Pertanyaan Dirga

1069 Kata
Eliza dan Delio tiba dirumah setelah sebelumnya keluar untuk berbelanja bahan-bahan dapur. Eskpresi muram yang sedari tadi ditunjukkan Dirga, sudah berubah menjadi lebih baik. Sepertinya mereka sudah menyelesaikan masalah diantara mereka. Delio tersenyum dan merasa bersyukur, adik dan tunangannya itu akhirnya bisa seperti sebelumnya lagi. Berbeda dengan Delio yang merasa lega, Eliza malah kebingungan. Sebelum Eliza meninggalkan Dirga berdua dengan Ailee. Keduanya tampak memiliki hubungan yang tidak baik namun sekarang yang terlihat seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Ah, mungkin ini tujuan kak Delio mengajakku keluar tadi. Agar Dirga dan Ailee bisa menyelesaikan masalah diantara mereka. Tatapan Ailee yang sebelumnya selalu terlihat tidak senang pada Eliza, sekarang tidak lagi. Meski tidak juga memperlihatkan kesan suka, tapi setidaknya Eliza bersyukur karena Ailee tidak lagi menatapnya dengan tatapan tidak suka seperti sebelumnya. Betul yang dikatakan kak Delio, sepertinya Ailee hanya cemburu, juga karena sepertinya hubungannya dengan Dirga sempat bermasalah. Mereka yang sudah baikan juga membuat Ailee tidak lagi melihatku aneh. ***** Acara makan siang bersama yang disarankan oleh Delio akhirnya berjalan dengan baik. Suasana dingin diantara Ailee dan Dirga yang sempat mencekam sekarang menjadi lebih hangat. Waktu makan siang yang menyenangkan bagi semuanya. Cukup lama Delio dan Ailee dirumah Dirga, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang setelah hari semakin sore. Eliza merapikan meja makan dan Dirga merapikan ruang tengah dimana sebelumnya mereka berkumpul bercengkrama bersama dengan Delio dan Ailee tadi. Dengan sedikit terpincang-pincang, Dirga membawa nampan dengan beberapa piring dan gelas kotor diatasnya. "Sini biar aku.." Eliza meraih nampan yang dibawa Dirga. "Tidak usah, aku bisa.." Eliza mengarahkan pandangannya ke kaki Dirga yang belum bisa berdiri dengan baik. "Kalau piring-piring ini jatuh, bisa makin repot lagi.." Dirga akhirnya melepas nampan yang dipegangnya, nampan itu beralih ke tangan Eliza dan Eliza segera membawanya kedapur. Dirga mengikut dibelakang Eliza, berjalan dengan sedikit lamban. "Biar aku saja.." Cegah Dirga saat melihat Eliza menyalakan keran dan bergegas mencuci setumpuk peralatan dapur dan piring yang kotor. "Tanganmu bisa perih kalau terkena sabun.." Dirga menarik tangan Eliza dan Eliza dengan tubuhnya yang ringan mudah saja dengan cepat berpindah tempat dengan satu kali tarikan Dirga. "Saat mandi nanti, tanganku juga bakal kena sabun.." "Mau aku mandikan?" Tanya Dirga dengan senyum smirk, menatap Eliza sejenak. Entah sejak kapan, Dirga senang sekali menggoda Eliza, melihat Eliza menjadi kesal adalah kebahagiaan tersendiri bagi Dirga. Kornea mata Eliza melebar mendengar ucapan Dirga. Tanpa aba-aba tangannya memukul lengan Dirga yang tengah mencuci piring. "Dirga..!" Eliza setengah berteriak. "Ha ha ha aku cuman bercanda.." "Tidak lucu.." Eliza memperlihatkan wajah cemberut dan kesal, dan itu semakin membuat Dirga senang melihatnya. Dirga, hanya tersenyum, lalu kembali fokus membersihkan setumpuk piring dan peralatan masak yang bertumpuk didepannya. Ingatan Dirga tentang bagaimana dia melampiaskan perasaannya pada Ailee tadi, membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Tidak bisa ia pungkiri, ada perasaan lega setelah mengungkapkan semua beban perasaannya dan mendapat respon yang baik dari Ailee. Meski dia sadar, itu benar-benar hanya euphoria sejenak. Karena baginya, hubungan diantara dirinya dan Ailee hanyalah sebuah kemustahilan mengingat laki-laki yang menjadi pemilik hati Ailee saat ini adalah kakaknya sendiri. Tidak ada niat Dirga untuk kembali merebut Ailee. Baginya, bisa tetap mencurahkan perasaannya saja sudah cukup. Menahan perasaannya selama ini adalah sebuah penderitaan baginya. Dirga berharap, dengan tidak menekan perasaannya dia bisa melupakan Ailee lebih alami. Dirga yang tersenyum-senyum sendiri itu tidak menyadari akan mata Eliza yang sedari tadi memperhatikannya dengan bingung. "Kamu kenapa? Kelihatannya senang sekali??" Dirga, dengan pikirannya yang sedari tadi berputar disekitar Ailee, tersadarkan dengan pertanyaan Eliza. "Ah.. Gak.." "Gak apanya, kamu sedari tadi senyum-senyum sendiri" "Memangnya aku gak boleh tersenyum.." "Dengan wajahmu yang seperti itu, ditambah lagi senyum-senyum sendiri tanpa alasan, makin terlihat seperti pasien Rumah sakit jiwa yang lepas.." Dirga melirik Eliza sejenak. "Ya ya.. Bicara saja sesukamu. Hari ini, semua kata-katamu kumaafkan.." Melihat Dirga yang tidak merespon kata-kata yang dilontarkannya dengan maksud mengejek, membuat Eliza semakin penasaran. Namun tidak juga Eliza berusaha menebus rasa penasarannya. Meskipun mereka sudah cukup akrab, namun belum sampai ditahap dimana Eliza bisa memaksa Dirga menceritakan hal yang ingin dia ketahui. Eliza beranjak, rasanya buang-buang waktu saja duduk disamping Dirga sambil menontonnya mencuci piring. Ruang tengah tempat mereka berkumpul tadi, menunggu untuk dibereskan. Meski Dirga sudah merapikan beberapa bagian disana, namun sebagiannya masih cukup berantakan. "Eliza.." Cegah Dirga. "Kenapa?" Eliza menoleh. "Duduk disini sebentar.." Dirga mengarahkan pandangannya pada kursi, tempat Eliza duduk sebelumnya. Eliza berjalan dengan malas, kembali duduk sesuai keinginan Dirga. "Hem kenapa??" Tanya Eliza tanpa mengalihkan pandangannya dari Dirga yang kembali fokus pada piring-piring yang sedang di cucinya. "Aku.. Aku mau tanya sesuatu.." Eliza hanya menatap Dirga, menunggu Dirga melanjutkan pertanyaannya. "Kamu.. Kamu pernah gak suka sama pacar orang??" Terdengar sedikit ragu-ragu dari nada Dirga. "Kenapa??" "Ck, aku bertanya, kenapa malah bertanya kembali.." "Aku gak tahu.." "Kok gak tahu.." Dirga menoleh menatap Eliza. Bukan jawaban yang seperti itu yang Dirga inginkan dari Eliza "Jangankan tahu aku pernah suka sama pacar orang atau gak. Tahu aku pernah jatuh cinta saja gak. Aku seperti apa dulunya saja, aku gak tahu.." Jawab Eliza memperjelas tentang dirinya yang lupa ingatan. "Ah iya ya.. Aku lupa.." Dirga kembali sadar tentang Eliza yang tidak memiliki memori sebelumnya dalam hidupnya. "Memangnya kenapa?" "Emh.. Menurutmu, bagaimana kalau semisal suatu hari nanti kamu suka sama pacar orang, apa yang akan kamu lakuin?" "Aku gak bakal suka sama pacar orang.." "Ck, kan aku bilang kalau seandainya.." Jawaban Eliza membuat Dirga sedikit kesal. "Ya walaupun itu seandainya. Intinya, aku gak akan suka sama pacar orang. Palingan hanya sekedar mengagumi.." "Kenapa yakin sekali kalau gak bakal suka sama pacar orang??" "Ya ngapain juga aku suka sama pacar orang? Itu nyiksa diri sendiri namanya" "Kalau misalnya orang yang kamu suka itu sebelumnya juga suka sama kamu, apa kamu yakin tetap gak suka sama orang itu meski dia udah jadi pacar orang lain?" Eliza menatap Dirga kebingungan. Dirga ini ngapain sih nanya hal yang seperti ini, apa dia lagi suka sama pacar temannya? Tapi setahuku, Dirga gak dekat sama perempuan lain. Kembali Eliza penasaran tentang Dirga. Ini adalah kali pertama semenjak mereka tinggal bersama, Dirga bertanya hal yang sedikit serius pada Eliza. Membuat Eliza bingung dan menjadi penasaran, apa yang menyebabkan Dirga bertanya perihal perasaan padanya. Tebak menebak dalam hati Eliza pun terjadi. Sudah cukup lama Eliza tinggal bersama Dirga, namun hari ini adalah kali pertama Dirga bertanya pada Eliza sesuatu yang cukup serius. Entah karena ini pertanyaan yang menurut Dirga bukanlah hal yang cukup serius atau karena Dirga sudah menganggap Eliza seperti keluarga, sebagaimana keluarganya yang lain menganggap Eliza.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN