Nadine “Aku berangkat ya.” Raka menghilang dari pandangan tak lama setelah mengemudikan mobilnya keluar gerbang rumah. “Hufft… Menyebalkan.” Aku pikir kehadiran Raka pagi tadi akan membawa angin segar. Terlebih rencana besarku untuk memiliki anak, seharusnya menjadi kabar bahagia. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Raka malah bereaksi jauh dari dugaanku. Dia mengira aku sedang sakit, dasar memang pria aneh. Suasana hatiku kembali mendung mengingat tanggapan Raka yang seolah menganggap lelucon padaku. Ia tidak percaya jika aku serius ingin memiliki anak. Dia malah menawarkan adopsi anak, padahal bisa produksi sendiri. “Apa Raka sudah enggak mau punya anak sama aku ya?” Pikiran-pikiran negatif mulai menyusup. “Atau jangan-jangan??? Ahh.. tapi tak mungkin, terakhir kali dia dekat hanya

