Mengulangi Kesalahan itu

1039 Kata
Waktu sudah menunjuk angka sebelas malam. Kegelapan malam merangkul kota dengan lembut, sementara cahaya lampu jalan memantulkan kilau keemasan pada mobil-mobil yang berlalu. Di dalam café yang mulai lengang, dering ponsel Kayla terus berbunyi, mengusik suasana. Siapa lagi yang menghubunginya kalau bukan Jason, suaminya yang terkenal posesif. Kayla menghela napas panjang, membiarkan jeda kecil sebelum akhirnya menjawab dengan nada setengah kesal. “Iya, Daddy. Aku lagi makan malam sama Kinara dan Gerald. Ribut terus,” jawabnya dengan nada datar, mencoba menahan emosinya yang perlahan memuncak. Suara Jason terdengar dari seberang, sedikit serak namun penuh kontrol, seperti seorang jenderal yang sedang mengatur pasukannya. “Kenapa Laura nggak diajak? Habis ketemuan sama siapa kamu?” Kayla memutar bola matanya perlahan, seperti sedang menghitung kesabarannya yang semakin tipis. “Laura lagi tidur, mana mungkin aku bangunin terus diajak makan. Yang ada marah-marah kayak kamu kalau dibangunin pas lagi nyenyak-nyenyaknya. Hhh!” jawabnya, suaranya menggantung dengan nada lelah. Namun Jason, seperti biasa, tak mudah menyerah. “Pulang, Sayang. Aku sendirian di rumah. Dinner kok nggak bilang-bilang!” Kayla menahan napas, bibirnya mengatup rapat sejenak sebelum membalas. “Kamu juga. Katanya ada kerjaan di luar. Ngapain pulang?” “Aku kangen. Pulang, yaa. Jangan sampai aku buat keributan di sana!” ancam Jason dengan nada yang lebih rendah, tapi tetap tegas, seperti bara api yang menunggu ditiup angin. Kayla mengerang pelan dan langsung menutup panggilan tersebut, rasa kesalnya meluap tanpa bisa ditahan. “Tuh orang, nggak pernah berubah!” gumamnya pelan sambil melipat ponselnya dengan gerakan penuh emosi. Gerald dan Kinara, yang sejak tadi hanya mendengar, saling menatap sejenak sebelum menghela napas panjang secara bersamaan, seolah berbagi pemahaman tanpa perlu bicara. Sandra, yang menyaksikan kejadian itu dengan penuh kebingungan, akhirnya tak tahan untuk bertanya. “Kenapa sih?” Matanya menatap Gerald penuh tanya. Gerald hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum kecil. “Jangan heran, yaa. Mommy sama Papa itu udah kayak anjing dan kucing, tapi saling jatuh cinta. Tiap hari kerjaannya ribut, adu mulut, sama ... bercinta.” Ucapannya diakhiri dengan anggukan ringan, seolah hal itu adalah fakta paling biasa di dunia. Sandra masih terlihat bingung. “Udah dari dulu? Ributnya karena apa? Bukan ribut serius, kan?” Gerald menggeleng. “Bukan ribut serius. Masalah dasi Papa yang nggak sepadan sama kemejanya aja bisa jadi bahan ribut. Pernah sekali Papa sengaja pakai kaus kaki beda warna. Tau apa yang terjadi setelahnya?” Sandra mengernyit penasaran. “Apa?” tanyanya, suaranya nyaris berbisik. Gerald terkekeh, ingatan itu tampak menghiburnya. “Semua kaus kaki di laci diangkut sama Mommy. Ngamuk kayak baru saja kehilangan berlian satu truk.” Tawa Sandra pecah, melodi ringan yang memenuhi udara malam itu. “Astaga! Keluarga kamu lucu sekali. Papa kamu pasti bahagia sekali, ya, punya istri lucu seperti itu.” Gerald tersenyum kecil, matanya memancarkan kelembutan yang jarang terlihat. “Meskipun aku bukan terlahir dari rahimnya, aku merasa diciptakan untuk jadi anaknya.” Sandra, tanpa sadar, mengusapi bahu Gerald, gerakan lembut yang penuh empati. “Yang penting sekarang, kalian sudah menikmatinya. Papa kamu bahagia, anak-anaknya diberi bahagia oleh mama sambungnya. Sudah sempurna. Keluarga kalian sudah sempurna.” Gerald menoleh perlahan, menatap Sandra dengan sorot mata yang dalam, seolah menyelam ke dalam jiwanya. “Aku ... yang belum,” ucapnya, nadanya berat. “Aku belum memiliki cinta yang sempurna. Masih ada hal yang harus aku lakukan. Mengambil kamu dari Gery. Melepaskan kamu dari siksaan dia. Sama halnya seperti Mommy yang dulu berhasil menyelamatkan hidup Papa.” Sandra menelan saliva dengan pelan, hatinya berdetak cepat mendengar pernyataan itu. Matanya menatap Gerald yang kembali fokus pada jalanan di depannya. Suasana di dalam mobil terasa sunyi, hanya dihiasi gemerisik angin malam yang menerobos celah kecil jendela, menyelimuti mereka dalam keheningan yang penuh makna. “Semoga berhasil.” Gerald menerbitkan senyumnya, seolah kata-kata itu adalah mantra yang menghidupkan keberaniannya. "Pasti. Pasti berhasil. Untuk malam ini pun, pasti berhasil. Bahkan lebih indah dari kejadian satu minggu yang lalu," ujarnya dengan suara rendah, seolah membisikkan sebuah rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu. Sandra mengerutkan keningnya, rasa penasaran perlahan menyeruak dalam dirinya. “Maksud kamu apa?” tanyanya, suaranya pelan, hampir seperti bisikan. Namun, Gerald hanya mengulas senyumnya, senyum itu penuh teka-teki, seolah menyimpan cerita yang terlalu indah untuk diungkapkan sekaligus. Matanya fokus pada jalanan yang mulai macet, sementara lampu-lampu jalan memercikkan kilau seperti bintang-bintang kecil di tengah lautan aspal. “Kita mau ke mana, Gerald?” “Ke apartemen,” jawab Gerald tanpa ragu, suaranya mantap seperti langkah seorang pria yang tahu apa yang ia inginkan. ** Sesampainya di apartemen, Sandra berdiri mematung di ambang pintu. Pencahayaan hangat memenuhi ruangan ketika Gerald menyalakan lampu, memancarkan kilau temaram yang menciptakan bayang-bayang lembut di dinding apartemen yang luas itu. Sofa ruang tengah terlihat nyaman, seolah mengundang siapa saja untuk tenggelam di dalamnya. Gerald melangkah santai dan duduk di sana, namun matanya tetap terkunci pada Sandra, yang masih berdiri seperti patung porselen. “Kenapa diam di situ? Mau pulang?” tanyanya sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa, suaranya terdengar santai namun penuh perhatian. Sandra menggeleng pelan, suaranya hampir tak terdengar saat ia menjawab, “Nggak. Jadi keinget satu minggu yang lalu.” Gerald tersenyum tipis. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat, setiap langkahnya menciptakan gema lembut di lantai kayu. Kini ia berdiri hanya beberapa inci darinya, sorot matanya begitu lembut, seolah mampu menelusuri isi hati Sandra. “Karena itu, aku bawa kamu ke sini,” ucapnya pelan, suaranya seperti alunan musik yang hanya Sandra bisa dengar. “Ingin mengulang kesalahan satu minggu yang lalu.” “Heuung?” Sandra memiringkan kepalanya, bingung sekaligus penasaran. “Itu pun kalau kamu mau,” lanjut Gerald dengan nada yang lebih rendah, seolah tak ingin memecah keheningan yang melingkupi mereka. “Kalau tidak ingin, aku akan mengantarmu pulang sekarang juga.” Tanpa menunggu jawaban, Gerald membuka jaket yang ia kenakan dan melemparkannya ke atas sofa dengan gerakan asal, memperlihatkan tubuhnya yang kini hanya dibalut celana jeans. Kulit putihnya yang kontras dengan lampu hangat apartemen membuat Sandra tanpa sadar menahan napas. Gerald berbalik, melangkah ke dapur tanpa banyak bicara. Sandra hanya bisa berdiri di tempatnya, pikirannya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tak berujung. “Apa yang akan dilakukan Gerald padaku? Mengulangi kesalahan satu malam itu?” gumamnya lirih sambil menaruh tasnya di atas meja, tangannya sedikit gemetar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN