Waktu terasa begitu lambat bagi Brian Atmaja saat ia menggenggam tangan Keisha Urvinza yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Nafas Keisha tersengal-sengal, tubuhnya dibasahi peluh, wajahnya pucat pasi. Para dokter dan perawat bergerak cepat, memasang alat-alat medis, memeriksa denyut nadi, dan mendengarkan detak jantung janin yang masih di dalam rahim Keisha. Sejak pagi, rasa sakit itu menyerang Keisha tanpa ampun. Kontraksi datang bertubi-tubi, membuat tubuh mungilnya menggigil menahan rasa sakit. Brian tak pernah melepaskan tangannya sedetik pun. Tatapan matanya penuh dengan kecemasan, penuh dengan ketakutan. Brian berusaha tersenyum, tapi sulit. Setiap jeritan pelan yang lolos dari bibir Keisha terasa seperti anak panah yang menusuk jantungnya. Ia ingin mengalihkan rasa s

