BAB 17 KMJN

1957 Kata

Hia berdiri di depan cermin besar, bayangan dirinya memantul berkali-kali pada kaca yang memantulkan kilau pagi. Di tangannya tergenggam beberapa dress; satu berwarna hitam satin, satu merah marun yang memeluk tubuh, satu lagi putih mutiara yang menonjolkan bahu. Matanya berbinar bukan karena kegirangan, melainkan karena sesuatu yang lebih gelap — rencana, obsesi, hasrat yang merayap. “Aku harus tampil sempurna,” gumamnya pelan sambil menempelkan salah satu kain ke tubuhnya, membayangkan bagaimana Aginos akan menatapnya. “Aginos… pria itu—dia pantas mendapatkan yang terbaik. Dan yang terbaik adalah aku.” Bayangan pikirannya tak bisa lepas dari kenangan semalam: tatapan Aginos pada panggung lelang, langkahnya tenang, jaketnya terangkat sedikit di bahu saat berdiri — semuanya terukir. Hia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN