Mengingat Eliza yang bisa saja terganggu hingga tantrum jika menggunakan mobilnya yang berjenis Coupe, Delio akhirnya memilih menggunakan kendaraan umum Bus untuk menuju tempat perbelanjaan bersama Eliza.
Seharusnya, Delio dan Eliza tidak memakan waktu yang lama untuk berbelanja, namun Delio dengan sengaja mengulur waktu agar mereka berada diluar lebih lama. Delio memberi waktu adik bungsunya itu dan Ailee untuk menyelesaikan permasalahan pribadi mereka.
"Bagaimana kesehatanmu Eliza?" Tanya Delio ditengah-tengah mereka menyantap hidangan kecil sekedar melepas lelah setelah berbelanja.
"Aku baik kak. Kakak bagaimana?" Tanya Eliza kembali, mengingat dirinya dan Delio terlibat dalam kecelakaan yang sama waktu itu.
"Baik juga" Jawab Delio sembari memperlihatkan senyumnya yang hangat.
"Beruntungnya Ailee yang ditakdirkan menjadi tunangan kak Delio. Selain tampan, kak Delio juga begitu ramah" Eliza berdecak kagum mendapat perlakuan yang begitu hangat, dan sopan dari Delio.
"Bagaimana dengan sekolahmu? Ah maaf, aku gak pernah ngejenguk kalian dari terakhir kali aku jenguk kalian disekolah waktu itu, aku memiliki beberapa kerjaan."
"Gak apa kak, aku tahu kakak sibuk. Lagian kakak juga pernah singgah kerumah Delio kan, tapi akunya saja yang tidak ada.."
"Iya, kedepannya aku akan lebih sering mampir untuk menjenguk kalian.."
"Makasih kak.." Eliza tersenyum, Delio pun balas tersenyum.
Keduanya kembali menikmati sajian yang sudah tersedia di meja mereka.
"Eliza.. Dirga tidak menyusahkanmu kan? Atau melakukan sesuatu yang membuatmu merasa gak nyaman"
Eliza tersenyum simpul. "Gak kok kak, awalnya saja kami sering sekali ribut meski cuma karena permasalahan kecil. Tapi sekarang, kami bisa lebih damai dari sebelumnya" Jelas Eliza, sembari mengingat bagaimana dia dan Dirga dari waktu ke waktu perlahan menjadi lebih tenang dibanding awal-awal mereka tinggal bersama.
"Syukurlah kalau seperti itu, tolong lebih sabar menghadapi Dirga. Bukan cuman sama kamu, sama kami pun Dirga terkadang marah tanpa alasan"
"Iya kak, aku sudah mulai terbiasa sekarang.."
"Kalau Dirga melakukan hal yang membuatmu tidak nyaman, bilang saja sama aku. Aku yang akan menegurnya secara langsung"
"Hehe gak kok kak.."
Meski masih saja ada hal-hal yang Dirga lakukan dan membuat Eliza tidak nyaman, namun Eliza memilih untuk tidak mengatakannya. Toh, seiring berjalannya waktu, Dirga perlahan menjadi lebih baik dibanding saat awal-awal mereka tinggal bersama.
"Terimakasih karena sudah lebih bersabar menghadapi Dirga, Eliza. Mungkin sesekali dia masih marah-marah sama kamu, tolong mengerti saja.."
"Harusnya aku yang berterima kasih kak. Kalau bukan karena pak Samuel, Mami, Kakak dan Dirga, aku tidak tahu apa terjadi padaku saat ini. Aku berhutang banyak pada kalian, aku sangat berterimakasih.."
Kami yang berhutang banyak padamu Eliz, jika bukan karena kecelakaan itu, mungkin saja kamu masih hidup bahagia dengan orangtuamu saat ini.
"Tidak perlu berterimakasih. Dan lagi, jangan sungkan sama kami.."
"Iya kak.."
"Juga, kalau ada hal yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja. Kamu bisa bertanya apapun sama aku dan bisa cerita apa saja sama aku. Jangan sungkan, sekarang kita adalah keluarga, dan aku adalah kakakmu.."
Mendengar perkataan Delio, membuat Eliza merasa sangat beruntung. Dirinya yang entah datang dari mana ke kehidupan mereka, bisa mereka terima dengan baik bahkan memperlakukannya selayaknya keluarga yang semestinya.
"Kak Delio bilang, aku bisa nanya apa saja sama dia. Apa aku bisa nanya tentang Ailee gak ya??" Kata Eliza dalam hati.
Pandangan Ailee terhadapnya masih saja menganggu. Eliza masih tidak mengerti, apa yang menyebabkan Ailee selalu melihatnya dengan tatapan tak suka. Ada keinginan dihati Eliza untuk bertanya hal ini pada Delio, namun mengingat Delio adalah tunangan Ailee, membuat Eliza menjadi ragu-ragu untuk bertanya.
"Ada apa Eliza?"
Ekspresi Eliza yang sedang dilema sepertinya tidak bisa dia sembunyikan, Delio sampai bisa menebak kalau ada hal yang menganggu pikirannya saat ini.
Aku tidak tahu, apa hal ini boleh aku pertanyakan. Tapi aku butuh jawaban, setidaknya aku tahu alasan Ailee selalu menatapku dengan tatapan yang memperlihatkan bagaimana dia tidak suka padaku.
"Kak.." Meski ragu-ragu, Eliza memberanikan diri untuk bertanya.
Delio hanya menatapnya, menunggu Eliza melanjutkan kata-katanya.
"I itu.. Emhh.. Sebelumnya aku minta maaf karena bertanya seperti ini, tapi.. Tapi aku benar-benar bingung dan penasaran.."
"Tentang apa Eliza? Tanyakan saja, tidak usah sungkan.."
"A aku.. Aku gak tahu apa ini sekedar perasaanku atau benar seperti itu. Aku merasa, Ailee gak suka sama aku.."
Kenapa Eliza berfikiran seperti ini? Apa Ailee sudah melakukan sesuatu?
"Ah gak gak.. Ma maksudku.." Belum Delio menjawab, Eliza sudah berburu dengan kata-kata berikutnya. Eliza seperti menyesal sudah mengatakan itu pada Delio. "Bagaimana kalau kak Delio menganggap aku aneh karena sudah bertanya seperti ini" Keluh batin Eliza.
"Eliza, katakan saja. Jangan khawatir seperti ini.. Tidak apa-apa, aku tidak akan marah" Delio mencoba meyakinkan Eliza agar meneruskan pertanyaannya tanpa ragu.
"Aku gak bermaksud ngomong hal buruk tentang Ailee. Hanya saja, aku ngerasa Ailee gak suka sama aku.."
"Kenapa? Kenapa berfikiran seperti itu??"
"I itu.. Setiap kali Ailee ngelihat aku, dia selalu memperlihatkan ekspresi tidak senang. Sesekali Ailee kayak melirik dengan tatapannya yang tidak suka ke aku.." Eliza mengatakan semua yang mengganjal dipikirannya
Ailee ini, kenapa tidak bisa mengatur ekspresinya sih. Hm, aku tahu dia sedang cemburu, tapi kenapa harus terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya pada Eliza.
"Jangan terlalu dipikirkan Eliza, Ailee bukannya tidak suka sama kamu sampai melihatmu seperti itu. Aku rasa Ailee hanya cemburu"
"Cemburu??" Eliza memperjelas apa yang baru saja dia dengar dari Delio. Apa yang menyebabkan Ailee harus cemburu padaku, toh aku bukannya dekat dengann Delio, tunangannya.
"Iya, aku rasa Ailee hanya cemburu saja.."
Eliza menatap dalam Delio, memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan dan tidak mengerti.
"Ha ha ha.. Jangan salah paham. Ailee bukannya cemburu seperti yang kamu pikirkan. Sedari kecil Ailee dan Dirga sudah bersama. Dirga tidak pernah dekat dengan perempuan manapun selain Ailee, dan kamu adalah perempuan pertama yang dekat dengan Dirga setelah dirinya. Jadi wajar saja Ailee merasa cemburu, hanya rasa cemburu sebagai seorang teman saja, teman yang sudah bersamanya sedari kecil.." Jelas Delio menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
Apa itu tidak terlalu kenakanak-kanakan? Meski mereka berteman sedari kecil, harusnya dia tidak cemburu sampai harus melihatku dengan tatapannya yang memperlihatkan bagaimana dia tidak suka denganku.
"Sudah, tidak usah dipikirkan. Ailee sama sekali tidak bermaksud membencimu Eliza, itu hanya bagian dari rasa cemburunya saja. Biar nanti aku bilang sama dia.."
"Ehh jangann.. Aku gak mau Ailee berfikir kalau aku bicara yang tidak-tidak sama kakak. Nanti Ailee semakin gak suka sama aku.."
Ekspresi Eliza memperlihatkan bagaimana dia khawatir akan Ailee yang bisa saja semakin membencinya saat Ailee tahu, dia berbicara hal ini pada Delio, tunangannya.
Ah, anak ini lucu sekali ternyata. Bagaimana bisa Dirga selalu marah pada anak semanis dan sepolos seperti ini.
Delio mengusap pelan kepala Eliza.
"Kan aku sudah bilang, jangan dipikirkan. Ailee bukannya membencimu.."
Eliza yang mendapat perlakuan hangat seperti itu dari Delio membuat jantungnya mulai berdetak tidak karuan.
"Ta tapi tetap saja..." Eliza sampai tergagap-gagap dan sulit melanjutkan perkataannya. Perasaannya mulai tidak karuan.
"Iya iya.. Aku tidak akan bilang pada Ailee. Pokoknya, tentang Ailee itu jangan dipikirkan lagi. Oke?"
"I iya kak..." Eliza merasakan suhu disekitar pipinya yang semakin panas.
"Lanjutkan makanmu, Dirga dan Ailee pasti sudah menunggu kita.."
Eliza hanya tersenyum canggung. Perlakuan Delio barusan benar-benar membuat Eliza sulit mengendalikan perasaannya.
Dia masih seperti anak kecil, cara berfikirnya masih polos. Bisa-bisanya dia bercerita padaku tentang Ailee yang seperti itu sedang dia tahu kalau Ailee itu tunanganku. Dia benar-benar hanya mengatakan apa yang dia pikirkan.
Aku harus bicara pada Ailee tentang ini. Dia bisa saja ketahuan jika tidak bisa mengendalikan ekspresinya.