BAB 16 KMJN

2062 Kata

Suasana pagi di mansion Alagar tidak pernah benar-benar tenang. Meski matahari mulai naik, udara di ruang utama terasa berat, menyesakkan, seolah dinding marmer abu-abu itu menyerap setiap desis kemarahan yang terpendam. Shapira duduk di kursi panjang berhias ukiran emas, wajahnya pucat tapi matanya menyala penuh bara. Tangannya mencengkeram laporan tipis berisi hasil interogasi terakhir dari anak buah Ordo Selatan yang tersisa. “b*****t!” Suara pecahan gelas menggema saat ia melempar cangkir kristal ke lantai. Cairan merah anggur menyebar seperti darah di atas karpet Persia. Hia yang berdiri di sisi kanan hanya memejamkan mata, berusaha menahan diri agar tidak ikut berteriak. Ia tahu ibunya sedang di ambang ledakan, dan itu bukan waktu yang tepat untuk menambah minyak pada api. “Sudah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN