“Jam tujuh malam. Kalau mau, kita bertemu di café. Sama mamaku dan juga Kinara. Kamu pasti kangen kan, sama dia?” ucap Gerald, suaranya seperti melodi senja yang tenang namun penuh makna tersembunyi.
“Heuh? Malam ini?” tanya Sandra, keningnya berkerut, mencoba mencerna ajakan itu dengan nada tak percaya.
Gerald mengangguk mantap, senyumnya menggantung seperti cahaya bulan yang mulai muncul di langit temaram. “Iya. Kamu bisa chat aku, bisa atau nggaknya. Nanti aku kasih tahu Mommy.”
Sandra menghela napas kasar, seperti mencoba menyingkirkan gumpalan beban yang tiba-tiba memenuhi dadanya. “Ya sudah. Aku usahakan, semoga Gery keluar dan kalau bisa jangan dulu pulang sampai pagi,” gumamnya, nada pasrah terbungkus dalam suara pelan.
Gerald terkekeh pelan, suaranya rendah dan hangat, seperti bara kecil yang menyulut kehangatan di udara dingin. “Gampang. Bisa diatur. Gery nggak akan marahi kamu juga, kalau kamu bilang ada les private.”
Ia kemudian merogoh tasnya dengan santai, mengeluarkan sebuah kwitansi yang ia isi dengan nominal tertentu. Tanpa ragu, ia menyelipkan amplop tebal berisi uang di tangan Sandra. “Nih! Kasih ke dia, supaya diam,” ucapnya, nada suaranya ringan tapi penuh keyakinan.
Sandra memandang amplop itu dengan tatapan bingung. “Un—untuk apa ini, Gerald?” tanyanya, suaranya goyah seperti daun yang digoyang angin.
“Kasih ke Gery, kalau dia ada di rumah. Supaya kamu tidak dimarahi. Kalau ada uang kan, pasti bakalan diem,” balas Gerald dengan nada santai, matanya menatap Sandra dengan penuh kelembutan.
Sandra menghela napas panjang, menatap amplop itu dengan perasaan campur aduk. “Ada-ada saja,” gumamnya, namun bibirnya tak bisa menahan senyuman kecil yang mulai mengembang.
Gerald hanya mengangguk kecil, senyumnya mengembang lebar, penuh kepercayaan diri yang seolah bisa menaklukkan dunia.
“Anything for you! Ingat itu, Sandra.” Suaranya lembut, namun penuh janji yang sulit diabaikan. “Aku ke kelas dulu. Ada mata kuliah satu pelajaran lagi. Habis itu mau tanding, dan pulang. Kasih tahu Mommy dulu.”
Dengan gerakan santai namun anggun, Gerald melambaikan tangannya, meninggalkan Sandra yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Amplop pemberian Gerald masih di tangannya, terasa lebih berat dari sekadar kumpulan kertas bernilai.
“Apakah ini mimpi? Gerald … wanita itu … adalah aku?” bisiknya pelan, matanya menatap jauh ke arah langkah Gerald yang semakin menjauh.
Ia menoleh pada bayangannya sendiri di kaca besar yang memantulkan sosoknya. Perlahan, ia menunjuk dirinya sendiri sembari menganga, seolah ingin memastikan kenyataan yang baru saja terjadi.
Ada senyum yang mulai menyelinap di bibirnya, samar namun memancarkan cahaya yang tak biasa. Perasaan hangat menjalar di dadanya, seperti api kecil yang membakar perlahan. Bagaimana tidak, sementara ia akan mendapatkan hidup bahagia bila ada di samping lelaki itu.
Meski logikanya berteriak tentang kesalahan hubungan mereka, hatinya justru menemukan kelegaan. Bahkan jika hanya hubungan gelap, keberadaan Gerald menjanjikan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan.
**
Waktu sudah menunjuk angka tujuh malam. Langit malam menghampar seperti permadani hitam bertabur berlian kecil. Sandra berdiri di depan cermin kamarnya, mematut diri dalam balutan kemeja putih sederhana dan celana jeans hitam.
Sebuah tas berisi buku pelajaran tergantung di bahunya, sebuah alibi yang sempurna untuk mengelabui Gery. Namun, hatinya berdegup cepat seperti genderang perang, gemuruh gelisah bercampur antisipasi.
Dari kamarnya, ia bisa mendengar desahan napas Gery yang malas, terbaring di atas sofa seperti seorang raja yang bosan pada dunianya.
Sandra menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian dari udara yang terasa berat, lalu melangkah keluar dengan langkah yang terlihat percaya diri namun penuh keraguan tersembunyi.
“Jadwal les di mana kamu, Sandra?” suara Gery menggema, datar namun penuh curiga yang samar.
Sandra menelan salivanya dengan perlahan, mencoba menenangkan dirinya. “Anaknya Pak Santoso, murid SMA di Taruna Atmaja. Sebentar lagi kan, lulus. Papanya ingin anaknya masuk perguruan tinggi yang bagus,” jawabnya, suaranya terdengar stabil, meski jauh di dalam, ia merasa seperti perahu kecil yang goyah di tengah badai.
Dengan gerakan hati-hati, ia menyerahkan amplop yang sebelumnya diberikan Gerald. “Ini, uangnya sudah dikasih. Selama satu bulan ini, aku diminta untuk menjadi guru les private Citra,” tambahnya, kebohongan itu meluncur dari bibirnya dengan kehalusan seorang aktor veteran.
Gery mengambil amplop itu dengan kasar, tangannya mengoyak udara seperti seorang penguasa yang selalu merasa layak menerima lebih. Ia mengibaskan tangannya, mengusir Sandra seperti lalat yang mengganggu. “Pergi sana! Jangan ganggu malamku.”
Namun, sebelum Sandra sempat melangkah keluar, suara Gery menyusul seperti angin dingin di malam hari. “Malam ini aku tidak akan pulang,” teriaknya, penuh kesombongan dan ketidakpedulian.
Sandra menahan napas, seolah tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Begitu Gery kembali tenggelam dalam dunia kecilnya, ia mengembuskan napas lega, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. Seperti baru saja diberi ruang untuk bernapas setelah sekian lama terkurung. Angin segar yang lama dinanti akhirnya datang, dan Sandra merasa beban di pundaknya mendadak berkurang setengah.
Setelah memastikan semuanya aman, ia bergegas keluar dari rumah, langkahnya terasa ringan meski hatinya masih menyimpan sedikit rasa takut.
Di luar, malam menyambutnya dengan pelukan dingin, tapi di dalam dadanya, ada hangat yang tak bisa ia jelaskan.
Gerald datang tak lama kemudian, mobilnya berhenti dengan mulus di depan rumah. Sandra melangkah masuk, menutup pintu mobil dengan lembut. Saat duduk di samping Gerald, lelaki itu menoleh, menyunggingkan senyum hangat yang terasa seperti matahari pertama setelah badai.
Tanpa menunggu lebih lama, Gerald melajukan mobilnya ke tempat di mana Kayla dan Kinara sudah menunggu mereka.
Di sepanjang perjalanan, ada percikan kehangatan yang mengalir di antara mereka, seperti api kecil yang mulai menyala di tengah kegelapan malam.
“Gery, bagaimana?” Sandra bertanya dengan nada pelan, penuh kehati-hatian seperti memegang gelas kristal yang hampir retak.
“Ada. Tapi karena sudah disuap, jadi diam.” Gerald terkekeh pelan, tawanya rendah namun hangat, menggema seperti melodi lembut di malam yang tenang.
Ia mengusap pucuk kepala Sandra dengan gerakan yang sarat kasih sayang, seolah berusaha menenangkan gelisah yang tersisa di hati perempuan itu.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di depan sebuah kafe mungil yang berada tak jauh dari apartemen Gerald.
Lampu-lampu hangat dari dalam kafe memancar lembut, menciptakan suasana yang nyaman. Seperti dunia kecil yang terpisah dari segala kekacauan.
“Selamat malam,” sapa Sandra dengan senyum kecil yang terbit di wajahnya, menghampiri Kayla dan Kinara yang sudah menunggu di dalam.
Kayla, dengan senyum penuh keibuan, segera bangkit dari kursinya dan memeluk Sandra erat. Kehangatan itu seperti selimut lembut di malam yang dingin, membuat Sandra merasa diterima, meski dirinya sempat ragu akan kehadirannya di tempat ini.
“Panggil Mommy saja, yaa. Jangan sungkan,” ucap Kayla lembut, sambil membelai rambut panjang Sandra dengan penuh kasih sayang, seperti seorang ibu yang lama tak bertemu dengan anaknya.