Kinara yang duduk di samping Kayla melambai ceria, lalu memeluk Sandra dari samping. “Hai, Kak. Udah lama banget kita nggak ketemu. Apa kabar?” tanyanya, senyum khas gadis muda yang penuh semangat menghiasi wajahnya.
Sandra tersenyum, sedikit malu namun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. “Baik. Kamu apa kabar, Kinara?”
“Very nice. Kecuali kalau lagi debat sama Kakak. Itu nggak pernah ada ujungnya. Dia nggak mau ngalah, dan aku nggak bakal berhenti sampai dia menyerah!” jawab Kinara dengan nada penuh drama, membuat Sandra tertawa kecil.
“Biasanya memang begitu. Kakak juga punya anak les. Adik-kakak, tidak ada yang mau mengalah. Tapi itulah keseruan mereka,” balas Sandra, senyum di bibirnya menghangat.
“Dan hobiku adalah bikin Laura nangis,” lanjut Kinara dengan wajah polos yang bertolak belakang dengan kata-katanya.
“Heeuh? Laura?” Sandra bertanya, mengerutkan kening dengan penasaran.
“Anak Mommy,” jawab Kinara santai.
“Aaah!” Sandra mengangguk-angguk pelan, mencoba membayangkan dinamika keluarga yang tampak hidup dan hangat di depannya.
Di sudut ruangan, Gerald hanya diam memandangi mereka. Ada senyum tipis di wajahnya, namun matanya penuh cinta. Ia merasa seperti seorang pelukis yang memandangi karyanya, sebuah momen sempurna yang tak ingin ia ganggu dengan keberadaannya.
Namun, Kayla akhirnya memecah percakapan santai itu dengan pertanyaan yang tajam namun tetap lembut. “Bagaimana, Sandra? Sudah menerima tawaran Gerald? Sebenarnya bukan tawaran, tapi lebih tepatnya ungkapan perasaannya,” tanya Kayla, matanya penuh pengertian.
Sandra terdiam sesaat, napasnya tercekat seperti baru saja ditarik ke dalam gelombang pertanyaan yang sulit. “Eeuh … eeuh! Sebenarnya aku masih takut, Mom,” jawabnya akhirnya, suaranya lirih, seperti bisikan angin yang hampir tak terdengar.
Kayla mengusap rambut Sandra lagi, dengan gerakan keibuan yang begitu menenangkan. “Mommy pernah berada di posisi Gerald kala itu. Tapi karena Mommy dan papanya Gerald saling mencintai, Tuhan memberi jalan kepada kami dan menjadikan kami keluarga yang bahagia sampai sekarang,” ucapnya, setiap kata seperti manik-manik doa yang disusun dengan hati-hati.
Sandra tersenyum tipis, namun matanya menyiratkan keraguan. “Tapi, ada yang beda. Pak Jason memiliki kekuasaan besar. Dia bisa melakukan apa saja. Sementara aku tidak punya apa-apa,” katanya pelan, nyaris seperti pengakuan kepada dirinya sendiri.
Kayla mengangguk, senyumnya masih menghiasi wajahnya. “Ada Gerald, yang akan membebaskan kamu dari penderitaan itu, Nak,” balasnya, dengan nada penuh keyakinan yang seolah menjadi tiang penyangga Sandra yang hampir runtuh.
Malam itu terasa seperti sebuah fragmen kehangatan yang tak pernah Sandra bayangkan sebelumnya.
Suasana makan malam penuh canda tawa, seperti sebuah panggung kecil di mana Sandra bisa merasakan kehidupan yang seharusnya ia miliki—keluarga yang utuh, cinta yang tulus, dan kehangatan yang selama ini hilang.
Di tengah segala kekacauan hidupnya, ia menemukan sebuah oase, tempat ia merasa diterima dan dicintai tanpa syarat.
Hidup Sandra seperti sebatang pohon rapuh yang bertahan di tengah badai. Sejak usianya delapan tahun, ia hanya punya nenek sebagai satu-satunya pelindung dari dunia yang kejam.
Namun, tiga tahun kemudian, neneknya pergi meninggalkan dunia ini, meninggalkan Sandra sendirian seperti daun yang terlepas dari dahannya.
Berharap mendapat tempat di rumah kakaknya, Sandra hanya mendapati pintu-pintu yang tertutup rapat. Tak ada yang ingin menerima kehadirannya.
Hari-hari berlalu, dan hidupnya tak ubahnya jalan panjang yang berbatu, penuh luka dan kesepian. Bahkan setelah ia menikah, penderitaannya tidak berakhir. Namun, Gerald hadir dalam hidupnya seperti matahari yang menembus kabut gelap.
Lima tahun lamanya pria itu memendam cinta, dan kini ia berjanji untuk mengangkat Sandra dari jurang derita yang selama ini membelenggunya.
“Terima kasih, untuk makan malamnya ... Mom,” ucap Sandra, suaranya lembut namun penuh rasa terima kasih yang tulus. Ia mengambil tisu, mengelap bibirnya dengan gerakan hati-hati, seperti mencoba menghapus jejak-jejak ketidakpastian di hidupnya.
“Kapan-kapan kita dinner lagi, yaa. Mommy senang, seperti punya anak empat jadinya,” kata Kayla dengan senyum hangat yang menyiratkan keikhlasan seorang ibu.
“Mimpi Mommy ingin punya anak banyak harus tertahan karena rahimnya harus diangkat. Tapi, ada kamu, ada Nicko juga yang katanya mau lamar Kinara. Tapi, masih digantung sama Kinara.”
Kayla melirik Kinara dengan mata penuh kasih sayang, meskipun ada sedikit nada menggoda dalam ucapannya.
“Mom, tunggu bentar ngapa. Aku mau lulus dengan elegan dulu. Habis itu, baru deh nikah. Lagian Nicko nggak bakal ke mana-mana. Takut banget anaknya patah hati,” jawab Kinara, bibirnya yang mengerucut memberikan sentuhan manis pada ucapannya yang tegas.
“Sudah dua bulan, Kinara. Sudah dua bulan,” kata Kayla, sambil mengetuk pelan kening putrinya itu dengan jemarinya.
“Mommy aja sampai enam bulan belum nikah-nikah. Hayooo!” balas Kinara sambil menyeringai kecil, membalikkan fakta seperti seorang juara debat yang cerdas.
Kayla memutar bola matanya dengan pelan, tatapannya seolah berkata, Anak ini memang selalu punya jawaban. “Karena saat itu papa kamu belum cerai, Kinara. Nicko sudah. Kamu juga belum kasih tahu ke dia kalau kamu lag—“
“Nanti aku kasih tahu,” potong Kinara cepat, sambil menganggukkan kepalanya dengan penuh percaya diri.
Kayla menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis. “Beruntung banget kamu, Kin. Hamil tapi kayak nggak lagi hamil. Mommy dulu, anak pertama dan kedua sama-sama mabuk. Bermasalah lebih tepatnya.
“Yang satu karena batin, yang kedua karena rahimnya luka. Tapi, ada papa kamu yang selalu support Mommy. Walau harus lahir secara prematur. Tapi Mommy senang karena bisa kasih anak dan adik untuk kalian.”
Kayla menerbitkan senyum tulusnya, senyum seorang perempuan yang telah melewati badai hidup namun tetap berdiri tegak, kuat seperti karang di tepi laut.
Di tengah percakapan hangat itu, Sandra dan Gerald saling bertatapan. Mata mereka berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Ada sebuah pemahaman yang terjalin di antara mereka, seperti dua jiwa yang menemukan tempat mereka di dalam kekacauan dunia.
“Kinara hamil. Udah dua bulan usianya,” ujar Gerald, suaranya datar tapi penuh arti, seperti seorang jenderal yang mengumumkan strategi perang.
“Tapi, masih nggak mau kasih tahu Nicko dengan alasan pengen wisuda dulu. Dua bulan lagi. Habis itu, baru ... mau nikah dan kasih tahu Nicko. Tapi, aku selalu mengawasi Nicko. Jadi, dia nggak akan ke mana-mana.
“Tanggung jawab itu wajib. Kalaupun nanti Nicko kabur, boleh pilih, mau ICU atau kuburan.” Gerald menyelesaikan kalimatnya dengan nada dingin yang seolah mengiris udara di sekitarnya.
Sandra menelan ludahnya, matanya sedikit membelalak mendengar pernyataan Gerald yang begitu lugas. “Aaah!” gumamnya sembari mengangguk pelan, seperti menelan fakta yang tak terelakkan. “Serem juga, yaa.”
Gerald menyeringai kecil, seulas senyum yang tampak ringan tapi menyimpan keteguhan di dalamnya. “Iya, Sandra. Tapi beda halnya dengan kamu. Kalau hamil, langsung kasih tahu.”
Sandra hampir tersedak mendengar kata-kata Gerald, tetapi sebelum ia bisa merespons, Kinara, yang sedari tadi mendengarkan, langsung menyahut.
“Haahh! Kakak! Aku nggak akan kena marah Papa terlalu banyak, lho. Tapi Kakak ... kok berani hamilin Kak Sandra? Dia masih punya suami, lho! Aku aja berani pacaran sama dia karena dia udah jadi duda, udah ketok palu. Kak Sandra belum, lho. Kakak. Kok bisa sih? Berani bener.”
Mata Kinara melebar seperti kelereng, menatap Gerald dengan campuran keterkejutan dan keheranan.
Dia memang belum tahu kejadian malam itu—malam di mana takdir merajut benangnya dengan cara yang rumit, menciptakan sebuah bab baru dalam hidup Gerald dan Sandra.
Gerald mengangkat bahunya dengan gerakan santai, seperti seorang pemberontak yang tahu dia telah melampaui batas tetapi tidak peduli.
“Elo nggak akan paham, mau kayak gimana pun gue jelasin,” katanya, nada suaranya penuh dengan keengganan untuk membahas lebih lanjut.
“Gue nggak peduli, walau Papa semarah apa pun ke gue. Udah terjadi, dia pun nggak akan bisa mengelaknya setelah gue katakan yang akan buat dia diam. Yang jelas, gue nggak akan melepas dia walau semarah apa pun Papa pada gue.”
Senyuman tipis muncul di wajah Gerald, seperti seorang pemain catur yang tahu dia telah memojokkan lawannya. Di balik ketenangannya, tersimpan keberanian yang tak biasa, seperti seorang pria yang tahu bahwa cintanya adalah pertempuran yang layak untuk diperjuangkan.
“Gilak! Berani banget, Kak,” ujar Kinara sambil mengguncang bahunya sendiri, seolah mencoba memahami keberanian kakaknya. “Aku aja nggak berani, tapi udah kejadian. Mau gimana lagi. Kak! Nggak takut digantung di pohon cemara, huh?”
Gerald menggeleng dengan santai, lalu menggaruk belakang kepalanya, memberikan kesan cuek yang hampir lucu. “Nggak tahu. Nekad bener gue, yaa,” ucapnya, nada suaranya seperti bercanda, meski matanya tetap memancarkan keteguhan yang tak bisa ditawar.
Kayla, yang sejak tadi hanya mendengarkan dengan senyuman kecil di wajahnya, akhirnya angkat bicara. “Sudah, sudah. Ada Mommy, semuanya beres.”
Dengan gerakan gemulai namun penuh percaya diri, ia mengedipkan sebelah matanya kepada Gerald, memberikan kesan bahwa ia adalah benteng terakhir yang siap menghadapi badai.