Jawaban Eliza

1158 Kata
Wajar saja jika Dirga mulai terbiasa dan mulai terbuka pada Eliza, mengingat setiap harinya bahkan nyaris setiap saat dia bersama Eliza. Rasa sungkan dan malu jelas sudah lebih mereda diantara mereka. Ya, waktu mengubah keadaan. Setengah terkejut dan bingung, saat Eliza mendengar pertanyaan Dirga. "Kalau misalnya orang yang kamu suka itu sebelumnya juga suka sama kamu, apa kamu yakin tetap gak suka sama orang itu meski dia udah jadi pacar oranglain?" "Sebelumnya? Itu berarti rasa sukanya sama aku itu udah lewat, jadi kenapa aku harus tetap suka sama dia?" "Emang bisa gitu, ngatur perasaan buat tiba-tiba berhenti suka sama seseorang?" "Ya gak lah.. Tapi masa iya mau ngebiarin rasa suka itu berlanjut sedangkan dianya udah gak suka sama aku.." Dirga terdiam sejenak mendengar jawaban Eliza. Kenapa aku membiarkan perasaanku tetap suka sama Ailee sedangkan dia udah gak suka lagi sama aku? "Jadi menurutmu, bagaimana tentang orang yang suka sama pacar oranglain?" Jawaban Eliza sebelumnya mengenai hati Dirga. Jawaban Eliza cukup memberi Dirga sebuah pengertian, dan lagi Dirga ingin mendengar jawaban Eliza selanjutnya. Berharap jawaban Eliza kembali bisa memberinya sedikit pencerahan tentang dia yang masih saja menyukai Ailee, meski Ailee sudah menjadi milik orang lain. "Sebelum ngejawab, aku mau nanya dulu" "Ck, kamu itu kebiasaan. Tiap aku tanya, selalu saja bertanya kembali.." "Ya kan bukan kamu saja yang butuh jawaban" Jawab Eliza judes. "Hem, apa yang mau kamu tanyakan??" "Menurutmu, kenapa seseorang bisa suka sama orang yang sudah punya pasangan??" Meski masih meraba-raba dengan buta, namun Eliza mulai menyadari bahwa pertanyaan Dirga ini berhubungan dengan dirinya sendiri. Entah dia yang memiliki kekasih tanpa sepengetahuannya yang saat ini pacarnya sedang ditaksir oleh oranglain, ataukah dia yang sedang menyukai pacar orang lain saat ini. Eliza setengah menebak-nebak, namun Eliza butuh jawaban Dirga lebih banyak untuk bisa memastikan tebakannya. "Ya kenapa? Ya karena suka saja. Namanya rasa suka kan, tidak bisa dikendalikan.." "Bisa.." Jawab Eliza sedikit tegas. "Bisa? Caranya gimana?" "Sadarkan diri. Harusnya saat kita tahu kalau orang tersebut punya oranglain, maka kita harusnya sadar diri" "Maksudnya?" Tanya Dirga tidak mengerti. Tangannya masih sibuk mencuci perabotan kotor yang tersisa tinggal sedikit lagi. "Saat kamu tahu, seseorang itu sudah menjadi milik oranglain, terus kenapa harus membiarkan perasaan kita tetap suka. Secara naluriah memang perasaan suka gak bisa kita kendalikan, tapi kan kita menahannya pelan-pelan. Pikirkan lagi, tidak ada hal yang kamu dapatkan dari mencintai pasangan oranglain selain rasa sakit. Kalaupun orang itu juga mencintai kita, apa gunanya juga? Saling mencintai tapi tidak saling memiliki. Atau semisal orang yang kamu cintai itu melepas kekasihnya dan memilihmu, apa kamu yakin bisa bahagia diatas rasa sakit oranglain yang sedang ditinggalkan kekasihnya?" Eliza menjelaskan dengan sangat rinci. Mencoba menggambarkan bagaimana buruknya mencintai kekasih oranglain. Eliza sendiri sadar, penjelasannya bukanlah hal yang harus diterima begitu saja, akan ada kondisi dimana seseorang tetap berhak mencintai meski yang dicintai itu sudah memiliki pasangan. Namun Eliza berharap, jika benar yang Dirga maksud mencintai kekasih orang adalah dirinya, Dirga bisa mundur daripada menyakiti dirinya sendiri lebih jauh lagi. Dirga terdiam cukup lama, tangannya yang sedari tadi sibuk membersihkan piring-piring yang didepannya juga ikut berhenti. Dirga sedang berusaha mencerna apa yang baru saja Eliza katakan. Sedang Eliza, makin menguatkan dugaannya, jelas sekali bagi Eliza bahwa yang sedang Dirga bahas ini adalah tentang dirinya. Hanya saja Eliza belum bisa memastikan, apa Dirga yang mencintai kekasih orang ataukah kekasihnya yang sedang dicintai oranglain saat ini. "Gimana? Udah ngerti?" Pertanyaan Eliza menyadarkan Dirga. Dirga menoleh sejenak menatap Eliza, dan kembali mengalihkan pandangannya. "Kamu punya pacar?" "Kamu ini tanya apa sih?" Tanya Dirga setengah menegur. "Aku setiap harinya sama kamu, kamu pikir di waktu apa aku bisa pacaran.." "Oh, jadi kamu lagi suka sama pacar orang?" Tanya Eliza kemudian. Dirga terkejut, bagaimana bisa Eliza berfikir seperti itu. "Bu bukan.." "Terus, kenapa nanya hal begini?" "Ya kenapa, aku cuman mau tahu saja.." Eliza tersenyum smrik. Percuma saja Dirga mengatakan 'bukan', Eliza sudah sangat paham bahwa yang dimaksud Dirga adalah dirinya, yang sekarang sudah mencintai wanita yang sudah dimilki oranglain. "Kenapa senyum begituu???" Dirga merasa Eliza sedang meledeknya saat ini. "Kenapa? Memangnya aku tidak boleh senyum?" Nada Eliza yang santai membuat Dirga semakin merasa, Eliza sedang menertawakannya. "Aku bilang bukan aku.." "Aku kan gak bilang kalau itu kamu.." "Iya kamu gak bilang, tapi ekspresimu itu.." "Sudah, sudah cuci piringnya.. Sedari tadi gak selesai-selesai.." Eliza beranjak, namun kembali berbalik. "Kalau wanita yang kamu sukai sekarang sudah menjadi milik oranglain, aku sarankan mendingan kamu mundur. Kamu hanya akan melukai dirimu sendiri kalau terus-terusan bertahan dengan perasaanmu itu.." Meski sebelumnya Dirga menolak dan mengatakan bahwa itu bukan dirinya, namun dia merespon apa yang Eliza katakan. "Bagaimana caranya? Perasaan yang sudah terlanjur mencintai, bagaimana caranya untuk berhenti?" "Ya usaha.." "Aku sudah usaha, aku udah berusaha melupakannya, tapi tetap saja tidak bisa.." "Jangan berusaha melupakannya, karena semakin kamu berusaha melupakannya maka semakin jelas juga dia akan terbenam dalam ingatanmu. Jangan lupakan, tapi ikhlaskan. Itu tidak mudah, tapi lebih membantu daripada berusaha melupakan" Dirga hanya menatap Eliza, dari sorot matanya memperlihatkan bagaimana dia meminta Eliza meneruskan kata-katanya. Menunggu jawaban untuk bisa memberinya sedikit pencerahan. "Meski sebelumnya dia mencintaimu, tapi fakta kalau dia sekarang sudah bersama oranglain adalah hal yang harus kamu sadari, bahwa dihatinya bukan kamu lagi. Bagaimana bisa dia bersama oranglain kalau perasaannya masih sama kamu. Praktisnya kan seperti itu.." Aku tidak bisa bilang kalau jawaban Eliza itu salah. Ya, tidak mungkin Ailee memilih kakak kalau perasaannya masih sama aku. Dirga mulai berunding dengan pikirannya sendiri. "Kalau benar dia masih cinta sama kamu dan memilih orang lain untuk bersamanya sekarang, bukannya itu terlalu pasrah. Orang yang mencintaimu tidak akan bisa membuatmu terluka dengan melihatnya bersama orang lain.." Lagi, jawaban Eliza membuat Dirga semakin mengerti dengan posisinya saat ini. Ya, sudah seharusnya aku melepaskan Ailee dan mengikhlaskannya bersama kak Delio. Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini, mustahil untuk aku dan Ailee bersatu. "Jadi aku harus bagaimana??" Tanya Dirga pelan dengan pandangannya yang entah fokus kemana. "Cari cewek sana, biar bisa move on.." "Aku..." Belum Dirga melanjutkan kata-katanya, matanya langsung difokuskan pada Eliza yang sudah tersenyum smrik dengan memperlihatkan ekspresi memperlihatkan kemenangan yang berhasil membuat Dirga mengaku tanpa sadar bahwa yang dimaksud itu adalah dirinya. "Bukan akuu..." Dirga dengan cepat mengelak. "Bukan kamu??" Tanya Eliza tersenyum. "I iyaa.. Bukan aku, aku cuman mau tanya saja tentang bagaimana pandanganmu.." "Oh.. Jadi ini bukan kamu? Terus kenapa bertanya cara untuk melupakan??" "Ya.. I tuu.. A aku cuman.. Aku cuman.. Argh pokoknya bukan aku.." Eliza hanya tertawa kecil sembari melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah. "Heyy Elizaa.. Aku bilang, kalau itu bukan akuu..." Eliza mengabaikan Dirga. Kartu merah Dirga benar-benar dia bongkar tanpa sengaja, membuat Eliza tertawa kecil penuh kepuasaan. "Ck.. Siall.. Ah bisa-bisanya aku... Arrgg...." Dirga merasa kesal mengingat Eliza tahu tentangnya, terlebih lagi jika mengingat senyum smrik Eliza yang seolah sedang mengejeknya. Namun di sisi lain, Dirga merasa sedikit lega. Selain mendapatkan pencerahan dari jawaban Eliza, dia juga merasa lebih baik bisa bercerita hal seperti ini pada Eliza. Meski dia tahu, Eliza punya satu kartu untuk menggodanya sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN