Setiap kisah pasti memiliki akhir, untuk melanjutkan kisah baru bersama orang lama, atau membuat kisah baru dengan orang baru.
***
Begitu gue sadar gue mendapati diri sudah berada di rumah sakit, dengan keadaan udah diinfus di dalam ruang perawatan. s**l, kenapa gue harus tumbang sih. Tapi untung setelah selesai sidang tumbangnya, kalau sebelum, entah bagaimana jadinya nasib skripsi gue.
Gue mencoba mengegakkan tubuh, dan seseorang dengan sigap membantu gue untuk bersandar. “Kamu baik-baik aja?” tanya orang itu. Gue terkejut mendapati Mas Rillo yang kini berdiri di samping ranjang perawatan.
Sejak kapan Mas Rillo di sini?
Gue juga bisa mendapati Inara yang sedang duduk di sofa ruangan ini sambil menunduk lesu.
Tak lama kemudian pintu ruang perawatan gue terbuka dan Kavin datang dengan wajah paniknya. "Kok bisa gini Git?" Ia terlihat bingung sekaligus khawatir. Tangannya terulur untuk merapikan rambut yang memang acak-acakan dan menangkup wajah gue sembari mengecek suhu dahi.
Gue bisa mendengar suara dengusan kasar Inara sebelum keluar dari ruangan, dan ia menutup pintu lebih kencang dari pada yang seharusnya. Meninggalkan gue sama Kavin dan Mas Rillo di dalam ruangan.
"Aku udah hubungin orangtua kamu, mereka lagi nyari tiket ke sini," jelas Kavin.
"Makasih Kak," jawab gue singkat.
Mas Rillo mulai beranjak dari kursinya di samping gue untuk keluar. Tapi gue menahan lengannya biar dia nggak pergi lebih jauh. Mas Rillo pun mengerti, dan ia kembali duduk di tempatnya.
Kavin melihat semuanya di depan mata kepalanya, ia melepaskan tangkupan tangan dari wajah gue dan bungkam seribu bahasa.
"Maaf aku baru tau kamu di opname pas lihat Bagas di lobby tadi," ucap Kavin dengan penuh penyesalan.
"Mayang dirawat di sini juga?" tanya gue setelah mengambil sebuah kesimpulan. Kavin tidak mungkin ada di lobby rumah sakit tanpa alasan bukan? Dan anggukkan darinya pun menjawab pertanyaan gue barusan.
Setelahnya cuma ada keheningan. Baik gue, Kak Kavin maupun Mas Rillo nggak mengeluarkan suara. Sampai pintu ruangan gue terbuka dan menampilkan sosok Khalil dan Bagas.
"Git! Gue bawa nasi padang nih. Bubur sini nggak enak pasti! Yang ada lo makin lama sembuh." Bagas berkelakar dengan seenak jidat.
"Lo b**o banget sih, orang lagi sakit dikasih nasi padang," umpat Fikar di belakang mereka.
"Otak Bagas kesumpel, jadi wajar lah," timpal Aldo yang kini ikut memasuki ruangan.
Perdebatan mereka menimbulkan keriuhan. Tidak lama kemudian Zenata dan Inara menyusul di belakang. Mereka semua menyelamatkan gue dari kecanggungan ini.
"Bisa bicara sebentar?" ucap Mas Rillo tiba-tiba ke Kak Kavin. “Untuk sekarang Egita sudah ada yang jaga,” lanjutnya.
Semua langsung terdiam, mendadak suasana kembali hening. Mata teman-teman gue bergerak dengan gelisah, dan lengan mereka saling bersenggolan satu sama lain, seperti mengerti bahwa ini bukanlah situasi yang baik.
Anggukkan yang Kak Kavin lontarkan membuat gue semakin was was. Mas Rillo kemudian beranjak keluar ruangan lebih dulu, tapi Inara menarik bajunya untuk melarang tanpa bersuara, hanya melalui tatapan mata.
Mas Rillo kemudian menurunkan tangan Inara dari bajunya dan memberikan usapan di kepalanya. Setelahnya ia keluar ruang perawatan disusul sama Kak Kavin.
Inara langsung menangis di tempat yang membuat Aldo sang kekasih langsung memeluknya.
"t*i lu, mencegah civil war apaan?! Pakai bawa-bawa nasi padang sebagai penyelamat segala lah!" protes Fikar ke Bagas.
"War-nya baru mulai itu mah," celetuk Khalil.
Gue baru saja bergerak untuk beranjak turun dari ranjang perawatan dan menyusul mereka, tapi udah ditahan duluan sama Alan. "Urusan laki-laki Git, lo nggak usah ikut campur," ujarnya.
"Pengalaman dia," sindir Khalil sambil melirik ke arah Aldo dan Alan.
Keduanya sempat terlibat konflik saat Alan selaku ketua organisasi Mapala kampus, terlibat kisah cinta dengan Windy, junior di organisasi yang sama. Padahal organisasi mereka sudah membuat peraturan untuk tidak saling menjalin kasih antar anggota. Dan Aldo selaku wakil ketua organisasi yang paling keras melarang hal itu. Hal itu sempat membuat persahabatan keduanya renggang, namun pada akhirnya semua bisa terselesaikan dengan baik saat Alan mengundurkan diri sebagai ketua dan menyerah akan hobinya untuk perempuan yang ia cintai.
"Lo mending nikah sama gue aja lah," ucap Bagas yang membuat Khalil menoyor kepalanya.
"Daripada sama dia, mending sama gue," kata Khalil.
"Liat-liat juga anjir! Saingan lo Mas Rillo sama Kak Kavin yang udah mapan dan tampan. Lah elo pada skripsi aja masih luntang-lantung masa mau nikahin dia?" semprot Aldo dengan pedas.
"Boleh tinggalin gue sama Nat dan Ina?" pinta gue ke mereka. Perdebatan ini pasti tidak akan selesai dalam waktu singkat jika gue tidak mengambil tindakan. Para cowok itu pun akhirnya keluar ruangan gue setelah mendengar permintaan gue.
"Git," ucap Nat sambil memegang tangan gue. "Bagas udah cerita semuanya,"
Ya gue udah bisa menduga mengenai hal ini, nggak mungkin Inara bisa ada di sini kalau dia nggak tau kenyataannya.
"Gue gatau lo mendem masalah seberat itu sendirian, buat apa ada kita?" tanya Nat.
Gue cuma menyunggingkan seulas senyum. "Bukannya nggak mau cerita, mungkin waktunya belum tepat sampai udah ketauan duluan."
Inara kemudian memeluk gue masih dengan isak tangisnya. "Maafin gue, gue nggak tau kalau ceritanya kayak gitu. Gue kira lo cuma memanfaatkan perasaan Mas gue."
Gue pun menganggukkan kepala mengerti keadaannya. Gue tau Inara lagi emosi kemarin, makanya dia bersikap kayak gitu. Lagian siapa sih yang nggak sedih ngelihat kakaknya ditinggal nikah hampir dua kali?
"Gue minta tolong boleh?" pinta gue ke mereka.
"Apaan Git?" tanya Nat.
"Anterin gue ke ruangannya Mayang,"
“Mayang… dirawat di sini juga?” tanya Inara dengan terkejut.
***
Gue sekarang sudah berada di depan ruang perawatan Mayang, ditemani oleh Nat dan Inara. Dengan memakai kursi roda mereka mengatar gue, karena kata perawat takutnya gue collapse lagi kalau jalan terlalu jauh.
"Git, boleh gue aja nggak yang masuk? Pengin gue obrak-abrik rasanya," ucap Zenata menggebu.
"Inget anak Nat," tegur gue.
Zenata langsung mengkerut begitu gue ungkit soal anak. Mentalnya yang sekuat baja berubah menjadi selunak agar-agar begitu membahas hal menyangkut kehamilannya.
"Tebakan lo semua salah, ternyata yang nikah duluan Nat kan bukan gue," ucap gue dengan tawa miris.
"Lo nggak jadi nikah Git?" tanya Inara sedikit kaget.
"Mungkin akan gue tunda, gue belum siap menikah dalam waktu dekat," jelas gue.
"Lo belom siap atau lo bingung mau nikah sama yang mana?" tanya Nat tepat sasaran yang membuat gue mengeluarkan cengiran.
"Gue masuk dulu ya," pamit gue ke mereka.
Inara membantu membukakan pintu ruangan setelah mengetuknya, dan gue masuk ke dalam ruang perawatan Mayang.
Mayang terlihat begitu terkejut mendapati gue yang duduk di kursi roda dengan sebuah infusan yang tergantung. Ini bukan pertemuan pertama gue denganya, gue pernah beberapa kali melihatnya, entah bagaimana dengan dia. Tapi dari keterkejutannya gue yakin dia mengenal siapa gue.
"Egita?"
"Iya," jawab gue. “Ini pertemuan pertama kita secara langsung bukan? Aku nggak nyangka kamu akan mengenalku dalam satu tatapan.”
"Aku lihat foto kamu di hape Kavin," kata Mayang seolah menjelaskan.
Gue hanya menanggapinya dengan senyuman. "Aku juga pernah lihat kamu sama Kak Kavin di toko buku," jawab gue yang membuat ekspresi Mayang seketika berubah.
Setelahnya kami berdua terdiam, sama-sama merasa canggung. "Kamu ... sakit apa?" tanya Mayang kemudian.
"Aku belum tau diagnosanya, tapi tadi sempet collapse."
Suasana kembali hening.
"Kapan kamu keluar rumah sakit?"
"Mungkin lusa, atau tiga hari lagi. Aku disuruh bed rest seminggu penuh," jawab Mayang.
Gue mengerti, basa-basi gini nggak akan menyelesaikan semuanya. Jadi gue memutuskan untuk langsung ke inti pembicaraan, tujuan untuk gue menemui Mayang.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
Mayang terdiam sebelum menjawab dengan kata boleh dengan lirih.
"Apa perasaan kamu sama Kak Kavin?"
Mayang mematung, ia menatap gue dengan ragu.
"Jujur aja, aku nggak apa-apa. Kita sama-sama perempuan dan aku ngerti. Karena jawaban kamu akan mempengaruhi semuanya."
"Maksud kamu?" tanya Mayang kebingungan.
"Jawab aja jujur," timpal gue.
"Bohong kalau aku bilang aku nggak suka sama Kavin," jawab Mayang. "Aku yakin semua perempuan yang ada di posisi ini juga kayak gitu," tambahnya lagi.
"Apa Kak Kavin pernah bilang kalau dia mau menikah?"
Mayang terlihat begitu terkejut sekarang, dan gue rasa Kak Kavin nggak menyampaikan apa-apa mengenai rencana pernikahan kami.
Mayang menggeleng. "Aku cuma tau kalau kalian ... tunangan."
"Maaf, aku sama sekali nggak bermaksud kayak gitu, aku akui kalau aku suka sama Kavin, tapi aku sama sekali nggak ada niatan untuk rebut dia dari kamu. Demi apapun!" ungkap Mayang.
Gue menganggukkan kepala. "Aku tau."
Kalau memang dia ada niat merebut Kavin, seharusnya sudah dia lakukan sejak dulu. Dari zaman mereka skripsi barengan, di saat intensitas mereka ketemu lebih sering. Tapi Mayang tidak melakukan itu.
"Aku nggak akan mempertahankan sesuatu yang memang udah nggak bisa aku pertahankan," ucap gue ke Mayang. Sementara ia hanya menatap gue dengan pandangan tidak mengerti.
Gue yakin, sadar atau tidak posisi gue sudah tergeser sama orang ini di hati Kak Kavin. Ini semua cuma masalah waktu. Sampai siapa yang duluan sadar kalau rasa yang dulu ada, sekarang memudar bahkan cenderung menghilang.
Kami mungkin terlalu larut dalam hubungan yang ada di zona nyaman tanpa pertengkaran ini sampai-sampai nggak sadar akan perasaan yang perlahan tersingkirkan. Kak Kavin mungkin belum sadar karena belum pernah merasakan Mayang pergi darinya. Tapi gue sudah, ditinggal sama Mas Rillo tiga bulan terakhir ini membuat gue sadar kalau gue lebih tidak bisa ditinggal sama olehnya dibandingkan tunangan gue sendiri.
"Makasih udah mau ngobrol sama aku, semoga cepet sembuh," ucap gue ke Mayang.
Mayang menganggukkan kepalanya dengan kaku. Gue pun membalikan kursi roda yang gue pakai, tapi suara Mayang menginterupsi.
"Git?"
"Ya?"
"Asalkan kalian bahagia, aku pun akan senang," ucap Mayang dengan tidak enak hati.
"Bahagia Kak Kavin bukan di aku, begitupun dengan aku."
Bahagia saya, ada di kamu Mas...
***
Gue masih gelisah karena baik itu Kak Kavin maupun Mas Rillo tidak ada yang bisa dihubungi. Padahal empat jam sudah berlalu. Khalil bilang ia sempat melihat keduanya menaiki mobil Kavin dan pergi entah ke mana.
"Gue takut mereka tonjok-tonjokkan beneran," ucap Fikar yang memperkeruh suasana.
"Dua-duanya bukan tipe panas yang suka tubir kayak lo Kar. Mereka tipe adem," timpal Bagas.
"Lo kenapa berkaitan dengan orang yang sejenis sih Git? Tipe adem-adem dan kalem gitu?" Alan bertanya keheranan.
"Ya mana gue tau," jawab gue.
Zenata dan Inara lagi beli makanan untuk mereka semua yang menunggui gue. Gimana pun juga mereka perlu makan, apalagi Nat yang lagi hamil.
Tidak lama pintu ruangan perawatan gue terbuka dan orangtua gue masuk ruang perawatan dengan wajah khawatir. Teman-teman gue yang ada di dalam ruangan serempak berdiri dan bersalaman sama mereka. Mama Papa gue langsung menghampiri gue, dan temen-temen memilih untuk keluar ruangan.
"Kamu kok bisa gini? Untung kata dokternya kamu gapapa, Cuma kecapekan dan stress." Mama mengembuskan napas penuh kelegaan. Tangannya terjulur untuk mengecek suhu dahi dan mengelus wajah gue dengan sayang.
Gue mengulas senyum. "Maaf ya Ma jadi ngerepotin sampai harus jauh-jauh ke sini,"
"Kamu itu ngomong apa, sama orangtua sendiri kok gitu. Kami nggak ngerasa direpotin," ucap Papa.
"Kamu stress mikirin apa sih?" Mama bertanya. "Jangan nyalahin skripsi, karena skripsi kamu udah kelar," potong Mama di saat gue baru mau membuka suara. Mama memang paling mengenal gue, baru saja gue mau berdalih dan mengambinghitamkan skripsi.
Gue terpekur cukup lama, dan kedua orangtua gue masih menanti dalam diam.
"Ma, Pa, Egita nggak mau nikah dalam waktu deket," ujar gue pada akhirnya.
"Emangnya kenapa? Kavin kenapa-napa?" Papa bertanya.
Gue menggeleng. "Bukan Pa, Egita masih pengin ngabisin waktu sama Mama sama Papa. Kalau nikah, waktu Egi pasti akan buat suami sepenuhnya, kayak Mbak Nares."
Mereka terdiam sejenak, kemudian Mama mengangguk mengiyakan. "Mama juga masih berat ngelepas kamu sebenernya," aku Mama.
Gue mengulum senyum. Jika orangtua gue saja belum ikhlas untuk melepas gue, bagaimana gue akan menjalani semuanya?
"Restu orang tua kan segalanya Ma, kalau Mama belum ikhlas pasti aja ada ujiannya." timpal gue.
“Memang Kavin bakal setuju?” tanya Papa.
“Sepertinya Kak Kavin juga akan minta hal yang sama.”
Gue tidak berniat untuk menjelaskan masalah hubungan kami dengan lebih mendetail ke mereka. Gue tidak ingin mereka berpikiran buruk tentang Kavin. Hubungan kami biarlah kami yang menjalani, orangtua kami hanya memfasilitasi.
“Papa pertimbangkan permintaan kamu, tapi kita harus tetap diskusi sama keluarga Kavin.” Papa menegaskan.
Gue mengangguk dan memeluk Papa. Merasa beruntung karena mereka begitu menghargai permintaan gue yang terbilang cukup mengejutkan dan tiba-tiba.
Papa mengelus kepala gue dengan sayang. “Kakakmu bilang, apa pun permintaan yang kamu ajukan, pasti ada alasan di baliknya.”
Gue mengulum senyum, seperti biasa, Mbak Nares selalu memperhatikan dan mengerti gue dalam diamnya.
Suara telepon Papa membuat kami terdiam, kemudian Papa mengangkatnya dan berbincang singkat.
“Mbakmu baru aja landing waktu dapet kabar kamu pingsan. Sampai sekarang terus-terusan telpon Papa untuk nanya keadaan kamu,” ucap Papa seraya menyerahkan ponselnya yang masih tersambung dengan Mbak Nares.
“Halo Mbak?”
“Gi, kamu baik-baik aja?”
“Iya, Mbak, tenang aja. Kata dokter aku cuma kecapekan.”
“Mama bilang kamu stress juga, jangan terlalu mikirin yang nggak perlu, Gi.”
“Iya Mbak, jangan khawatir.”
“Perkara jodoh udah ada yang atur, dan kita berhak untuk memilih yang terbaik. Sekarang kamu istirahat yang bener, bebasin diri, lakuin apa yang buat kamu seneng. Jangan stress-stres gitu ah,”
“Iya Mbak,”
“Ya udah, jangan lupa kabari Mbak soal perkembangan kesehatan kamu. Kalau nggak Mbak nggak akan kirim foto Tasyi lagi buat kamu.”
Panggilan itu terputus begitu saja saat suara tangisan Tasyi terdengar. Sepertinya keponakan gue itu berpihak pada gue agar gue tidak diceramahi lagi oleh ibunya.
"Karena sidangnya udah selesai, kamu ikut kita pulang lagi aja. Nanti ke sininya kalau ada urusan aja di kampus," nasihat Mama.
"Sebenernya urusan Egi belum selesai,"
Di saat yang bersamaan pintu ruang perawatan gue terbuka. Dan sosok Kavin kini berdiri di depan pintu.
"Kavin? Ayo sini masuk."
***
Sekarang gue cuma berdua sama Kavin di ruang perawatan. Gue meminta orangtua gue untuk pulang ke apartemen, karena menurut gue mereka butuh istirahat setelah melakukan perjalanan cukup jauh. Lantaran sudah ada Kavin, orangtua gue pun mempercayai dan menitipkan gue padanya. Begitu pun dengan teman-teman gue, gue menyuruh mereka untuk pulang.
Semenjak orangtua dan teman-teman gue pergi, gue sama Kavin belum saling berbicara. Kami masih terdiam membisu.
"Kak?" Pada akhirnya gue memilih untuk buka suara.
"Iya?"
"Sekarang di saat kakak ada di sini untuk jagain aku, kakak kepikiran Mayang yang ada di ruangannya sendirian dan nggak ada yang jagain nggak?"
Air muka Kavin sedikit berubah. Gue cukup mengenal Kavin untuk tau kalau wajahnya mengatakan ya.
"Kalau hubungan kita diibaratkan kayak jalan tol, ini ujungnya..."
Air mata gue mulai menggenang.
"Kita bisa tetep melangkah sama sama atau malah pisah. Sama kayak hubungan pacaran atau pertunangan. Semua akan berakhir, entah itu dengan menikah ataupun .... putus," ucap gue dengan sedikit tercekat pada kata putus.
"Inget pertemuan pertama kita nggak Kak? Saat itu aku putus sama Fikar..."
Air mata gue udah tidak bisa ditahan lagi sekarang. Gue putus sama Fikar saat awal masuk kuliah, hampir empat tahun yang lalu. Dan itu juga waktu yang sama untuk gue mengenal Kak Kavin.
Banyak perubahan dalam waktu empat tahun, terutama pada satu setengah tahun terakhir ini. Di saat Kak Kavin memulai skripsinya, dan intensitas pertemuan kami semakin berkurang.
"Kakak inget nggak omongan aku waktu itu?" tanya gue dengan sedikit terisak.
Mata Kak Kavin mulai berkaca-kaca, dan dia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kalau udah sama-sama ngerasa nggak cocok kenapa harus dipertahanin? Toh kita putusnya juga damai. Kalau udah nggak bisa berjalan beriringan mending pisah dari pada kita saling korban perasaan," jawab Kavin dengan suara yang bergetar.
"Kakak ngerasa nggak kalau situasi itu yang lagi kita alami sekarang?"
Kavin menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Maafin aku yang nggak bisa ngelanjutin rencana pernikahan kita Kak, maafin aku juga yang nggak bisa jadi sosok yang selalu ada untuk Kakak."
Air mata Kak Kavin mulai menetes. "Maafin aku," ucapnya sambil menggenggam tangan gue.
Kalau gue punya mesin waktu, gue ingin mengulang waktu untuk memperbaiki semuanya. Tapi menurut gue sekarang udah nggak ada yang bisa diperbaiki lagi antara gue sama Kavin.
"Kita sama-sama salah Kak, dan aku rasa Kakak juga tau itu."
Berawal dari kurangnya perhatian yang diberikan satu sama lain dan menyepelekan komunikasi, lalu memilih untuk memendam masalah dibanding mengungkapkannya dengan alasan menjaga perasaan masing-masing, hingga hubungan terkesan monoton yang malah menimbulkan celah untuk sosok lain yang membuat kami berpaling dengan mudahnya.
Gue melepaskan cincin yang ada di jari gue dan gue memberikan cincin itu ke Kak Kavin.
"Aku rasa kita harus berakhir di sini Kak."
Sudah tidak ada yang bisa dipertahankan dari hubungan yang gue anggap sempurna tanpa ada cela. Namun ternyata yang gue anggap kesempurnaan itu merupakan cela yang tak bisa terelakkan.
Jika kedua hati sudah berpaling, tidak ada yang tersisa dalam sebuah hubungan selain perasaan merana.