Sebelumnya... 'Ya, sepertinya hubungan kita harus berakhir di sini,' kata Badai, setelah mereka terdiam beberapa menit. Senyum merekah Zahra tadi, tergantikan dengan senyum masam. Jantungnya berdebar tidak menentu. Kali ini bukan karena debaran seperti biasa. Tolong, ini hanya mimpi kan? Atau dia salah dengar tadi? Tolong katakan! Jantungnya. Bukan, bukan sedang berdetak kencang, tapi berhenti. Berhenti seperti benda yang dibanting ke lantai, dan hancur berkeping-keping. Orang bilang, lidah seseorang bisa lebih tajam daripada pedang. Ya, dia sedang merasakan sekarang. Pedang tak kasat mata itu menancap tepat di ulu hati, menyayat secara perlahan-lahan, sebelum akhirnya benar-benar terbelah menjadi dua. Zahra tersenyum getir, dan sampai sekarang belum mau menatap wajah calon mantan keka

