Wajah Fesaint semakin mendekat. Napasnya juga mengalir lembut di pipiku. Aku sudah berusaha memalingkan wajahku untuk tidak melihat matanya. Namun, bibirnya yang seksii malah mendarat lembut di pipiku. Pikiranku mulai tidak terkendali. “Kamu....” Aku tidak percaya Fesaint melakukan hal itu terhadap diriku. Mataku dengan mata Fesaint saling bertemu. Aku tidak menyangka, jika Fesaint berani mencium diriku. Meski yang dia cium hanya bagian pipiku saja. Tetapi sepertinya, dia akan mencium bagian yang lain. Tatapan matanya mengatakannya. “Fesaint... sadar... kamu itu....” Aku bingung harus bagaimana melarang dirinya. “Kamu mau bilang aku ini anak ratu? Kamu mau bilang kalau kita itu bersaudara?” ternyata dia bisa membaca apa yang sedang aku pikirkan. “Tapi... bagaimana kalau Ratu sampai ta

