Di saat kau menemukan kebahagiaanmu dan meyakininya,
genggam dan jangan pernah lepaskan.
***
Esoknya kami janjian untuk bertemu di alun-alun kidul Keraton, dan Mas Rillo sudah sampai di sana duluan.
"Mas udah lama nunggu?" tanya gue dengan nggak enak.
"Belum kok," jawab Mas Rillo.
Pandangannya kemudian terarah pada dua beringin kembar yang berdiri dengan gagahnya. “Ini beringin kembar yang terkenal itu bukan?”
Gue mengangguk mengiyakan. “Konon katanya kalau kita bisa melewati dua beringin itu dengan mata tertutup, permintaan kita akan terkabulkan.”
“Oh ya? Kamu udah pernah coba?”
Gue mengangguk. “Bukan orang Yogya namanya kalau belum nyoba. Saya udah terlalu sering coba lewatin pohon itu.”
“Dan hasilnya?”
“Nihil, langkah saya nggak pernah lurus,” aku gue dengan malu-malu yang membuat Mas Rillo tertawa dengan manisnya.
“Mas coba sendiri aja, susah tau,” ucap gue sambal mencebik.
Kemudian ia berjalan ke salah satu penyewa penutup mata yang ada di sana. “Git, sini!” panggilnya kemudian.
Gue pun melangkahkan kaki untuk mendekat. “Ada apa Mas?”
“Arahin saya harus mulai dari mana,” ujarnya.
Gue pun menarik tangannya dan membawanya ke titik tempat tantangan itu dimulai. “Kita lihat ya, Mas bisa lewatin ini atau nggak.”
Rillo kemudian memasang penutup matanya dan mulai berjalan, sementara gue mendampingi di sebelahnya, takut-takut dia menubruk wisatawan yang sedang melakukan tantangan yang sama.
Dengan perlahan namun pasti Rillo melangkahkan kakinya dengan santai. Gue tidak mengeluarkan suara apa pun agar tak membuyarkan konsentrasinya. Dan ajaibnya, langkahnya tetap lurus sejak awal sehingga bisa melewati kedua pohon beringin kembar tersebut.
“Stop Mas, stop!” ujar gue yang membuat Rillo menghentikan langkah. Kemudian ia membuka penutup matanya dan mengerjapkan mata.
“Kok diberhentiin?” tanyanya bingung.
Gue melirik kedua pohon beringin kembar yang kini berada di belakangnya, dan ia mengikuti arah pandangan gue. “Udah selesai? Saya berhasil?” tanyanya dengan senang.
Gue menganggukkan kepala mengiyakan. “Selamat ya Mas! Semoga harapan dan cita-citanya terkabul.”
“Semoga,” ucap Rillo dengan senyuman yang tak berhenti terkembang. Awal hari yang berjalan dengan baik membuat mood kami menjadi sangat bagus.
"Jadi, destinasi wisata apa lagi yang bisa kita kunjungi?" tanyanya kemudian.
"Banyak Mas, ada pantai, alun-alun ini juga salah satu destinasi wisata, ada pusat oleh-oleh juga sama tempat beli cinderamata, kalau malem banyak wisata kuliner pinggir jalan."
"Ayo kita jelajahi semuanya," ajak Mas Rillo.
Awalnya kami menyusun rencana lebih dulu, karena Mas Rillo ingin melihat sunset jadi kami pergi ke pusat oleh-oleh dan cinderamata. Gue membawanya ke pasar Beringharjo yang terletak tak jauh dari alun-alun.
Gue sama Mas Rillo memutari toko-toko yang ada di sana. Beberapa kali dia menanyakan pendapat gue kira-kira oleh-oleh apa yang cocok untuk anggota keluarganya. Bahkan dia sampai mau membelikan gue, Nat, dan Marsya yang notabene-nya teman adiknya.
"Kalau saya nggak usah lah Mas, kan saya udah di sini."
"Ini oleh-oleh pulang dines saya, saya mau beliin buat kalian juga." Mas Rillo mencoba memberi pengertian.
Mas Rillo terkadang memang suka keras kepala, jadi gue mengiyakan saja keputusannya. Ia juga membeli beberapa baju batik soalnya kalau kerja hari Jumat di kantornya pakai batik, dan dia menyerahkan semua pilihan bajunya di tangan gue.
"Nggak usah banyak-banyak belinya Mas, kalau empat Mas udah bisa pakai sebulan sekali kan untuk kerja, jangan mubazir."
Mas Rillo mengangguk mengiyakan dan menaruh dua baju lainnya yang sebelumnya direncanakan untuk dibeli juga.
"Kalau yang dua lagi buat Ayah, gimana?"
"Kalau gitu terserah Mas aja, gimana baiknya,"
Setelahnya kami mencari tas rajut untuk ibunya dan juga Inara yang terdiri dari begitu banyak model. “Git, aku beliin ibu sama Ina yang mana ya? Kok kayaknya sama semua modelnya.”
Gue menahan tawa melihat ia yang frustasi memilih tas untuk Inara dan ibunya. “Modelnya dilihat belakangan, Mas tentuin kegunaan tasnya dulu aja. Kalau tas ibu buat ngaji, lihat yang sekiranya muat untuk barang-barang pengajian kayak al qur’an, dan perlengkapan lainnya. Kalau untuk Inara misalnya tas yang dipakai untuk jalan ukurannya kira-kira yang muat untuk dompet dan hapenya. Setelah itu baru pilih warna. Pilih yang netral biar bisa dipakai saat pakai baju apa pun.”
“Ah, pemikiran kamu panjang banget.”
“Kadang kita hanya melihat barang tanpa mempertimbangkan nilai gunanya, ujung-ujungnya barang itu hanya dijadikan pajangan dan nggak terpakai.”
Mas Rillo menganggukkan kepalanya, dan kemudian ia memilih tas sesuai dengan referensi yang gue berikan.
Kemudian kami beranjak ke toko bagian souvenir. Kebetulan banyak toko yang menjual souvenir sekaligus barang-barang perlengkapan yang lazim ada dalam pesta pernikahan mulai dari sanggul, kebaya, sepatu, bahkan sampai ke accessoris rambut dan baju.
“Kayaknya kita salah cari toko souvenir deh,” ucap gue dengan kikuk. Sebelumnya gue memang sempat bertanya mengenai toko yang menjual souvenir, namun gue malah diarahkan ke toko souvenir pernikahan.
Mas Rillo hanya mengulum senyum. “Mungkin mereka sangka kita mau nikah,”
Untungnya di toko tersebut ada juga buah tangan khas Yogya. Ia kemudian membeli beberapa souvenir kecil seperti gantungan kunci dan gelang manik-manik untuk teman-teman adiknya yang ia kenal seperti Bagas dan kawan-kawan. Untuk Aldo, Mas Rillo membeli pajangan kura-kura kecil.
Kata Mas Rillo setelah ini dia nggak akan dinas di luar lagi dalam waktu yang cukup lama, jadi kapan lagi beli oleh-oleh untuk yang lain. Setelah memborong cukup banyak, Mas Rillo mengajak gue makan siang. Kami makan siang di salah satu tempat makan di pusat oleh-oleh itu.
Kalau Kavin pasti akan minta maaf karena nggak ngajak makan di restoran yang membuat suasana kami jadi canggung. Berbeda dengan Mas Rillo lebih kelihatan enjoy dan menikmati tempat ini yang membuat gue ikut senang. Karena nggak selamanya makanan di restoran lebih enak dari makanan kaki lima gini.
"Kamu pulang kapan Git?" tanya Mas Rillo.
"Mungkin weekend ini Mas, minggu depannya saya mau sidang soalnya."
"Saya juga, mau bareng?"
Anggukkan gue mewakili jawaban ya untuk Mas Rillo.
“Kalau gitu saya yang pesan tiketnya ya?” ujarnya.
Setelah selesai makan siang, Mas Rillo membawa gue ke pantai. Perjalanan yang ditempuh sekitar 26km, dengan waktu tempuh satu jam dari tempat oleh-oleh tadi. Makanya kami memutuskan untuk berangkat setelah makan siang.
Setelah sampai Mas Rillo menyewa salah satu tenda payung yang ada di sana dan mengajak gue minum es kelapa muda yang banyak dijual.
Angin laut yang kencang membuat pasir berhamburan dan wajah gue hingga gue memutuskan untuk mengikat rambut. Sesekali pasir mengenai mata meski gue sudah memakai kacamata hitam hingga Mas Rillo kerap kali membantu meniup mata gue kelilipan.
Selesai beristirahat sejenak dan menyegarkan kerongkongan dengan kelapa muda, Mas Rillo mengajak gue untuk menaiki kuda. “Mau naik kuda nggak?”
Ada dua jenis kuda yang disewakan, yang satu kuda tanpa dokar, dan yang satu menggunakan dokar.
“Aku takut Mas,” tolak gue saat melihat seorang perempuan lewat di depan gue sambil menaiki kuda dengan wajah panik.
Waktu terus berlalu dan kami hanya menikmati angin laut yang terus menerpa tubuh dalam diam. Sesekali kami mengobrol saat memperhatikan kejadian di sekitaran, seperti anak kecil yang terjatuh, betapa beraninya anak kecil menaiki kuda tanpa rasa takut dan lain-lain.
“Mas mau banget naik kuda?” tanya gue memastikan karena Rillo selalu meledek bahwa gue kalah dengan anak kecil.
Mas Rillo menggeleng. “Kalau nggak sama kamu ya nggak enak, masa sendiri naiknya?”
“Tadi ada kok laki-laki sendiri naik kuda.”
“Itu sama anaknya yang dipangku sama dia, Git. Masa saya nunggu punya anak dulu?” Rillo berkelakar.
“Ya udah deh ayo, tapi janji jangan nakut-nakutin ya pas naik kuda?”
“Kita lihat nanti,” jawab Mas Rillo sengaja untuk menggoda gue.
Gue mencebikkan bibir dan melangkah menjauhinya ke arah sebuah kuda dengan dokar di belakangnya. Mas Rillo tentu tidak tinggal diam dan mengikuti gue dari belakang.
“Pak, jangan ngebut-ngebut ya?” pinta gue ke Pak Kusir yang membuat Mas Rillo menahan tawa.
Gue masih saja meragu hingga Mas Rillo yang menaiki dokar terlebih dulu. Kedua tangannya kemudian terjulur untuk membantu gue naik ke dalam dokar. “Ayo, gapapa kok,” ujar Mas Rillo.
Gue hampir saja berteriak saat kuda mulai berjalan, pasalnya gue belum duduk dengan benar hingga gue kelabakan untuk mencari pegangan. Mas Rillo yang menyadari itu menggenggam salah satu tangan gue. “Jangan panik,” ucapnya menenangkan. Kini tidak ada ledekan yang terselip dalam nada suaranya.
Gue yang merasa malu karena ketakutan terhadap kuda memilih untuk melepaskan ikatan rambut agar Mas Rillo tidak bisa melihat ekspresi gue.
Mas Rillo menyingkirkan rambut yang menutupi wajah gue dan berkata, "Pemandangan indah kayak gini nggak bisa dilihat dua kali "
Gue gatau dia ngomongin pemandangan laut atau apa, tapi tatapannya mengarah tepat ke bola mata gue. Yang jelas jantung gue berdetak dengan tidak normal sekarang.
Gue langsung mengambil ikat rambut di tangan dan kembali menguncir rambut dengan asal setelahnya.
Gue menyibukkan diri untuk melihat pemandangan laut, dan wisatawan lain, mencoba mengabaikan tatapan Mas Rillo yang masih menghantui.
"Boleh saya minta sesuatu?" tanya Mas Rillo kemudian.
"Apa Mas?"
"Buka ikatan rambut kamu, saya suka lihat rambut kamu terbang kena angin."
Gue pun melepaskan ikatan rambut sesuai dengan permintaannya.
“Kamu cantik…” pujinya yang membuat gue tersipu, untung rambut gue bisa menutupi sebagian wajah sehingga gue bisa menutupi kesalahtingkahan gue.
Kuda pun berhenti setelah satu putaran. Mas Rillo membantu gue untuk turun dengan hati-hati. “Udah mau sunset, ayo kita siap-siap,” ajaknya. Ia menuntun gue untuk mencari tempat terbaik untuk melihat sunset.
Mas Rillo kelihatan begitu senang hari ini. Senyuman tidak pernah luntur dari wajahnya. Beberapa pasangan lain pun sudah bersiap untuk menikmati sunset sambil bercengkrama dan bersanda gurau.
Mas Rillo tiba-tiba berjongkok di depan gue dan melepas tali sepatu gue yang membuat gue kebingungan. Dia membuka sepatu dan juga kaos kaki gue, dan menaikan celana jeans yang gue pakai. setelahnya dia melakukan hal yang sama sama sepatunya.
"Ke pantai nggak lengkap tanpa main air kan?" tanyanya. Gue mengangguk mengiyakan sebagai persetujuan.
Mas Rillo kembali menggandeng tangan gue, sementara tangan kami yang bebas memegang sepatu masing-masing. Kami mulai menginjakan kaki di bibir pantai. Sesekali kaki kami terkena deburan ombak.
Wangi khas laut, angin, suara deburan ombak, dan juga keriuhan wisatawan jadi backsound kali ini. Tidak ada percakapan apa pun, tapi kami menikmati waktu yang terus berjalan.
“Kalau boleh tau, apa harapan Mas di beringin kembar tadi?” tanya gue dengan penasaran. Sementara ia hanya mengulum senyum, terlihat enggan untuk menjawab.
Gue hanya memainkan pasir dengan kaki dan menuliskan nama gue, begitu pun Mas Rillo, ia melakukan hal yang sama. Sebelum kami selesai menulis nama, deburan ombak telah menghancurkannya, membuat kami tertawa karena kegiatan yang sia-sia itu.
Mas Rillo tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat tubuh gue untuk menghadap ke arahnya. "Setelah seharian yang kita jalani ini, apa kamu punya permintaan lainnya?"
Gue terdiam dan berpikir sejenak, sebelum menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Saya ingin Mas bahagia," jawab gue.
Bagaimanapun juga gue udah bikin dia terluka, dan gue nggak mau dia terpuruk untuk kedua kalinya.
"Bahagia saya, ada di kamu."