Bahagia saya, ada di kamu...
Ucapan Mas Rillo terus terngiang di kepala gue.
Gue nggak menjawab atau merespon apapun setelahnya karena orang-orang sudah sibuk menghitung mundur buat melihat sunset, yang bikin fokus gue sama Mas Rillo langsung hilang untuk melihat salah satu fenomena alam yang tiap hari ada, tapi belum tentu tiap hari bisa dilihat itu.
Sunset hari itu begitu berkesan untuk gue.
“Onti!” sebuah teriakan dan juga ketukan di luar pintu membuat gue beranjak. Saat gue membukanya sosok kecil yang memanggil langsung memeluk kaki gue.
“Tasyi Sayang, mau bangunin Onti ya?” ucap gue seraya menciumi pipi keponakan gue yang gembil. Semalam gue hanya bisa melihatnya yang terkulai di gendongan Papa karena sudah tertidur setelah menjalani perjalanan yang cukup panjang dari Jepang-Jakarta-Yogyakarta.
Gue membawanya ke dalam gendongan seraya menatap Kakak gue yang berdiri di depan pintu dengan tatapan garang. “Kenapa kemarin nggak ikut jemput ke bandara?”
Gue hanya mengeluarkan cengiran. “Lagi cari angin di Parangtritis, nggak kerasa sampai malem soalnya lihat sunse jugat. Mbak juga bilangnya malam sampai sini, tapi pas aku pulang Mama Papa udah nggak ada aja.”
Mbak Nares berdecak pelan. “Malam Jakarta sama Yogya itu beda rentang waktunya ya?”
“Yang penting aku ikut pulang juga kan Mbak, jadi kita bisa kumpul sekeluarga di rumah,” ucap gue memberi pembelaan.
Mbak Nares masuk ke dalam kamar gue dan merebahkan tubuhnya. Dulu sebelum ia menikah dan gue melancong ke Jakarta, kami sering berbagi ranjang di sini.
“Mama bilang kelakuan kamu aneh akhir-akhir ini,” ucapnya sembari menyusuri album-album yang berisi foto kami berdua.
“Aneh gimana? Aku masih makan nasi kok, bukan beling.”
Mbak Nares kembali berdecak dengan wajah judesnya karena jawaban asal yang gue berikan, kebiasaan yang sulit hilang sejak dulu. Beruntunglah ia mendapatkan Mas Dhafin yang mengerti sepenuhnya mengenai perangainya yang terlihat cukup buruk dari luar. Namun untuk perkara hati, Mbak Nares adalah orang paling tulus yang gue kenal.
“Kamu jawabnya ngasal habisnya.”
Gue hanya mengulum senyum dan memilih untuk tetap bungkam, kemudian kembali bermain dengan Tasyi yang sedang mengoceh tidak jelas, menceritakan tentang boneka unicorn yang ada di tangannya dengan bahasa bayinya.
“Egi, what’s wrong?” Mbak Nares mulai melembut. Album di tangannya mulai diabaikan dan terfokus pada wajah gue.
“Aku juga bingung apa yang salah,” aku gue pada akhirnya.
Mbak Nares menghela napas, dan bangkit dari posisi tidurnya. Kemudia ia merapikan rambut gue dan mengusap kantung mata yang masih tergambar begitu jelas. “Kamu nggak pernah kayak gini sebelumnya.”
“Menurut Mbak pernikahan itu untuk apa?” Mbak Nares terdiam, terlihat berpikir mengarah ke mana percakapan ini. “Kalau untuk menyatukan dua hati yang saling mencinta, Mbak sendiri nggak cinta sama Mas Dhafin pada awalnya bukan?”
“Ini semua ada hubungannya sama Kavindra?” tanya Mbak Nares tanpa berbasa-basi.
Gue menggeleng. “Panjang ceritanya, Mbak. Tapi sebelum aku cerita, aku ingin tau sudut pandang Mbak sebagai orang yang menjalani perjodohan.”
“Mbak nggak sepenuhnya dijodohkan sama Mama Papa,” jawab Mbak Nares yang membuat gue mengerutkan alis. “Mungkin di matamu Mbak seperti terpaksa menjalani pernikahan ini hanya demi kelancaran bisnis Papa, tapi itu nggak benar Gi.”
“Mbak melalui proses pengenalan yang panjang sebelum menikahi Dhafin. Tentunya Mbak nggak akan menyetujui begitu aja rencana perjodohan ini tanpa mengetahui bagaimana sosok yang akan mendampingi Mbak seumur hidup.”
“Lantas apa yang membuat Mbak yakin sama Mas Dhafin?”
“Karena Dhafin memperjuangkan Mbak. Dia membuktikan keseriusannya untuk mendampingi Mbak dengan semua sikap dan tingkah lakunya, dan itu terbukti sampai sekarang.”
“Pernah nggak Mbak meragu sama Mas Dhafin?”
Mbak Nares menggeleng. “Kalau belum yakin pernah, tapi Mbak nggak pernah meragu.”
“Apa bedanya Mbak?”
“Kalau belum yakin itu karena memang belum diyakinkan, kalau meragu tandanya sudah pernah yakin, kemudian keyakinan itu hilang.”
Gue terpekur di tempat. Perkataan Mbak Nares benar-benar membuat gue tersadar bahwa kini keyakinan gue akan Kavin perlahan menghilang.
“Akan lebih sulit mengembalikan sebuah keraguan dibandingkan menumbuhkan keyakinan, Gi. Jadi apakah keyakinan kamu akan Kavin menghilang? Ada masalah apa di antara kalian?”
Pintu kamar yang diketuk menghentikan percakapan kami, setelah mempersilakan, Mas Dhafin⸺sang pelaku pengetukan⸺ kemudian membuka pintu. “Dek, Mama nanya kamu mau pulang kapan, Mas disuruh pesan tiket sekalian untuk kami pulang ke Jepang juga.”
“Aku pulang ke Jakarta naik kereta Mas,” jawab gue.
“Ya, gapapa. Biar sekalian Mas pesenin.”
“Aku pulang ke Jakarta bareng kakaknya temenku yang kebetulan lagi dines di sini, dan dia udah beliin tiketnya.”
Pandangan bertanya yang dilontarkan oleh Mbak Nares dan Mas Dhafin membuat gue mendengus pasrah dalam hati.
***
Setelah hari itu Mas Rillo nggak sempat bertemu sama gue lagi karena dia sibuk mengurus berkas kepindahannya. Tapi dia selalu mengabari gue setiap harinya tentang kegiatan dia meskipun kadang nggak gue balas.
Gue mulai ... goyah.
Kak Kavin menghilang entah kemana, dan Mas Rillo yang selalu ada.
Gue ingat Inara pernah ngomong, yang disayang akan kalah dengan dia yang selalu ada. Dan apakah ini akan berlaku juga untuk kasus gue?
Hari ini hari di mana gue balik ke tempat perantauan. Dan gue sama Mas Rillo udah janjian untuk ketemu di stasiun. Gue diantar sama orangtua dan kakak gue sementara Mas Rillo diantar staff kantornya.
Di tangan gue terdapat banyak oleh-oleh, mulai dari bakpia yang Mama beli, dan juga beberapa oleh-oleh yang dibawa Mas Dhafin dan Mbak Nares dari Jepang untuk dibagi ke teman-teman.
"Mana kakak temen kamu yang katanya mau bareng?" tanya Papa begitu kami sampai.
Gue mencari sekeliling dan menemukan Mas Rillo yang lagi duduk di kursi tunggu. Kayaknya dia nggak sadar kalau gue dan keluarga sudah sampai.
Gue pun beranjak ke arah dia dan menepuk pundaknya, "Mas, orangtua sama kakak saya mau ketemu."
Mas Rillo langsung berdiri dengan kikuk begitu melihat orangtua dan kakak gue.
"Lho kamu?" tegur Mama ke Mas Rillo.
Mas Rillo terperangah. "Ibu?" sapanya sambil menyalami tangan Mama dengan senyuman penuh kelegaan.
Setelah Mas Rillo bersalaman dengan anggota keluarga gue yang lain, gue pun bertanya, "Mama kenal sama Mas Rillo?"
"Enggak, kami pernah ketemu waktu itu di sini, waktu Mama nunggu kereta kamu."
Gue cuma menganggukkan kepala, mencoba mengerti dengan keadaan ini. Sementara Mas Rillo masih berdiri kaku di samping gue karena Mbak Nares memandangnya dengan tatapan menilai yang begitu intens.
"Saya nitip anak saya ya," kata Papa gue sambil menepuk pundak Mas Rillo.
"Iya Om," jawab Mas Rillo.
"Untung ada kamu, Tante jadi lebih lega ngelepas anak Tante untuk pergi. Kalau sendirian Tante suka ketar-ketir." Kini Mama yang menyampaikan pendapatnya.
Mas Rillo tersenyum."Kebetulan Bu, jadi sekalian bareng."
“Titip Egita ya,” sahut Mas Dhafin.
Mas Rillo mengangguk mengiyakan. “Iya, Mas.”
“Tolong jaga adik saya,” ucap Mbak Nares yang membuat gue mengerutkan alis. Mbak Nares tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya pada orang baru. Jangankan untuk meminta tolong, menyapa pun tak pernah ia lakukan pada orang yang tidak dikenalnya.
"Kalian hati-hati, jangan lupa kabari orang rumah kalau udah sampai." Papa mengingatkan.
Gue mengambil Tasyi dari gendongan Mbak Nares dan memeluknya, tak lupa mencium seluruh wajahnya. “Onti pasti kangen banget sama Tasyi.”
“Kalau udah selesai skripsi, kamu bisa liburan di tempat Mas nanti,” hibur Mas Dhafin. Gue pun mengangguk mengiyakan seraya menyerahkan Tasyi ke dalam gendongannya.
Tiba saatnya untuk berpamitan. Gue memeluk Mbak Nares dengan begitu erat, dan ia juga melakukan hal yang sama. “Sering-sering kirim foto Tasyi ya Mbak,” pinta gue.
“Sering-sering telepon, kabarin Mbak di sana. Kalau ada apa-apa jangan simpen sendiri,” ucap Mbak Nares dengan suara yang bergetar menahan tangis.
“Iya, Mbak.”
Gue kemudian beranjak dan menghampiri Mama. Ia merapikan rambut gue dan ngomong, "kamu pikirin sidang kamu dulu, kalau hal lain bisa nyusul."
Air mata gue mengalir begitu saja. Gue paling benci dengan momen perpisahan seperti sekarang, rasanya tidak mengenakkan. Ditambah dengan kejadian akhir-akhir ini, hal itu membuat gue semakin berat untuk pergi.
Mama membantu menyeka air mata gue dengan tisu. Papa dan Mas Dhafin bergantian memeluk dan memberi nasihat untuk gue agar menjaga diri.
Pengumuman bahwa kereta kami telah tiba membuat kami segera bergegas.
"Kalian hati-hati," nasihat Mas Dhafin.
Mas Rillo kemudian mengambil tentengan dari tangan gue dan mengekor sampai kami masuk ke dalam kereta. Ia sengaja memberikan tempat duduk di samping jendela untuk gue hingga gue masih bisa melihat keluarga gue yang masih menunggu kereta gue untuk berangkat.
Dia memberikan sapu tangannya ke gue untuk mengelap air mata yang kembali turun. Tak lama setelahnya kereta mulai jalan, dan gue melambaikan tangan ke keluarga gue yang masih nunggu di luar sana.
Memiliki anggota keluarga yang tinggal jauh memang tidak enak. Apalagi kalau jarang pulang. Untuk membunuh rindu dan mendapat kabar saat mereka sakit kita tidak bisa bertemu langsung, hanya bisa berhubungan lewat telepon atau video call. Baik gue, Mbak Nares maupun Mama Papa kini kembali saling berjauhan.
"Kalau masih mau nangis, nangis aja," ucap Mas Rillo.
Gue udah mati-matian menahan tangis sambil mengigi bibir. Tapi begitu Mas Rillo ngomong kayak gitu pertahanan gue langsung roboh. Air mata gue nggak terbendung lagi.
Mas Rillo membawa gue ke pelukannya dan mengusap pundak gue pelan. "Saya ngerti jadi anak rantau itu sulit, saya yang laki-laki pun ngerasa kayak gitu. Apalagi kamu, anak perempuan."
Mas Rillo mengambil sapu tangannya yang ada di tangan gue dan membantu untuk menghapus air mata.
Gue menghentikan tangannya yang masih bergerak untuk menghapus air mata dan menatapnya tepat di mata. "Makasih ya Mas,"
"Untuk?"
"Untuk selalu ada,"
Mas Rillo setelahnya tersenyum sambil mengusap kepala gue lembut. “Bukan masalah," ujarnya.
Mas Rillo kemudian menautkan tangannya dengan tangan gue dan menggenggamnya dengan erat untuk memberi ketenangan, dan gue sama sekali tidak menolaknya. Karena setelah perjalanan ini selesai, gue tidak pernah tau apakah jemari kami bisa tertaut lagi atau tidak.