Aku dan Fesaint saling berjalan beriringan. Aku dengan santainya memapah tubuh kekar milik Fesaint. Karena kaki sebelahnya tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, aku pun membantu dirinya untuk bergerak ke tempat yang dia inginkan. Apalagi, dia tidak bisa berada terlalu dekat dengan pohon roh elemen itu. Tenaganya langsung menghilang, begitu dia berada dekat dengan pohon itu. Aku terus berjalan mengikuti instruksi dari Fesaint. Entah kemana dia akan mengajak diriku. Saat tadi, aku ingin mengajak dia untuk masuk ke ruang rahasiaku. Dia langsung menolaknya. Apa mungkin, karena pintu masuknya harus melalui daun dari pohon roh itu. Sedangkan, Fesaint punya cara lain untuk masuk ke tempat itu. Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara dia masuk ke ruang rahasiaku itu. “Kita mau ke mana?” Aku b

