Raka Tak ada lagi yang terlintas dibenakku, ketika Nadine seolah memaksa untuk memiliki anaknya sendiri. Aku menahan diri untuk tidak menerangkan kekhawatiranku akan kondisinya. Tapi dia seolah menutup mata pada dirinya sendiri. Maka aku pun memilih untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Kutarik tangan Nadine tak sabaran menuju kamar. Kepalaku sudah dipenuhi amarah, khawatir, gemas, dan sendu dalam satu putaran waktu yang bersamaan. Entah apa yang akan terjadi ke depan, aku tidak bisa memperhitungkan konsekuensinya. Intiya sekarang adalah, menuntaskan apa yang belum pernah dicoba. Aku mendorong Nadine masuk ke kamar, mengunci pintu dan menggantungkan kunci di gantungan kain di belakang pintu. Aku akan membuatnya menyesal hari ini. Bahkan jika dia menangis memintaku berhenti, aku berj

