Dengan tatapan tajam dan dingin, Aginos menoleh ke arah pintu perpustakaan di mana Lina berdiri menunduk sopan. “Kau… kemari,” ucapnya datar. Nada suaranya tak meninggi, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang mendengar bergidik. Hazel spontan menoleh ke arah Lina, khawatir. “Tuan, Lina—” “Aginos,” potongnya cepat. “Apa kau lupa nama lelakimu ini?” Hazel terdiam. Untuk sejenak, waktu seolah berhenti. Kedua pipinya memanas tiba-tiba. “Ti—tidak. Maksudku… kenapa kau memanggil Lina? Dia tidak melakukan kesalahan apapun.” Nada suaranya penuh kehati-hatian. Aginos menghembuskan nafas pelan, namun dingin di matanya tak surut. “Ck. Kau khawatir pada orang lain yang belum tentu mengkhawatirkanmu,” katanya, nyaris seperti gumaman yang menyengat. “Lagi pula, aku hanya memintanya melakukan sesua

