Kita tidak pernah bisa berencana kepada siapa hati ini akan tertaut. Saat hati sudah memilih, maka tak bisa lagi bibir ini untuk berdalih.
***
Rillo's POV
Saya pulang disambut dengan hangat oleh kedua orangtua. Mereka sepertinya merasa kehilangan anak sulung yang merantau selama tiga bulan terakhir ini.
Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan orangtua Egita untuk melepaskan anak bungsu mereka pergi untuk menuntut ilmu dan baru pulang enam bulan sekali saat libur semester. Tadi saya juga sempat melihat mata mereka berkaca-kaca saat melepas Egita pergi.
Sementara itu respon hangat orangtua saya berbanding terbalik dengan respon adik saya. Inara bahkan tidak menyambut kepulangan saya. Biasanya dia akan nagih oleh-oleh begitu saya baru sampai pintu, tapi kali ini tidak. Dan menurut saya itu adalah hal yang aneh.
"Dek?" sapa saya waktu kami berpapasan di tangga. Tapi Inara malah melengoskan wajah dan langsung pergi ke kamarnya.
Saya salah apa sih sama dia? Pulang-pulang kenapa diginiin?
Saya memilih untuk membersihkan diri dulu, nanti saya akan tanya ke Inara kenapa dia gitu di saat semua permintaan oleh-olehnya sudah saya turuti.
Setelah selesai membersihkan diri, saya pun masuk ke dalam kamar Inara, tidak lupa untuk mengetuk pintu.
"Dek? Mas masuk ya," ucap saya seraya membuka pintu.
Tidak ada respon yang berarti, dia masih diam saja. Lagi berantemkah sama pacarnya? Kok marahnya malah ke saya?
"Dek, kamu kenapa?" Saya kembali bertanya.
"Mas yang kenapa?!" Inara balik bertanya dengan suara yang cukup tinggi. Tidak biasanya dia seperti ini.
“Loh, Mas mana tau. Pulang-pulang kamu cuekin dan langsung marah-marah gini.”
Sebuah kotak cincin yang Inara keluarkan dari laci belajarnya membuat saya mulai memahami perkara ini. Kotak cincin itu adalah kotak cincin yang saya ingin berikan kepada Egita untuk mengikatnya sebelum saya pergi.
"Maksud ini apa?!"
Saya terdiam, bingung harus memulai cerita dari mana. Saya takut memberikan jawaban yang salah dan malah merusak pertemanan mereka.
"Mas, jawab!"
Hening. Saya memilih untuk tetap bungkam.
"Mas ada hubungan apa sama Egita sampai Mas pesen cincin kayak gini segala?"
"Mas jadi selingkuhannya?
"Jadi ini yang bikin dia berubah akhir-akhir ini? Semua karena Mas?"
"Dia udah tunangan Mas! Udah mau nikah juga! Mas jangan jadi perusak hubungan orang!"
Inara terus berkata dengan nada tinggi tanpa jeda.
"Dek!" bentak saya pada akhirnya.
Sudah sejak lama semenjak terakhir kami bertengkar. Sejak saya duduk di bangku SMA saya mulai berpikir lebih dewasa dan tidak membesarkan masalah yang ada di antara kami. Dan baru kali ini saya melihat Inara semarah ini.
"Mas, dia udah mau nikah! Mas nggak kapok udah pernah ditinggal nikah?!"
Inara menangis diiringi isakkan. Saya tahu dia seperti ini karena khawatir dengan saya. Saya pun memahami betul risikonya.
Saya pun membawa Inara ke pelukan untuk menenangkan. "Mas, kenapa harus Egita? Kenapa nggak yang lain sih Mas?" tanya Inara di sela tangisannya.
"Mas nggak bisa memilih Dek, karena rasa itu ada tanpa Mas bisa rencanain," ungkap saya dengan jujur.
Untuk perkara hati kita tidak bisa rangkai sendiri bukan? Rasa ketertarikan dan kenyamanan hadir tanpa bisa diagendakan.
"Aku nggak mau ngelihat Mas sakit hati lagi Mas," ucap Inara frustasi
"Mas udah gede Dek, Mas tau yang mana yang terbaik untuk Mas,"
"Dan menurut Mas orangnya itu dia?"
"Mas bisa nyelesaiin masalah Mas sendiri, Mas harap setelah ini nggak ada yang berubah antara kamu sama dia. Biar ini jadi urusan Mas."
***
Egita's POV
Gue sampai apartemen setelah dijemput sama Bagas. Ya, selama gue pulang kampung mobil dibawa sama Bagas. Soalnya kasian dia lagi butuh mobil buat antar jemput gebetannya. Daripada mobil gue nganggur dan nggak ada yang panasin, gue pinjemin ke dia.
Bagas kaget setengah mati begitu ngelihat gue turun kereta sama Mas Rillo. Dia kayak lihat setan tadi.
"Lo beneran pulang ke rumah kan? Bukan selingkuh di suatu tempat?" tanya Bagas yang bikin gue menoyor kepalanya tadi.
"Gue beneran pulang ke rumah anjir! Cuma Mas Rilo juga ternyata ditugasin di sana. Kebetulan tugasnya udah selesai jadi kita balik bareng," jelas gue.
"Wih... jodoh, kebetulan, apa takdir tuh?" ucap Bagas spontan yang tidak gue jawab.
"Git, lo sama Kavin gimana sih sekarang?"
"Emang kenapa?"
"Beberapa kali gue ngeliat Kavin lagi berdua sama Mayang. Oh iya, Fikar juga mergokin mereka berdua lagi jalan di Bali."
"Mereka temen sekantor Gas, wajar. Kemarin juga Kavin emang lagi ada tugas di sana, dan kebetulan Mayang partner-nya dari kantor," jelas gue mencoba membela.
"Sekarang gue tanya sama lo, wajar nggak kalau sekarang gue yang jemput lo? Di saat lo udah punya tunangan."
Gue hanya diam, Bagaskara Bartram mulutnya memang b******k. b******k benarnya...
Kira-kira begitulah isi percakapan gue sama Bagas di mobil tadi yang membuat beban pikiran gue kembali bertambah.
Tidak lama ponsel gue berbunyi, kali ini panggilan dari Kavin yang gue langsung angkat tanpa pikir panjang. "Halo Kak?"
"Kamu udah sampai? Dijemput siapa?"
"Udah Kak, tadi dijemput Bagas."
"Syukur kalau gitu, maaf nggak bisa jemput. Soalnya aku lagi di rumah sakit."
"Siapa yang sakit Kak?" tanya gue dengan spontan.
"Mayang,"
Gue sempat terdiam sebelum menjawab, "sakit apa?"
"Kata dokternya tipus, tapi belum tau lebih lanjut. Dia nggak ada keluarga di sini jadi aku yang jaga. Maaf jadi nggak bisa jemput kamu,"
Gue juga nggak ada keluarga di sini...
"Nggak apa-apa Kak, bilang ke Mayang semoga cepet sembuh."
Gue langsung menutup saluran telepon dan memejamkan mata. Sampai kapan kami akan terus seperti ini?!
Gue menatap nanar gaun pengantin yang sudah jadi dan terbungkus rapi di lemari apartemen gue yang direncanakan akan digunakan untuk pemotretan pre-wedding kami.
Undangan memang belum dicetak tapi untuk baju dan jadwal pemotretan untuk pre-wedding semua sudah jadi.
Gue melihat chat yang kakak gue kirim tadi pagi ke gue setelah kereta berangkat.
Mbak Nares
Jadi, dia kan orangnya?
Gue sengaja belum membalas chat kakak gue karena gue masih galau. Dan gue rasa gue harus balas chat itu sekarang.
EgitaZahran
Iya Mbak, menurut Mbak aku harus gimana?
Gue mengambil ponsel dan menghubungi Bagas, satu-satunya orang yang dapat gue andalkan saat ini.
“Halo Nyai, ada apa lagi? Kayaknya tadi kita udah sama-sama cek, mobil lo nggak ada baret, barang gue juga nggak ketinggalan.”
“Ini bukan perkara mobil, Gas.”
“Terus apaan dong?”
“Soal Kavin…”
“Iya, kenapa Kavin?”
“Apa yang Fikar lihat saat mereka di Bali?”
“Em, gimana ya Git, sebenernya Fikar juga ngelarang gue buat kasih tau lo sebelum dia sampai sini. Katanya biar dia yang cerita langsung sama lo biar nggak menimbulkan kesalahpahaman, lagipula kita kan nggak tau kalau Mayang ternyata satu kantor sama Kavin. Tapi setelah gue bilang kalau ini bukan yang pertamakali, Fikar agak panik juga. Tapi lebih jelasnya lo tanya Fikar aja, soalnya dia nggak mau cerita secara gamblang kemarin pas video call.”
“Kenapa Fikar malah larang lo ngasih tau gue Gas?”
“Untuk jaga perasaan lo lah, mana lo dikit lagi kan mau sidang. Meski sedikit sableng, mantan lo itu cukup perhatian kok.”
***
Hari ini giliran Zenata dan Fikar yang pulang dari Bali. Oleh karenanya gue janjian sama Marsya untuk menunggu di apartemen Nat sekalian berbagi oleh-oleh yang sudah gue bawa sekalian ingin bertanya mengenai Kavin.
Setelah chat waku itu Zenata menghilang dari group chat layaknya ditelan bumi. Gue cuma dapat informasi dari Marsya bahwa Fikar memberi kabar dia dan Nat akan pulang hari ini. Mungkin Nat sibuk sama keluarga Fikar, soalnya dia banyak ngeluh juga mengenai dia yang sering disuruh-suruh di sana. Dan sejak kemarin Inara juga ikutan hilang dari group chat, makanya gue datang ke sini sekalian memastikan keadaan mereka.
Begitu gue masuk ke apartemen Nat, hanya ada Inara di dalam. Sedangkan Marsya entah berada di mana.
"Loh, Marsya ke mana Na?" tanya gue ke Inara, tapi Inara tidak menjawab. Mungkin dia terlalu fokus sama TV, jadi gue menaruh goddy bag yang isinya oleh-oleh di meja dan duduk di sofa di sampingnya.
"Ada hubungan apa lo sama Mas gue?" Pertanyaan dari Inara membuat gue mematung di tempat.
Mas Rillo nggak cerita ke Inara tentang semuanya kan?
"Maksud lo?" Gue balik bertanya.
Inara melempat sebuah kotak di meja. Gue pun membuka kotak itu dan mendapati dua cincin polos di dalamnya. Gue mengambil cincin itu dan melihat ukiran nama di bagian dalamnya. Untuk cincin yang lebih kecil ada ukiran nama Mas Rillo dan cincin yang lebih besar ada nama gue. Gue nggak bodoh untuk tahu kalau ini cincin pasangan.
Jadi ini yang Mas Rillo siapkan tiga bulan yang lalu?
Bahagia saya, ada di kamu...
Lagi-lagi ucapan Mas Rillo kembali terngiang.
"Lo ngejadiin Mas gue selingkuhan lo?" tanya Inara dengan nada yang begitu menusuk.
Gue memilih diam dan memasukkan cincin itu kembali ke dalam kotaknya. Gue bahkan nggak tau Mas Rillo menyiapkan itu semua. Dan kini gue bingung bagaimana menjelaskannya.
"Dari kapan?" Inara kembali bertanya.
Gue bahkan belum ngejawab pertanyaannya yang sebelumnya karena bingung bagaimana harus menjawab, tapi Inara udah bertanya lagi.
"Na, gue nggak jadiin Mas lo selingkuhan gue... "
"Ya terus kalau bukan selingkuhan apa namanya?!" Inara menggunakan nada tinggi secara tiba-tiba.
Nggak lama gue isakkan Inara mulai terdengar. "Lo tega banget Git, Mas gue tuh udah pernah ditinggal nikah. Terus sekarang mau lo tinggal nikah lagi juga? Cukup sekali gue ngeliat Mas gue terpuruk. Gue nggak mau ngelihat Mas gue gitu lagi,"
"Gue sama sekali nggak ada niatan untuk bikin Mas lo terpuruk Na, demi apapun!" Sekarang tidak cuma Inara yang terisak, gue juga ikut menangis.
"Mas gue b**o. Kenapa sih dia malah milih orang yang udah mau nikah?" monolog Inara.
"Mas lo nggak salah Na, di sini gue yang salah," jelas gue yang membuat Inara menolehkan wajah dan memandang gue dengan tatapan tajam. "Mas lo nggak tau kalau gue udah tunangan awalnya..." ungkap gue jujur.
"Dan lo ngebohongin Mas gue?!" tanya Inara dengan tidak percaya.
"Enggak. Gue sama sekali nggak bohong soal status gue. Gue jujur sama Mas lo, tapi mungkin semuanya udah terlambat. Mas lo udah beli cincin ini…" ucap gue lirih.
Pintu apartemen terbuka, menampilkan Marsya dengan bungkusan plastik minimarket di tangannya. "Kalian kenapa? Kok pada nangis?" tanyanya kaget.
Inara langsung pergi ke dalam kamar mandi dan gue masih terpaku di tempat, mengusap air mata dengan kasar. Marsya menghampiri dengan langkah tergopoh dengan ekspresi yang begitu penasaran.
Tak lama pintu apartemen ini kembali terbuka, kini Fikar dan Zenata yang masuk. Fikar terlihat begitu kaget saat melihat gue yang masih menangis dan Inara yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah memerah dan air mata yang masih menggenang. "Kalian abis nonton drama apaan?" tanyanya dengan heran.
"Gue hamil, gimana dong?!" Suara Zenata membuat kami membelalakkan mata.
"LO BERTIGA PADA KENAPA SIH?!" Marsya histeris.