Jangan Cemburu

1372 Kata
“Kamu kenapa, Gerald?” tanya Sandra dengan wajah polosnya, tetapi di balik kepolosan itu, ada segurat keraguan yang tak mampu ia sembunyikan. “Masih belum yakin juga?” Gerald tersenyum kecil, tetapi senyumnya itu tidak mampu menyembunyikan kegelisahan yang mengintip di sudut matanya. “Kita ketemu mamaku deh, kalau gitu. Karena dia yang tahu apa pun tentang hidup aku. Agar kamu percaya, jika perempuan yang aku cinta selama ini adalah kamu. Kenapa bisa begitu? Kamu pasti akan bertanya seperti itu.” Gerald menghela napas panjang, seolah tengah mengumpulkan keberanian dari dalam dirinya. Suaranya melembut, namun sarat dengan keteguhan. “Karena hati tidak bisa berbohong. Aku mencintai kamu ya karena hatiku yang ingin, mendorong kuat agar hanya kamu yang aku cinta. Begitu juga dengan menunggumu. Maaf, bukannya aku menyumpahimu. Tapi, karena kecintaan aku pada kamu, aku selalu berharap bila kamu bisa menjadi milikku.” Kata-kata itu meluncur seperti aliran sungai yang deras, mengalir langsung ke hati Sandra. Perempuan itu terdiam, pikirannya dipenuhi riak-riak emosi yang sulit diredakan. Matanya menatap Gerald dengan sorot yang penuh kehati-hatian, mencari-cari celah kebohongan di balik kata-kata manisnya. Namun, yang ia temukan hanyalah kejujuran murni, tergambar jelas dalam sorot mata hitam kecokelatan itu—mata yang menyimpan dunia penuh rasa untuknya. Sandra membuang muka dengan gugup, mencoba menghindari tatapan itu. Ia mendehem pelan, berharap bisa menguasai dirinya yang mulai dilanda debaran tak karuan. Detak jantungnya berirama seperti genderang perang, menggema di dadanya, membuat napasnya terasa lebih berat dari biasanya. “Bagaimana, Sandra? Aku bisa kok, jadi lebih baik dari suami kamu.” Suara Gerald kembali hadir, lembut namun penuh keyakinan, seperti angin malam yang mengusik dedaunan untuk menari. Sandra menghela napas panjang, seperti membawa semua beban yang ia pikul selama ini ke permukaan. “Kamu memang yang terbaik, lebih baik dari suamiku,” ucapnya pelan, seolah takut kata-kata itu terdengar terlalu jujur. “Tapi, Gerald ….” Gerald tidak membiarkan jeda itu bertahan lama. Ia meraih kedua lengan Sandra dengan penuh kehati-hatian, sentuhannya hangat dan penuh rasa, seolah ia memegang sesuatu yang lebih berharga daripada dunia itu sendiri. Matanya menatap lembut ke dalam mata Sandra, mencoba menjangkau hatinya yang tersembunyi di balik lapisan ketakutan dan keraguan. “Tapi apa? Kamu belum percaya seratus persen?” tanyanya dengan suara yang nyaris seperti bisikan. “Kataku juga ayo, temui mamaku. Dia akan menceritakan semuanya pada kamu.” Sandra menatapnya lagi, kali ini lebih lama. Di dalam sorot mata lelaki itu, tidak ada sedikit pun tanda-tanda keraguan atau kebohongan. Hanya ada ketulusan yang membuat hatinya terhanyut seperti daun yang dibawa arus. Namun, di balik kelembutan itu, ada sebuah kekhawatiran yang terus menghantui Sandra. “Aku tidak akan meminta ini jika suamimu memperlakukan kamu sebaik mungkin.” Suara Gerald terdengar serak namun tetap lembut, seperti dedaunan yang berbisik ketika angin lembut berhembus. Matanya menatap Sandra dengan intensitas yang membuatnya sulit berpaling. “Aku hanya tidak tega melihat kamu harus mengalami siksaan dari suami kamu itu. Kalau seandainya hidup kamu, rumah tangga kamu bahagia, aku tidak akan pernah melakukan hal gila ini.” Setiap kata yang diucapkan Gerald seperti benang yang perlahan menenun keyakinan di hati Sandra. Antara baik dan buruk, niat Gerald terombang-ambing dalam abu-abu yang rumit. Di satu sisi, ia ingin menjadikan Sandra sebagai wanita paling bahagia di dunia, tetapi di sisi lain, cinta yang mereka jalani adalah cinta yang dilarang oleh norma dan status. Sandra memalingkan wajahnya, menatap tanah yang diam bisu. Di hatinya, pergulatan itu terasa seperti badai yang tak kunjung reda. Gerald tidak akan pernah selancang ini jika bukan karena penderitaan yang dialaminya dalam rumah tangga. Sudah lama ia mencoba memperbaiki, tetapi semua usahanya berakhir sia-sia. Sandra hanya pasrah, seperti sebatang kayu yang hanyut di arus sungai. Namun, di hadapannya, Gerald berdiri menawarkan diri sebagai pelindung, sebagai oase di tengah gurun yang gersang. “Are you sure?” tanya Sandra pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara keraguan yang membelenggu. Gerald menganggukkan kepalanya dengan mantap, mata hitam kecokelatannya penuh keyakinan. “Sure!” ucapnya singkat namun penuh makna. Tetes air mata pun jatuh dari sudut mata Sandra, seperti kristal yang pecah dan meluncur lembut di pipinya. Haru memenuhi hatinya, campur aduk dengan rasa bersalah yang tak bisa ia jelaskan. Bagaimana mungkin seseorang seperti Gerald, lelaki muda dengan masa depan cerah, mencintai dirinya yang terjebak dalam pernikahan kelam? “I love you,” kata Gerald dengan suara yang dalam, seolah setiap hurufnya terukir di udara. Dengan lembut, ia menarik wajah Sandra mendekat, dan dalam keberaniannya, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang menggetarkan. Sandra terkejut, matanya membelalak, tetapi bibirnya tetap tak mampu menjauh. Ada perasaan hangat yang menjalar, menyelimuti tubuhnya, seperti api kecil yang perlahan menyala di malam yang dingin. “ASTAGA!! GERALD!!” Sebuah pekikan memecah keheningan, disusul suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Gerald melepaskan ciumannya perlahan, menghela napas panjang seperti ingin menenangkan dirinya. Ia menoleh ke arah suara itu, mendapati seorang pria berdiri dengan ekspresi terkejut, kedua tangannya melingkar di pinggangnya sendiri seperti mencoba menahan marah. Sementara itu, Sandra menundukkan kepala, wajahnya memerah padam. Bibirnya yang tadi terasa hangat kini ia rapatkan dengan keras, seolah ingin menyembunyikan sisa rasa dari ciuman itu. Ia merasa malu, lebih dari itu, ia merasa ketahuan dalam dosa yang tidak mampu ia bela. Gerald menatap pria itu dengan tenang, tetapi matanya mengisyaratkan sesuatu yang lain—sebuah tekad yang tidak akan mudah digoyahkan. “Apaan sih, lo? Ganggu aja!” gerutu Gerald, suaranya terdengar seperti gumaman gerimis yang kesal, seraya menatap tajam ke arah Joseph yang tengah mendekat dengan langkah penuh percaya diri. Joseph, dengan sikap santainya, menyeringai lebar. Langkahnya lebar, nyaris seperti seorang jenderal yang memasuki medan perang. “Mana … yang tadi gue minta? Malah pacaran di sini!” godanya sambil menunjuk Sandra, dengan nada yang sengaja dibuat dramatis. “Udah jadian, yaa? Cieeee ….” Suaranya menggantung, penuh ejekan manis yang sengaja menyulut rasa malu. Gerald memutar bola matanya dengan kesal, seperti mencoba menyingkirkan kehadiran Joseph dari benaknya. “Nanti aja, besok. Hubungan gue jauh lebih penting daripada permintaan elo. Lagian, belum tentu juga elo bisa nyari bukti,” jawabnya sambil melipat kedua tangannya di d**a. Joseph mengangkat bahu dengan santai, seolah tak terganggu oleh penolakan itu. “Ya udah. Besok, gue tungguin,” balasnya dengan senyum tipis, sebelum berbalik dan berjalan pergi. Namun, langkahnya sempat terhenti sejenak, kepalanya menoleh sedikit ke belakang. Matanya menyiratkan keterkejutan yang bercampur geli, seperti seseorang yang baru saja menangkap momen rahasia. “By the way, ciuman tadi … nggak buruk juga, sih.” Wajah Gerald berubah masam, sementara Sandra menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan rona merah yang merayap di pipinya. Saat Joseph akhirnya benar-benar pergi, Gerald menghela napas panjang, seperti mencoba melepaskan beban yang menggantung di dadanya. “Joseph minta tolong aku untuk minta nomornya Nadya. Mau pendekatan, tapi nggak berani,” katanya dengan nada ringan, mencoba mengalihkan suasana yang sempat tegang. Sandra mengangguk pelan, matanya masih menyimpan sisa rasa malu. “Ooh!” jawabnya singkat, dengan nada datar yang sulit diterka apakah itu tanda setuju atau tidak peduli. Gerald tersenyum tipis, mendekatkan wajahnya ke Sandra. “Jangan cemburu,” bisiknya lembut, seperti angin yang menyentuh dedaunan. “Aku hanya punya kamu saja. Walau banyak yang mau juga, akunya nggak mau. Janda lebih menggoda.” Sebuah senyuman nakal menghiasi bibirnya, menambah nuansa menggoda di udara. Sandra menatapnya tajam, pipinya kembali memerah. “Aku belum janda, Gerald!” tegasnya, suaranya setegas lonceng yang berdering di tengah sunyi. Gerald hanya terkekeh, menggoyangkan kepalanya sambil mengangkat kedua tangannya seolah menyerah. “Iya, Sayang.” Telinga Sandra langsung menangkap kata terakhir itu seperti nada tinggi yang melompat dari partitur tak terduga. Ia menolehkan kepalanya cepat, menatap Gerald dengan tatapan bingung. “Heuh?” gumamnya pendek, penuh tanda tanya. Gerald, tanpa banyak bicara, mengambil ponsel dari tangan Sandra. Dengan cekatan, jari-jarinya mengetik sesuatu di layar sambil sesekali melirik Sandra yang memandangnya penuh penasaran. “Namanya Kinara aja,” katanya sambil mengembalikan ponsel itu ke tangan Sandra. Sandra memandangi layar ponselnya, lalu menatap Gerald yang berdiri di depannya. Mata mereka bertemu, dan dalam hening itu, ada sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata. “Gery tidak pernah mengecek ponselku,” ujarnya lirih, nyaris seperti gumaman angin malam. “Yaa bagus,” balas Gerald, suaranya tegas namun tetap lembut. “Dia memang sudah tidak peduli pada kamu, Sandra. Hanya memanfaatkan kamu untuk menghidupinya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN