Satu minggu berlalu. Sudah satu minggu pula Sandra hidup dalam bayang-bayang perhatian intens dari Gerald.
Seperti sinar matahari yang menyinari bunga di pagi hari, Gerald terus-menerus mengirimkan hangatnya perhatian yang memaksa Sandra untuk percaya bahwa dia, ya, dialah wanita yang dimaksud dalam bisik-bisik semua orang.
Wanita yang berhasil membuat hati Gerald terkunci, tak mampu mencintai perempuan lain selain dirinya.
“Morning, Mommy.” Suara Gerald terdengar lembut, meluncur seperti alunan melodi pagi.
Bibirnya menyentuh pipi Kayla yang sibuk mengolesi selai ke roti, dengan gerakan hati-hati seperti seorang pelukis yang mengisi kanvas kosong atas permintaan sang suami.
“Morning, anak handsome. Hari ini, pulang jam berapa?” tanya Kayla, senyum keibuan menghiasi wajahnya.
“Seperti biasa, jam lima. Kenapa, Mom? Nanti malam, aku mau ketemuan sama Nicko. Ada yang ingin dia bahas katanya.”
“Ciee. Yang makin akrab sama calon ipar,” balas Kayla sambil terkikik kecil. “Semalam kamu habis dari mana?”
“Makan di luar,” jawab Gerald singkat, tetapi matanya sibuk melirik ke kanan dan ke kiri, seperti sedang berburu sesuatu yang tak kasatmata.
Kayla menaikkan alis, keheranan. “Ada apa sih?” tanyanya, mengikuti arah pandangan Gerald.
Gerald menatap mamanya lagi, matanya memancarkan kegelisahan yang sulit disembunyikan. “Mom. Sandra ….”
“Kenapa dengan Sandra? Jangan buat masalah, Gerald. Kamu tahu kan, kamu masih kuliah. Papa mau bantu kamu kalau kamu sudah lulus, Gerald.”
“Mom. Kalau harus nunggu setahun, kelamaan.” Gerald menghela napas panjang, suaranya nyaris tenggelam dalam beratnya pikiran.
“Dia kerap disiksa oleh suaminya dan sekarang dia jadi tulang punggung, mencari nafkah untuk memuaskan gaya hidup Gery yang nggak tahu dibuat apa,” ucapnya dengan nada getir.
“What?! Kok bisa? Emangnya suaminya nggak kerja? Bukannya dia pemilik wahana kolam renang itu? Pertama kali kamu kenal dekat dengan Sandra.”
Kayla tampak terperangah, seperti baru saja mendengar kabar tentang badai yang akan menghancurkan kota.
“Itulah, Mom. Rupanya, sudah tiga tahun ini, Sandra dijadikan kacung oleh suaminya. Dia nggak kerja, hanya Sandra saja yang kerja. Jadi dosen di kampus. Dan … dia pengen cerai dengan suaminya.”
“Yaa jelas lah, Gerald. Perempuan mana yang mau dijadikan kacung oleh suaminya sendiri. Kalau itu sih … coba Mommy bicarakan lagi sama papa kamu, yaa. Semoga dia mau bantu kamu. Apakah si Gery ini … punya perempuan lain?”
Gerald mengangguk dengan semangat. “Katanya, sudah tiga bulan ini mereka pisah ranjang. Gery sudah tidak pernah menyentuhnya lagi.”
Kayla mengerutkan kening, ekspresi wajahnya mengeras dalam campuran emosi antara terkejut dan curiga. “Kok kamu tahu … sampai hal privasi begitu, kamu tahu?” tanyanya penuh selidik.
Gerald menelan ludah, menatap mamanya dengan sorot mata penuh rasa bersalah.
“Gerald. Jangan bilang ….”
“Mom! Itu nggak sengaja, sumpah!” suara Gerald terdengar putus asa, nyaris seperti sebuah doa yang ia panjatkan dalam keheningan.
Kayla menganga, lalu menghela napas panjang, seolah mencoba menghapus kegelisahan yang memenuhi ruang di sekitarnya. “Lanjutkan, Gerald!”
“Haaah?!”
Kayla melipat tangannya di depan d**a. “Kenapa kamu melakukan itu? Bukan lanjutkan bercinta dengan dia! Enak saja.” Senyuman setengah mengejek terlukis di bibir Kayla.
“Ooh!” Gerald hanya bisa melongo. “Nggak sengaja Mom, sumpah. Aku nggak pernah berniat untuk melakukan it—“
“Kalau begitu ceritanya, kamu yang akan dituntut, Gerald. Semoga saja tidak hamil,” suara Kayla melemah, nyaris seperti bisikan.
Ia kemudian memijat keningnya dengan kedua tangan, mencoba menenangkan diri dari percakapan yang terasa seperti badai kecil dalam rumah mereka.
Gerald, sementara itu, hanya bisa menyandarkan punggung di kursinya, menatap kosong ke langit-langit, seolah-olah mencari jawaban dari kekacauan ini di antara awan-awan imajiner yang melintas di pikirannya.
“Itu, yang kamu pikirkan?” tanya Kayla, suaranya serak seperti bisikan angin di malam sunyi.
Gerald mengangguk pelan, gerakannya nyaris tak terlihat, seakan beratnya beban pikirannya menekan setiap otot di tubuhnya.
Kayla memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan badai emosi yang perlahan berputar di dalam dirinya, sebelum menghela napas panjang yang terasa seperti upaya terakhir untuk mengembalikan ketenangan.
“Tapi, Ger. Lima tahun nikah sama Gery aja dia nggak hamil, lho,” ucap Kayla dengan nada datar, tetapi ada keheranan samar di balik kata-katanya.
“Karena dijaga, Mom,” balas Gerald dengan suara pelan, tetapi setiap kata terasa seperti pecahan kaca yang menghujam hati Kayla. “Tiga bulan itu, karena Gery udah nggak pernah sentuh dia, udah nggak pernah dijaga lagi.”
Tubuh Kayla terasa semakin lemas. Ia menyandarkan dirinya ke kursi, kedua tangan memijit pelipis yang terasa berat. “Mommy pikir, karena ada gangguan. Ternyata emang dijaga,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Gerald.
“Sorry, Mom.” Gerald menunduk, seperti seorang anak kecil yang tertangkap basah melakukan kesalahan.
“Kejadiannya di pesta ulang tahun kampus minggu lalu. Saat itu kondisinya lagi genting. Ada yang jebak dia dengan memasukkan obat perangsang ke minumannya. Karena kami sudah saling kenal dari dulu, dia hanya percaya ke aku. Dan akhirnya … you know lah!”
Gerald menggaruk belakang kepalanya, mencoba menahan rasa canggung yang membakar wajahnya.
Kayla memandang anaknya dengan tajam, sorot matanya seperti pisau yang mencoba menembus lapisan kebohongan. “Patut dicurigai. Kalau bukan dari pihak kamu, berarti di pihak Sandra.”
“Bukan kamu kan, yang sengaja jebak dia?” lanjut Kayla, kali ini dengan nada suara yang sedikit lebih tegas, seperti seorang hakim yang menuntut pengakuan.
Gerald langsung menggelengkan kepala dengan cepat, gerakannya penuh kepanikan. “Secinta-cintanya aku ke dia, bukan berarti harus melakukan hal gila itu, Mom. Kalau memang mau, yaa tinggal bilang aja. Ngapain harus dijebak!”
Kayla tersenyum tipis, tetapi senyuman itu penuh ironi. “Seneng, karena Sandra minta bantuan kamu?” tanyanya, suara penuh sindiran halus.
Gerald mengangkat bahu dengan ringan, tetapi matanya tak bisa menyembunyikan kebimbangan.
“Mom, please. Bantuin aku, kali ini aja. Apa pun Papa minta, aku akan lakukan deh. Yang penting Papa mau bantu Sandra buat pisah dengan suaminya,” pintanya, suaranya seperti seorang pelaut yang memohon perlindungan saat badai mengamuk di tengah laut.
“Hanya di malam itu saja? Tidak kamu lanjut lagi?” tanya Kayla, suaranya lebih lembut sekarang, tetapi ada rasa penasaran yang mengintip di balik setiap kata.
“Soalnya, waktu Mommy goda papa kamu, setelah itu lanjut lagi sampai Mommy hamil.”
Gerald menggeleng lagi, gerakannya kali ini lebih pelan, seperti menahan rasa malu yang menjalar di setiap inci tubuhnya. “Nggak. Hanya malam itu saja.”
Kayla menatapnya dengan mata yang menyipit sedikit, kepala dimiringkan seperti seorang detektif yang mencoba membaca pikiran tersangka. “Enak, yaa?” tanyanya, nadanya setengah menggoda.
“Apaan sih! Nggak usah ngeledek!” balas Gerald, wajahnya memerah seperti mentari yang terbenam di ufuk barat.
Kayla tertawa pelan, suara tawanya seperti gemericik air di sungai yang tenang. “Nggak kayak papa kamu, kan? Dia kan maniak. Kamu, kayak gitu juga nggak?”
Gerald menggeleng pelan, kali ini dengan ekspresi yang lebih santai, mencoba menghapus suasana tegang. “Boleh dicoba lagi nggak, yaa?” godanya balik, setengah bercanda.
Hati Gerald akhirnya merasa sedikit lebih tenang setelah menceritakan semua yang terjadi kepada Kayla.