Coincidental or Fate?

2052 Kata
Egita’s POV   Malam ini gue sengaja keluar dari rumah untuk mengerjakan skripsi. Tinggal dikit sih yang direvisi, dan dosen gue udah kasih ACC untuk siding, lembar pengesahan sudah ditandatangani duluan untuk ikut sidang asal gue mengganti poin-poin yang sudah dia catat. Tanggal sidang gue bulan depan, agak lama memang soalnya antriannya banyak. Mau cepat atau lambat yang penting skripsi gue kelar, jadi beban gue semakin berkurang. Dulu sebelum kuliah gue sering menghabiskan waktu di sini sama teman-teman SMA, tempatnya berbentuk kafe tapi dinamakan kedai kafein, karena menu utama yang dijual adalah berbagai jenis kopi dan beberapa camilan ringan. Di sini ada free wi-fi, colokan dan tempat duduk empuk, ditambah panggung live music mini di pojok ruangan. Cocok banget pokoknya buat mahasiswa tingkat akhir kayak gue yang ngabisin waktu buat ngerjain skripsi. Ngomong-ngomong soal sidang, gue belum kasih tahu Kavin mengenai tanggal sidang. Soalnya dia kelihatannya sibuk banget akhir-akhir ini, dan dia pun jarang menanyai mengenai perkembangan skripsi gue. Chat gue mulai jarang dibalas lagi. Tapi gue mencoba mengerti dan nggak banyak menuntut. Toh, kalaupun dia merasa perlu mengabari gue, dia akan ngabarin kan? Gue belum menghubungi dia lagi semenjak gue sampai sini, soalnya kemarin setelah gue dijemput Mama, gue banyak bercengkrama sama orang rumah sampai ponsel gue abaikan. Gue melihat ponsel untuk mengcek apakah Kavin menghubungi gue, nyatanya tidak. Notifikasi gue malah penuh dari group Ampas yang berisi gue, Zenata, Inara dan juga Marsya. Zenata yang pergi ke Bali untuk bertemu kedua orangtuanya Fikar bercerita soal calon adek iparnya yang katanya ngeselin. Ternyata kemarin dia juga langsung flight ke Bali sama Fikar setelah antar gue ke stasiun. Gue cuma bisa tertawa dalam hati, untung calon adek ipar gue cowok. Kalau cewek mungkin mengalami apa yang Zenata alami juga. Tapi kalau adek ipar gue kayak Inara sih... Gue menggelengkan kepala untuk menghilangkan pemikiran absurd barusan. Gue menutup kolom chat itu tanpa membalas, dan mencoba melakukan panggilan dengan Kavin untuk mengalihkan pemikiran-pemikiran aneh. Setelah dua kali nada tunggu, panggilan itu diangkat. Yang bikin gue kaget adalah suara perempuan yang mengalun dari seberang sana. "Halo?" sapa cewek itu. Gue kenal suara ini, ini adalah suara Mayang. Kenapa Mayang bersama Kavin malam-malam begini? Lalu, sejak kapan keduanya bertemu lagi? Bukankah mereka sudah sama-sama lulus? Tak lama gue bisa mendengar suara Kak Kavin. "Siapa Yang?" Yang? Mayang? Apa sayang? "Pacar kamu kayaknya," Gue cuma menggigit pipi bagian dalam dengan pelan, lalu menghela napas panjang untuk mengontrol emosi. "Halo Git?" kini suara Kavin yang terdengar. "Hai Kak," "Gimana, udah sampai?" "Udah, kemarin sore aku sampai, maaf baru ngabarin sekarang," "Nggak apa-apa," jawab Kavin. "Kamu ... lagi di mana?" tanya gue sedikit ragu, gue nggak mau dianggap terlalu posesif sama dia. "Aku dapet tugas luar dari Ayah, di Bali. Oh iya, aku belum cerita, Mayang sekarang satu kantor sama aku, dia salah satu karyawan yang aku training, kebetulan dia juga yang nemenin aku tugas ke sini," timpal Kavin. Perasaan gue campur aduk, pikiran-pikiran jelek pun berkecamuk, tapi gue mencoba untuk tetap tenang, mereka hanya rekan kerja bukan? "Asik ya bisa sekalian liburan?" tanya gue sesantai mungkin, mengabaikan fakta bahwa Mayang dan Kavin kini satu kantor dan memiliki akses bertemu yang lebih sering dibandingkan gue. Entah mengapa gue merasa begitu miris di sini. "Enggak juga kok, kamu mau nyusul ke sini?" tawarnya. Dan jadi orang ketiga di antara kalian? Nggak, makasih. Mereka berdua kelihatannya nyambung banget kalau ngobrol, nanti gue malah minder dan ganggu. "Aku kangen rumah, bukan liburan, Kak." Gue berkilah. "Kamu kapan pulang? Mau aku jemput?" "Nggak usah maksain kalau nggak bisa, aku tau kamu sibuk." "Maafin aku yang nggak punya banyak waktu untuk kamu," ucap Kavin dengan penyesalan yang cukup kentara. Gue menganggukkan kepala meskipun gue tahu dia nggak bisa lihat dari sana. "Aku sidang bulan depan Kak," "Tanggal berapa? Biar aku bisa agendain untuk dateng." "Awal bulan. Sekitar tanggal lima mungkin." “Ah, tanggal lima ya, oke,” “Aku lagi ngerjain revisi di luar rumah, sekarang mau lanjutin lagi.” “Ya udah kalau gitu, jangan pulang malam-malam dan hati-hati ya,” Karena merasa nggak ada yang perlu diomongin lagi gue memilih untuk mengakhiri panggilan ini. "See you Kak," "See you Git," Setelahnya gue memutuskan panggilan itu dengan perasaan yang mengambang. Hati gue gamang sekarang. Gue nggak mengerti sama perasaan gue sendiri, apalagi semenjak Bagas bilang kalau gue suka sama Mas Rillo dan Kak Kavin yang sepertinya juga semakin intens dengan Mayang. Hal itu yang membuat gue kepikiran terus-menerus sampai susah tidur. Mungkin itu juga efek dari asupan kafein yang lebih banyak gue konsumsi akhir-akhir ini karena stress yang melanda. Sehari gue bisa menghabiskan tiga sampai empat gelas kopi. Untuk hari ini bahkan sudah lima gelas. Gue menatap nanar tiga gelas kopi di depan gue, gelas terakhir pun hampir tandas. Padahal baru dua jam gue berada di sini. Di kafe ini sering ada live music yang dimulai jam delapan malam di akhir pekan, dan sekarang sepertinya sudah hampir dimulai. Gue penasaran siapa yang isi acara malam ini. Gue berharap salah satu temen SMA gue biar gue ada temen ngobrol dan bernostalgia. Temen-temen anggota band SMA gue sering isi acara di sini soalnya. Gue masih menantikan pertunjukan itu sambil sesekali membalas chat teman-teman gue. Line! Ampas (4) ZenataAlsava :  Adeknya Fikar bener-bener ngeselin, mana gue disuruh-suruh mulu di sini. Mau pulang aja gue. Hueee…   InarAhmad :  Katanya ngana mau PDKT sama calon mertua dan bangun image jadi mantu yang baik, gimana sih?   MarsyaShaquita :  Nat dan menantu yang baik nggak ada korelasinya Na, wkwkwk. Hanya sebuah impian belaka EgitaZahran :  Wkwk. Parah lo sepupu sendiri dibully   InarAhmad :  Ngilang lagi kan tuh orangnya. Sibuk ngapain sih dia sampai jarang bisa dihubungi semenjak di Bali? Jangan-jangan tuh anak macem-macem sama Fikar lagi. Gue belom mau punya ponakan woy!   MarsyaShaquita :  Gue mau punya ponakan, tapi nggak mau ngurusnya   InarAhmad :  Satu-satunya orang yang berbakat mengurus bayi dan rumah tangga di antara kita cuma Egita   MarsyaShaquita :  Ya iyalah, namanya juga calon manten EgitaZahran:  Ada-ada aja kalian. Nanti kalian juga bakal jadi calon ibu InaraAhmad :  iya juga sih hehe   InaraAhmad :  oh iya, kemarin Mas gue jadi jemput lo?   Gue mengerutkan alis heran melihat chat terakhir dari Inara, Masnya? Jemput gue? Masnya emang di mana gue di mana. Di saat yang bersamaan gue mendengar suara gitar yang dipetik, dan panggung live music mulai dinyalakan lampunya. Dan orang yang lagi duduk memegang gitar diatas panggung mini itu membuat gue kaget bukan main. Mas Rillo… Gue bisa melihat dia memetik gitarnya untuk mencoba beberapa nada sebelum mendekatkan mic ke mulutnya dan mulai bernyanyi.   Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta   Gue tau lagu ini... Lagu anji yang judulnya Dia.   Hati ini kembali temukan senyum yang hilang Semua itu karena dia Oh Tuhan… ku cinta dia Ku sayang dia, rindu dia, inginkan dia   Mendengar dia menyanyi membuat gue pengin menangis. Suaranya begitu lembut dan dalam. Perasaannya seperti tersalurkan melalui lagu ini.   Utuhkanlah rasa cinta di hatiku Hanya padanya, untuk dia Jauh waktu berjalan kita lalui bersama Betapa di setiap hari ku jatuh cinta padanya Dicintai oleh dia ku merasa sempurna Semua itu karena dia   Dan di saat lagu itu berakhir, Mas Rillo baru melihat ke arah kursi tempat gue duduk dengan pandangan yang cukup terkejut. *** Mas Rillo membawakan tiga lagu, lagu Dia dari Anji, lagu Jikalau Kau Cinta dari Judika dan Waktu yang salah Fiersa Besari. Setelah Mas Rillo selesai dengan penampilannya, dengan langkah canggung dia menghampiri dan duduk di hadapan gue. "Apa kabar?" tanya Mas Rillo. Gue cuma menganggukkan kepala gue kikuk dan menjawab, "Baik Mas, Mas sendiri?" "Baik juga," jawabnya. Kecanggungan benar-benar menguasai kami berdua. Kami hanya terdiam dan saling pandang satu sama lain karena bingung mau ngapain, atau membahas apa. Padahal awal pertemuan kami pun tak secanggung ini. Pertemuan terakhir kami membuat gue berpikir berkali-kali untuk memulai pembicaraan. "Mas dipindah kerja ke sini?" Gue mencoba berbasa-basi untuk membuka obrolan. "Iya, tapi ini minggu terakhir saya. Saya pulang minggu ini." Gue mengambil gelas kopi terakhir yang tinggal ujungnya saja untuk mengaliri kerongkongan yang tiba-tiba terasa kering. Mas Rillo yang sadar langsung memanggil pelayan untuk memesan minuman. "Masnya mau pesen apa?" tanya pelayan itu. "Iced Coffee Latte satu," jawab Mas Rillo. "Kalau Mbaknya?" Pelayan itu kembali bertanya "Samain aj⸺" "Air mineral Mas," potong Mas Rillo. Gue langsung melirik Mas Rillo secara spontan. Ia tidak menjawab dengan lisan, melainkan dengan gestur wajah yang ia tolehkan ke tiga gelas bekas kopi gue sebelumnya. "Jadi satu Iced Coffee Latte dan satu air mineral ya? Mohon ditunggu pesanannya..." "Jangan terlalu banyak konsumsi kafein," tegur Mas Rillo setelah pelayan itu pergi. Gue cuma bisa tunjukin senyum nggak enak. Gue konsumsi banyak kafein karena orang yang ada di depan gue ini. Hampir tiga bulan kami nggak bertemu, tapi itu nggak mengubah apa pun. Bahkan sekarang rasa bergejolak di perut gue saat melihat dia semakin menjadi. "Sejak kapan Mas suka isi acara di sini?" "Belum lama, baru sebulan terakhir. Dan hari ini yang terakhir." "Ah, saya beruntung berarti bisa ngeliat penampilan terakhir Mas, aturan tadi saya videoin buat Inara." "Saya dirumah jarang nyanyi, kalau kamu videoin nanti yang ada Ina ngeledekin saya melulu," jawab Mas Rillo malu-malu. "Tapi suara Mas nggak jelek-jelek amat kok," "Jelek kan intinya?" "Nggak gitu Mas, bagus kok suaranya," puji gue. Suara Mas Rillo yang cukup lembut untuk laki-laki terdengar sangat bagus saat menyanyi, sedikit berbeda dengan suaranya saat berbincang seperti ini. "Saya biasa konser di kamar mandi, mungkin itu yang bikin suaranya jadi bagus," gurau Mas Rillo yang membuat gue tertawa. "Saya nggak jadi puji suara Mas deh, Mas ternyata narsis." Suasana kaku tadi mulai mencair secara perlahan, seperti biasa Mas Rillo selalu bisa membawa suasana. "Nggak dosa kan?" "Enggak sih Mas..." ucap gue menggantung. “Gimana Jakarta? Banyak yang berubah selama saya tinggal tiga bulan?” “Umm… Jalanan bolong semakin banyak, jalan tol semakin macet, sama apa lagi ya?” gue berpikir dengan begitu serius hingga Mas Rillo tergelak di tempatnya. “Kamu itu bener-bener ya,” ucapnya sambil menggeleng. “Loh? Jawaban saya kan nggak salah,” balas gue dengan cengiran. “Iya, enggak. Saya yang salah nanya. Harusnya saya nanya kamu gimana, apa ada yang berubah selama tiga bulan?” Gue mengerjapkan mata, bingung untuk menjawab. Untungnya seorang pelayan datang ke meja kami untuk mengantar pesanan yang sudah dibuat sebelumnya, hal itu cukup menyelamatkan keadaan. Gue segera mengambil air mineral di meja dan menyesapnya, begitu juga dengan Mas Rillo yang kini sudah fokus dengan minumannya. “Dalam tiga bulan ini… banyak yang berubah dalam hidup saya,” ungkap gue pada akhirnya. “Kalau Mas?” “Nggak ada yang berubah selain tempat tinggal. Rutinitas lainnya kurang lebih sama.” Apa hati Mas masih sama? Ingin rasanya gue menyuarakan pertanyaan itu, namun entah mengapa bibir gue tak mampu mengucapkannya. "Kamu lagi ngerjain skripsi di sini?" tanya Mas Rillo sambil melihat ke arah laptop gue yang dalam keadaan menyala. "Iya Mas," "Udah selesai?" "Belum sih Mas, lagi rapiin daftar pustaka." "Sini, saya bantu," ucap Rillo seraya mengambil alih laptop gue ke hadapannya. Dalam hitungan menit revisi skripsi gue sudah selesai di tangannya. "Makasih ya Mas, nanti namanya saya masukin kata pengantar deh," putus gue sebagai ucapan terima kasih. Walaupun cuma daftar pustaka, seenggaknya dia sudah membantu. "Nggak perlu, gapapa," tolaknya. "Beneran nih? Nggak nyesel?" tanya gue dengan nada meledek. "Enggak, tapi saya minta bayaran lain," balas Mas Rillo dengan nada serius yang bikin gue kicep. "Apa bayarannya Mas?" tanya gue dengan raut wajah khawatir dan juga gugup. Dia nggak minta beliin sesuatu yang aneh-aneh atau apa gitu kan? "Besok kamu ada waktu?" tanya Mas Rillo. Gue terdiam sebelum menganggukkan kepala sebagai jawaban ya. "Saya minta waktu kamu seharian besok sebagai bayarannya," ucap Mas Rillo. "Mas mau ngapain?" tanya gue penasaran. "Tiga bulan di sini saya belum jalan-jalan sama sekali. Kalau kamu jadi tour guide nggak masalah kan?" Ya, ini kan kota kelahiran sekaligus tempat gue. Dan gue akan menunjukkan destinasi wisata di sini buat dia. "Nggak masalah Mas," jawab gue. "Ayok saya antar pulang, perempuan nggak baik keluar malam-malam," ucap Mas Rillo seraya membantu gue memasukkan barang-barang ke dalam tas. “Besok akan jadi hari yang panjang,” ucapnya seraya meraih tangan gue untuk menuntun gue keluar kafe. Hari ini, pertamakalinya gue merasakan genggaman tangan Mas Rillo seerat ini di tangan gue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN