungkin biasa aja, tapi bagiku dia lebih cantik ketimbang bidadari.” Argi lalu membuka masker dan kacamatanya. “Terima kasih, ya!” Gadis itu terpukau saat melihat wajah Argi, ternyata Argi lebih tampan dari dugaannya. Seandainya Argi tidak menyukai Gaida, gadis itu mungkin akan mengajaknya berkenalan saat ini juga. Setelah itu, Argi memakai kembali masker serta kacamatanya dan berjalan menuju Saga yang sedang duduk sendirian. “Sag, Sag, itu ada Gaida! Cepetan tanyain!” “Lah, kok sama gua sih? Sama lu lah. Gentle bro!” “Gua gak berani, Sag. Mulut gua seperti ke kunci kalo ngobrol sama Gaida. Dan yang paling penting, gua gak mau berada di posisi canggung seandainya Gaida bilang kalau dia masih berpacaran sama cowoknya. Jadi cepetin, lu yang tanya.” Argi menangkupkan kedua lengan. “Alah, oke deh, oke. Gua tanyain.” “Siip, makasih, Sag! Nanti gua bantuin juga deh biar lu bisa dapetin Ayano.” Wajah Saga sedikit memerah. “Iya, iya.” Saga pun berjalan mendekati gadis yang disukai oleh Saga itu. Sedari tadi dia masih berdiri sembari memeluk buku paket di dadanya. “Kok bisa sih Argi suka sama cewek biasa ini? Apa Argi suka cewek NERD, ya?” batin Saga. Begitu mendekat pada Gaida, Saga pun menyapa. “Gaida!” Gaida menoleh. “Loh, loh, loh? Saga ngapain di sini?!” “Aku kuliah di UPD, kebetulan lagi main ke sini.” “UPD? Wah, hebat! Itu kan kampus negeri!” “Ah, jangan muji gitu, biasa aja.” Saga tidak bisa bilang kalau dia adalah mahasiswa titipan. Saga menatap Saga dari bawah sampai atas. “Keren lah pokoknya. Gak nyangka ada temen satu sekolah yang sama-sama kuliah di Bandung. Aku seneng.” Saga tersenyum. “Kamu masih pacaran sama Heru?” “Eh, kenapa tiba-tiba nanya itu?” “Jawab aja.” “Iya… masih, kita LDR-an. Kenapa emang?” Saga tersenyum lagi. “Gapapa, nanya aja. Makasih, ya.” Saga lantas pergi meninggalkan Gaida. “Saga! Tunggu bentar!” Saga menoleh. “Ada apa?” “Kamu sengaja dateng ke sini cuma buat nanyain itu aja?” “Iya.” “Kenapa? Emangnya penting kalau tahu aku punya pacar apa enggak?” “Penting banget.” Setelah mengatakan itu, Saga pergi meninggalkan Gaida yang terdiam tanpa kata. Saat itu, Saga tidak sadar telah membuat kesalahan. Tindakannya itu telah membuat Gaida menaruh hati padanya. Semenjak kedatangannya itu, Gaida jadi sering sekali memikirkan Saga. Menurut Gaida, Saga sangat berani karena menanyakan hal itu padanya. Juga sangat romantis karena terjadi di kota Bandung. Selang beberapa bulan, Gaida pun putus dengan Heru. Gaida diputuskan oleh Heru. Heru bilang dia tidak suka LDR-an, dan Heru bilang dia juga sudah punya gadis yang disuka. Entah mengapa Gaida tidak menangis saat itu. Gaida juga bilang bahwa dia sama-sama tidak suka LDR-an, dan sama-sama sudah punya pria baru yang disuka. Heru senang mendengarnya, karena putusnya hubungan mereka tidak menimbulkan drama meski mereka sudah lebih dari lima tahun berpacaran. Pada akhirnya, Gaida dan Heru putus secara baik-baik, dengan persetujuan kedua belah pihak. (End of flasback) Sekarang, hati Gaida tertuju pada Saga. Dia selalu berharap Saga datang lagi ke kampusnya. Gaida mengharapkan hal itu setiap hari. Dia sempat ingin pergi ke kampus UPD untuk menemuinya secara langsung, tapi Gaida tidak berani untuk datang begitu saja. Takut Saga sudah punya pacar baru, takut Saga tidak mau berbicara dengannya, takut Saga sudah pindah kampus. Gaida tidak pemberani seperti Saga, dia tidak bisa datang begitu saja ke kampus orang lain. Karena itulah Gaida menyukai Saga, Gaida suka pada keberaniannya. Hari ini, impian Gaida seolah terkabul saat melihat Saga sedang makan okonomiyaki di kampusnya lagi. Gaida tidak bisa berhenti tersenyum. Ada sedikit kegugupan, tapi Gaida berhasil mengatasinya. Dengan memaksakan diri, Gaida berjalan dan menyapa Saga yang sedang duduk menyantap makanan. “Saga, sedang apa di sini? Kamu suka anime?” Saga menoleh. “Enggak, aku nemenin temen aja. Gaida gimana kabarnya?” Jantungnya berdebar-debar. Sudah lama dia tidak mendengar suaranya lagi. Orang yang dia suka ada di hadapannya sekarang. “Aku baik-baik aja. Saga sendiri gimana?” “Aku juga baik-baik aja.” Gaida tersenyum. “Syukurlah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN