Mimpi jadi Suami Kamu

1100 Kata
Di kampus, waktu sudah menunjuk angka sembilan pagi. Matahari menyelinap melewati jendela-jendela besar gedung, memandikan lorong-lorong dengan cahaya lembut. Kelas Gerald kosong, sunyi tanpa deru suara dosen yang tengah sibuk rapat. Di sisi lain gedung, Sandra tengah berdiri di depan kelas fakultas manajemen bisnis, suaranya mengalir seperti aliran sungai yang membawa pemahaman kepada para mahasiswanya. "Udah makin lengket aja, lo!" seru Joseph tiba-tiba, menghentikan lamunannya. Ia menyerahkan minuman dingin kepada Gerald, senyum nakalnya mengintip dari sudut bibir. Gerald menyunggingkan senyum tipis, senyuman yang penuh arti. “Gimana nggak lengket. Gue udah nunggu lama, dan sekarang akhirnya ada kesempatan buat deket sama dia. Walaupun harus berhadapan dengan Papa dan juga suaminya Sandra,” ucapnya, nada suaranya menurun di akhir kalimat, seperti rahasia kecil yang tak ingin menyebar. Joseph menepuk bahunya dengan keras, membuat Gerald sedikit terguncang. “Gue akan bantu elo buat nyari bukti perselingkuhan si Gery sama cewek itu,” ucap Joseph mantap, sorot matanya bersinar seperti detektif yang menemukan petunjuk baru. “Thanks, Joseph. Elo emang the best,” ujar Gerald dengan nada penuh penghargaan. “Nggak gratis tapi.” Gerald menoleh malas ke arah Joseph, alisnya terangkat penuh curiga. “Apaan? Elo minta apaan?” tanyanya, nadanya sedikit ketus. “Gampang,” jawab Joseph dengan senyum lebarnya yang khas. “Elo kan cowok paling ganteng di muka bumi ini. Gue mau minta tolong ke elo, mintain nomor HP si Nadya. Kalau berhasil, detik ini juga gue akan cari bukti perselingkuhan si Gery dan Natasha.” Gerald mendesah panjang, tetapi senyum tipis muncul di bibirnya. “Serius?” Joseph menganggukkan kepala dengan antusias. “Iyalah. Kapan gue bohong sama elo?” Gerald menggeleng pelan, ekspresi wajahnya setengah kesal, setengah menyerah. “Oke! Gue akan mintain nomor si Nadya buat elo. Tapi, kalau dia malah baper sama gue, jangan salahin gue!” “Gampang,” balas Joseph santai. “Dia termasuk cewek yang nggak terlalu ganjen. Makanya gue suka sama tuh cewek.” Gerald hanya bisa menggeleng kepala, senyumnya penuh sindiran. “Masih jam masuk. Lagi diajar sama Sandra juga.” Joseph hanya menganggukkan kepala sambil memandang ke arah jendela kelas Nadya. Cahaya matahari yang menerobos masuk menciptakan bayangan halus di lantai, seolah menjadi saksi percakapan mereka. Ia mengembuskan napas panjang, dan tanpa sengaja, matanya menangkap sosok Sandra yang tengah memperhatikan Gerald dari kejauhan. “Ayang beb lo noh. Lagi lihatin elo,” ujar Joseph sambil menyikut lengan Gerald, suaranya dipenuhi nada menggoda. Gerald menolehkan kepalanya dengan perlahan, matanya bertemu pandang dengan Sandra. Senyum tipis terulas di bibirnya, dan ia melambaikan tangan dengan santai, seolah mengundang senyum Sandra. Wajah Sandra memerah, pipinya bersemu seperti senja yang malu-malu muncul di langit. Hatinya berdebar kencang. ‘Duuh? Kenapa ketahuan sih?’ gumamnya dalam hati, sambil berpura-pura sibuk memperhatikan catatan di tangannya. Jam kuliah berlalu dengan cepat, dan jarum jam kini menunjuk angka dua belas siang. Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang berlalu lalang, Gerald memutuskan melakukan aksinya. Ia berjalan dengan percaya diri, seperti pahlawan yang tengah menjalankan misi penting. “Nad. Bisa ngobrol bentar?” panggil Gerald, menghampiri Nadya yang sedang berbincang dengan teman-temannya. Seolah waktu berhenti, semua mata di sekeliling mereka tertuju pada Gerald. Beberapa perempuan menoleh dengan antusias, bahkan ada yang bersorak kecil melihat pria itu duduk tepat di depan Nadya. Aura karismanya memancar kuat, menarik perhatian seperti magnet yang tak terelakkan. "Jadi dia, yang udah bikin hati Gerald mati." "Astaga! Seleranya kok biasa aja." "Paling juga dipelet!" Suara-suara itu seperti duri halus yang menyusup ke dalam udara, menusuk diam-diam tanpa ampun. Gerald mendengarnya, tetapi hanya memutar bola matanya dengan pelan, seolah ocehan itu tak lebih dari gumaman serangga di tengah malam. Namun, jauh di dalam hatinya, ada sedikit rasa perih yang tak mampu ia abaikan. Di seberang sana, matanya menangkap sosok Sandra. Perempuan itu berdiri dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan, seolah tengah berperang dengan harapan yang ia tahu mungkin salah. Wajahnya menunjukkan kecewa yang tak terucapkan, dan itu menusuk hati Gerald lebih dalam daripada kata-kata tajam di sekitarnya. "Ada apa, Gerald?" suara lembut Nadya memecah lamunannya, tetapi ia tak menjawab. Gerald bangkit dari duduknya. Langkahnya ragu, tetapi tatapannya tegas. Ia tahu harus mengambil keputusan, meskipun itu berarti melepaskan tujuan awalnya. Nomor telepon Nadya kini terasa tak penting; ia tak ingin Sandra salah paham. Namun, ketika ia mencoba mendekati Sandra, perempuan itu bergerak cepat, melangkah menjauh dengan langkah-langkah lebar yang penuh penolakan. Di belakang kampus, suasana berubah. Di sana, bayang-bayang pohon menciptakan permainan cahaya yang menari di tanah, seolah menjadi saksi bisu dari percakapan yang sebentar lagi akan terjadi. Gerald berhasil menangkap tangan Sandra, menghentikan langkahnya yang penuh rasa ingin menghindar. “Gerald, lepas. Aku tidak ingin ada orang yang salah paham dengan kita,” pinta Sandra. Suaranya terdengar tegas, tetapi ada getaran kecil di sana, getaran yang hanya bisa ditangkap oleh seseorang yang benar-benar peduli. Gerald melepaskan tangannya, tetapi matanya tetap terpaku pada wajah Sandra. Ia menelengkan kepalanya, memperhatikan setiap detail wajah perempuan itu—garis rahangnya, tatapan tajamnya, bibirnya yang tampak lebih berwarna karena kemarahan yang terpendam. Dalam momen itu, Sandra terlihat lebih cantik daripada biasanya, dan itu membuat napas Gerald tercekat sejenak. “Kamu … cemburu?” tanya Gerald dengan nada menggoda, senyumnya mengembang, tipis tetapi penuh arti. Sandra tertawa kecil, tetapi tawa itu tak sampai ke matanya. “Cemburu? Untuk apa aku cemburu sama kamu, Gerald? Memangnya kamu siapa aku?” tanyanya, suaranya terdengar ringan tetapi penuh pertahanan. Gerald menggaruk pelipisnya, mencoba menahan senyum. Tatapannya kembali jatuh pada Sandra, kali ini lebih serius. “Susah juga, meyakinkan kamu kalau aku hanya mencintai kamu. Kenapa begitu, Sandra? Apa lagi, yang harus aku lakukan agar kamu tahu, jika aku hanya mencintai kamu?” Kata-kata itu seperti panah yang melesat, tepat mengenai pusat hati Sandra. Ia terdiam, bibirnya tak mampu membentuk kata-kata. Matanya melirik Gerald dengan perlahan, dan di sana ia melihat ketulusan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Selingkuh aja, yuk!” Gerald berkata tiba-tiba, suaranya sedikit bergetar tetapi penuh keyakinan. “Aku udah nggak tahan soalnya. Udah lima tahun ini, aku mencoba menahannya. Sekarang, udah nggak bisa. Setelah kejadian di malam itu, aku selalu bermimpi ….” Ia mengusap wajahnya dengan pelan, seperti mencoba menghapus rasa malu yang muncul karena pengakuan itu. “Mimpi apa?” suara Sandra terdengar nyaris seperti bisikan. “Mimpi jadi suami kamu.” Gerald tersenyum lagi, senyumnya kali ini lebih lebar, tetapi matanya penuh dengan sesuatu yang serius. “Sandra. Suami kamu yang duluan b******k. Aku juga mau ajak kamu jadi b******k. Supaya si Gery juga punya alasan untuk menceraikan kamu. Gimana? Pokoknya dijamin aman.” Gerald menaik-turunkan alisnya sambil menatap Sandra, nada bercandanya tidak mampu sepenuhnya menutupi emosi yang berkecamuk di dadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN