Raka Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, ketika kakiku sampai di depan rumah. Aku membuka pintu gerbang yang tentu saja terkunci. Suasana rumah tampak sepi. Iyalah sepi, memangnya siapa yang akan membuat kehebohan? Penghuninya hanya dua orang. Aku memasukkan mobil hingga ke garasi terbuka. Pintu rumah terkunci, dan kuncinya dicabut. Bukan hal yang biasa, karena Nadinelah yang setiap hari membukakan pintu untukku. “Apa dia lagi eenggak di rumah ya? Kayaknya tadi eenggak ada pamit.” Aku membuka pintu dengan kunci yang ada padaku. Begitu melihat ruang keluar yang sepi, aku bisa menebak jika Nadine sepertinya tidak sedang di rumah. Tapi kemana sudah jam segini? Selama ini, dia selalu berada di sofa ruang tamu sembari menonton hanya untuk menungguku pulang. Tak ada sosoknya membuat perasa

