Pagi itu, langit Jogja baru saja merekah. Jalanan masih lengang, dan udara membawa bau tanah yang semalam diguyur hujan. Adelina sedang mengayuh motornya menuju kampus, dengan rambut diikat tinggi dan ransel menggantung di bahu. Tugas-tugas menumpuk, dan ia hanya tidur tiga jam semalam. Tapi semangatnya tak padam. Ia mencintai kuliahnya, mencintai kehidupan barunya meski jauh dari keluarga. Namun takdir punya cara unik mempertemukan dua orang yang tak pernah saling tahu. Di pertigaan ringroad yang menuju kampus, motornya terasa oleng. Ia memperlambat laju, lalu mendengar suara yang tidak menyenangkan: *desis pelan*, tanda ban bocor. Adelina menghela napas panjang. “Ya ampun… ini beneran terjadi sekarang?” Ia menepi, memeriksa ban, dan benar saja. Bocor total. Dengan wajah kusut, ia men

