Setelah liburan yang menenangkan di Ubud bersama keluarganya, Adelina kembali ke Jakarta dengan hati yang lebih ringan. Meski bayang-bayang Marko masih sesekali mampir di pikirannya, namun ia merasa lebih kuat dan lebih siap menghadapi segala hal yang akan datang. Perjalanan itu bukan sekadar rehat, melainkan ruang untuk menyadari bahwa ia tetap bisa bahagia tanpa menggantungkan harapan pada seseorang yang belum tentu bertahan. Namun seperti hidup yang tak pernah benar-benar memberi jeda, langkah pertama Adelina kembali ke kampus langsung menghadapkannya pada kejutan. Saat memasuki gerbang kampus, ia melihat Marko berdiri di bawah pohon trembesi besar dekat gedung fakultas, mengenakan jaket coklatnya yang khas dan ransel hitam tersampir di bahu. Wajahnya serius, matanya mencari-cari—dan

