Waktu berlalu perlahan, hampir terasa seperti lautan tanpa ujung. Setelah tiga puluh menit, mereka berdua meninggalkan restoran dan menuju supermarket.
Gerald berjalan di samping Sandra, langkahnya tenang namun penuh arti. Sandra, di sisi lain, merasa pikirannya berkelana jauh. Kata-kata Gerald tadi masih menggantung di udara seperti aroma mawar yang tak mau hilang.
“Sudah?” tanya Gerald ketika Sandra selesai mengambil bahan-bahan pokok.
Sandra mengangguk pelan, mengikuti perintahnya untuk membeli secukupnya saja agar tidak mencolok di mata Gery. “Ya, sudah.”
Gerald tanpa ragu mengeluarkan kartu debitnya untuk membayar. Gesturnya sederhana, tapi terasa seperti perisai yang melindungi Sandra dari dunia yang kejam.
“Gerald. Uang yang kamu kirim ke rekeningku masih ada,” Sandra mencoba menolak dengan suara lemah.
“Aku tahu. Itu untuk simpanan kamu,” jawab Gerald sambil menyunggingkan senyum kecil, lalu mengambil kantong belanjaannya. Kelembutan dalam suaranya begitu halus, seperti angin malam yang membawa ketenangan.
Saat berjalan keluar dari supermarket, Gerald kembali bertanya, “Gery tidak pernah menghubungi kamu? Sudah jam sepuluh malam, dan dia tidak mencarimu?”
Sandra menggelengkan kepala pelan, wajahnya pucat diterangi lampu-lampu jalan. “Tidak ada. Aku tidak terlalu takut harus pulang jam berapa. Tapi... kalau diantar oleh laki-laki, aku tidak yakin akan baik-baik saja.”
Gerald mendesah panjang, matanya menyipit dalam frustrasi yang tertahan. “Aku juga takut kalau kamu pulang naik taksi sendirian. Tidak masalah. Aku akan menurunkanmu seratus meter dari rumahmu. Oke?”
Sandra mengangguk perlahan, napasnya berat seperti membawa beban tak terlihat. “Semoga Gery belum pulang,” gumamnya hampir tak terdengar.
Gerald menjawab dengan nada dingin, “Don’t worry. Suamimu sedang senang-senang, mungkin dengan uang yang dia ambil dari dompetmu. Aku akan mencari bukti perselingkuhan suamimu itu.”
Sandra tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih menyerupai bayangan daripada kenyataan. “Terima kasih atas bantuannya,” ucapnya pelan, seperti sedang berterima kasih pada bintang jatuh yang tak ia percaya benar-benar ada.
“Sama-sama. Jangan ragu meminta bantuan apa pun dariku. Meskipun kamu tidak percaya kalau wanita itu adalah kamu, itu tidak masalah. Aku tidak akan memaksamu untuk percaya. Yang penting, aku sudah mengakui semuanya,” kata Gerald dengan nada yang begitu lembut, namun tegas.
Sandra hanya diam, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam hatinya seperti air hujan yang jatuh ke tanah kering.
Namun, benaknya tetap dipenuhi keraguan. Apa yang membuat Gerald jatuh cinta padanya? Ia hanya seorang wanita biasa—rapuh, tanpa kilauan istimewa yang bisa membuat pria seperti Gerald terpikat.
Ketika mereka sampai di rumah, Sandra segera masuk dengan kantong belanja di tangannya. “Syukurlah,” gumamnya pelan sambil meletakkan belanjaannya di meja dapur. “Kalau dia tidak pulang malam ini, setidaknya aku bisa bernapas lega. Tidak akan ada pukulan lagi.”
Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat.
Brak!
Pintu rumah terbanting terbuka, dan langkah kaki berat terdengar mendekat dengan tergesa. Sandra menoleh dengan wajah pucat pasi, matanya membesar saat melihat sosok yang begitu ia takuti—Gery.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sandra, mengoyak keheningan malam. Dunia seakan runtuh di sekelilingnya. Ia merasakan panas membakar di pipinya, namun lebih menyakitkan lagi adalah kehancuran dalam hatinya. Pandangan Gery penuh dengan amarah yang tak beralasan, tatapannya seperti pisau yang siap menikam lagi.
"Aahh!" Sandra mengelus pipinya yang berdenyut panas, bekas tamparan keras dari tangan Gery. Tubuhnya sedikit limbung, tapi ia segera menegakkan diri, matanya membara seperti bara api yang tertiup angin.
"Apa lagi, Mas? Aku salah apa lagi, huh?" pekiknya, suaranya penuh amarah yang bercampur dengan kelelahan.
Gery mendekatinya dengan langkah besar, wajahnya memancarkan amarah seperti badai yang siap melanda.
"Kamu bilang mau ke pesta ulang tahun kampus. Tapi kamu malah pergi dengan pria ini! Siapa dia, Sandra?!" teriaknya seraya menyerahkan sebuah foto. Dalam gambar itu, terlihat Sandra bersama Gerald, memasuki mobil pria itu.
Sandra meraih foto tersebut dengan tangan gemetar. Matanya menyisir gambar itu, dan hatinya semakin teriris.
Ia tahu betul siapa yang telah membuat jebakan ini, memperalat dirinya hingga akhirnya tidur dengan Gerald di malam ulang tahun itu. Semua ini hanyalah permainan kejam untuk membuat Gery semakin geram, semakin tak berperasaan.
Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdentum liar. "Dia mahasiswa di kampus. Kita pernah bertemu dengannya lima tahun yang lalu saat memberikan undangan di sekolah. Kamu tidak ingat? Sebagai murid yang hormat pada gurunya, apakah tidak diperbolehkan dia mengantar aku pulang?" Sandra menatap Gery dengan mata penuh tantangan, meskipun hatinya tengah gemetar ketakutan.
"Kamu sendiri, dapat dari mana foto itu? Kayaknya sengaja banget, ingin buat aku selalu salah di mata kamu. Aku ulangi sekali lagi, Mas. Ceraikan aku! Jangan mencari alasan untuk terus menyiksaku. Bukti itu, silakan kamu jadikan untuk di meja sidang. Kalau kamu tidak ingin dipermalukan oleh keluargamu!"
Gery terdiam sejenak, matanya menyipit tajam, sorotannya seperti pisau yang siap menusuk. "Mulai berani kamu, ya!" katanya, tangannya terangkat lagi, siap menghantam Sandra sekali lagi.
Namun, takdir berpihak pada Sandra. Dering nyaring ponsel Gery membelah udara yang mencekam. Lelaki itu menghentikan gerakannya, mendengus kesal, lalu meraih ponselnya.
Sandra memanfaatkan momen itu. Ia menutup matanya sejenak, menarik napas panjang, dan menyibak rambutnya dengan gerakan lemah. Langkahnya terseok ketika ia meninggalkan ruang tamu, menuju kamar dengan tubuh yang terasa begitu berat.
Di dalam kamar, Sandra menjatuhkan dirinya ke kasur dengan lelah. Ia meringkuk seperti anak kecil yang mencari perlindungan dari dunia yang begitu kejam. Kedua lututnya ia peluk erat, seolah ingin menyatukan kembali kepingan hatinya yang telah retak berkali-kali.
Air matanya mengalir perlahan, membasahi pipinya. Di bawah cahaya temaram lampu kamar, ia tampak seperti bunga yang layu di tengah musim dingin.
Bibirnya bergetar saat ia berbisik lirih, "Kalau memang akulah orang yang kamu cinta, bisakah kamu selamatkan aku dari siksaan hidup yang sungguh membuatku tidak berdaya ini, Gerald? Kamu baik... pria tulus sepertimu seharusnya mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Tapi... aku pun menginginkan kamu."
Kemudian, suara hatinya yang gelap mencemooh harapan itu. "Siapa aku? Berharap banyak pada pria itu. Dia tidak mencintaimu, Sandra. Dia hanya bertanggung jawab... alih-alih kamu akan hamil suatu hari nanti."
Ia menelan saliva dengan pelan, tenggorokannya kering seperti gurun pasir. Di luar, jam dinding berdetak lambat, seolah ingin memperpanjang malam yang menyakitkan ini. Ketika akhirnya jarum jam menunjuk angka dua belas, Sandra menyadari betapa hari itu terasa seperti satu tahun penuh penderitaan.
Ia menarik selimut hingga ke dadanya, mencoba menenggelamkan pikiran yang berputar-putar di benaknya. Ada Gerald, dengan senyum dan kata-katanya yang membingungkan. Ada Gery, dengan amarahnya yang tak kunjung padam. Dan ada dirinya sendiri, terperangkap di antara dua dunia yang sama-sama menyakitkan.
Sandra memejamkan mata, berharap mimpi yang lebih baik akan datang menggantikannya. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa besok akan menjadi hari lain yang harus ia lalui dengan luka yang sama.