Gue kini sedang duduk berdua bersama Fikar, fakta mengenai kehamilan Zenata tentu saja membuat kami syok. Bagaimana keduanya bisa selalai itu? Terlebih pribadi Nat yang sedikit serampangan menambah kekhawatiran gue apakah ia bisa menjadi ibu yang baik atau tidak.
“Kok bisa Kar?” Gue menyuarakan pertanyaan yang pertamakali timbul di benak.
“Ya, bisa aja kalau emang dibuat kan?” jawabnya dengan cengiran tanpa rasa bersalah.
“Terus selanjutnya lo sama Nat mau gimana?” tanya gue, mengabaikan ketidakwarasan Fikar yang malah nyengir di saat situasi seperti ini.
“Gue pasti akan tanggung jawab, Git. Gue akan nikahi Nat.”
“Lo bahkan belom lulus Kar,”
“Yeah, tapi gue udah nyicil bisnis buka agen ekspedisi di daerah Tangerang, baru dua, mungkin akan gue tambah satu lagi.”
“Orangtua lo dan Nat lebih dari mampu untuk biayai pernikahan dan biaya hidup kalian, gue percaya itu. Tapi ini bukan tentang itu, Kar. Nat akan jadi seorang ibu. Waktunya, kebebasannya, hobinya, semua pasti akan berubah.”
Fikar terdiam. “Sebetulnya itu juga yang gue khawatirkan, Git. Nat belum matang secara emosional, hanya secara organ.”
Gue mendelik melihat Fikar yang masih saja menyimpang. “Gue serius.”
“Gue juga,” timpal Fikar. Ia kemudian menyatukan kedua tangannya dan membawa bagian ibu jari ke arah mulutnya untuk digigit. Kini, tidak hanya Nat yang membuat gue khawatir, kesiapan Fikar untuk menjadi seorang ayah juga sepertinya perlu dipertanyakan.
“Yang punya rencana nikah perasaan gue, kenapa lo sama Nat yang bakalan nikah duluan?” dumel gue yang masih dapat terdengar oleh Fikar.
“Ah, ngomong-ngomong soal acara pernikahan lo, gue pinjam referensi dong, mulai dari WO, fotografer, gedung, pengisi acara dan lain-lain.”
“Semuanya Kak Kavin yang pegang, nanti gue pintain deh.”
“Oh iya Git, ngomong-ngomong soal Kavin, gue lihat dia di Bali, sama Mayang, geng skripsinya itu.”
“Bagas udah cerita, Mayang sekarang kerja di kantor Kavin, mereka ke Bali dalam rangka perjalanan bisnis,” jelas gue.
Fikar terdiam, kemudian menggelengkan kepala dan terlihat berpikir keras. “Gue awalnya mikir itu semua kebetulan, tapi setelah denger Bagas kalau ini bukan yang pertamakalinya, gue pun berpikir ulang Git.”
Gue masih diam.
“Lo yakin nggak ada yang salah dalam hubungan lo sama Kavin? Masalahnya…”
“Masalahnya apa?”
“Mereka nggak terlihat kayak orang yang melakukan perjalanan pekerjaan. Kavin dan Mayang sama-sama pakai baju kasual dan celana pantai dengan es krim di tangan masing-masing, terlihat cukup mesra kalau masuk ke dalam hitungan pertemanan.”
“Kayak lo sama Nat dulu?”
“No. It’s totally different! Saat Nat masih jadian sama Danu, gue tau batasan dan bisa menempatkan diri sebagai sahabatnya.”
“Semua orang di kampus tau kalau lo itu b***k cinta Nat, menempatkan diri dari mana?” ujar gue dengan sangsi.
“Oke, kalau gitu kita ambil batas jelasnya di sini Egita Airis Zahran, lo dan Kavin udah mau nikah, paham nggak maksud gue?”
Gue mengangguk, memahami maksud perkataan Fikar. “Kemarin Kavin lebih memilih antar Mayang ke rumah sakit dibanding jemput gue di stasiun Kar,” ungkap gue pada akhirnya. Fakta ini terasa begitu mengganjal di hati hingga gue memilih untuk memberi tahu Fikar.
“Alasannya?”
“Karena Mayang nggak punya keluarga di sini.”
Fikar menghela napas. “Ribuan driver online siap dan bisa mengantarkan Mayang kapan pun Egita, seharusnya Kavin nggak menjadikan hal itu sebagai sebuah alasan, terkecuali Mayang terlibat kecelakaan berat sampai dia nggak bisa jalan ke rumah sakit.”
Gue terpekur, merenung perkataan Bagas dan juga Fikar mengenai hubungan gue dan Kavin.
“Mohon maaf gue harus bilang kayak gini sama lo Git, menurut gue lo bukan prioritas lagi untuk Kavin.”
Perkataan Fikar menampar gue hingga ke dasar bumi.
***
Setelah berbincang dengan Fikar, gue mendengarkan curhatan Zenata yang sudah lebih tenang. Gue dan Inara mencoba mengalah untuk mendengarkan cerita Zenata mengenai kehamilannya. Walaupun agak canggung tapi gue sama Inara tetep bersikap profesional sebagai sahabat Nat.
Setelahnya gue lebih memilih untuk menghilang guna menyiapkan diri untuk sidang. Gue harus ikuti kata Mama, sekarang sidang gue lah yang paling penting. Ponsel pun gue matikan karena tidak ingin mendapat gangguan. Beban pikiran gue sudah cukup berat mengenai hubungan dan rencana pernikahan gue dengan Kak Kavin. Gue tidak ingin menambah beban itu.
Dua hari kemudian sidang skripsi gue pun dilaksanakan. Gue selesai sidang dengan waktu yang tergolong masih pagi, jam setengah sebelas karena sidang gue mulai dari jam delapan.
Begitu keluar ruang sidang gue disambut Bagas, Aldo, Alan, Nat, dan Fikar, bahkan Khalil sang penghuni kampus terlama turut hadir. Namun tidak ada Inara di sana, juga tidak ada Kak Kavin hingga gue hanya bisa mengulum senyum miris. Gue sudah kehilangan segalanya bukan? Rasa cinta Kak Kavin, kenyamanan yang Mas Rillo hadirkan, maupun sosok sahabat seperti Inara.
Setelah memeluk dan memberikan ucapan selamat mereka semua mulai memberi bunga dan juga selempang yang bertuliskan nama dan juga gelar gue. Khalil bahkan membawakan gue boneka beruang lucu.
"Foto dulu lah foto!" teriak Alan sehingga semua semakin merapat untuk dapat terlihat di kamera.
Entah mengapa gue merasa begitu sesak saat dikerumuni oleh orang banyak dan merasakan pusing yang amat sangat. Tidak lama setelahnya semua terasa gelap dan gue tidak mengingat apa pun.