Raka Aku tak tahu kenapa bantal guling berubah menjadi sedikit keras dan tipis. Tapi ini terasa lebih nyaman, serasa tidur dipelukan. Mataku masih menutup, meski aku sudah tersadar. Wajahku semakin kutelusupkan ke bantal guling. “Ihhh.. Raka. Awas akh.” Tapi sebuah pergerakan dan suara lirih membuatku sontak membuka mata. Betapa terkejutnya aku menemukan apa yang kupeluk sejak tadi. Nadine mengubah posisi tidurnya menjadi telentang membuatku berhadapan dengan bahunya yang sedikit terbuka karena kaosnya berantakan. Tanganku masih bertengger di perutnya yang kurus. Ia melanjutkan tidur dengan nyaman, tak risih dengan pelukanku. Kupandangi sisi wajahnya yang putih. Wajah yang memberiku makan tadi pagi sambil menyuapiku juga dengan suapan kata-kata kesal. Ia selalu mengeluh berkata aku me

