Uap air dingin membumbung pelan dari pancuran di kamar mandi marmer putih itu. Suara deras air memantul di dinding, mengisi seluruh ruang dengan bunyi yang nyaris menenggelamkan desahan berat seorang pria. Aginos berdiri di bawah pancuran, air dingin mengucur deras dari kepala hingga punggungnya yang berotot, membasahi kulit yang sudah memerah oleh suhu ekstrem. Ia menengadah, kedua tangannya menekan dinding, napasnya memburu, d**a naik turun cepat. “Hhh—sial…” desisnya pelan, suara beratnya terputus di sela embusan napas panas. “Kenapa dia… selalu begitu.” Air dingin tak mampu sepenuhnya menenangkan gejolak itu—gejolak yang terus menyala setiap kali Hazel menatapnya dengan mata besar polosnya, atau ketika bibir gadis itu menyebut namanya dengan lembut… Agi. “s**t,” gumamnya lagi, memu

