MENGHINDAR

1657 Kata
Raka Sudah 2 minggu terhitung aku berada di negeri tetangga Singapura. Awalnya aku berangkat karena urusan bisnis, tapi setelah kupikir-pikir perjalanan ini seperti menjadi ajang pelarian.  Kebetulan memang cocok untuk menghindar dari segala t***k bengek acara pernikahan tidak diharapkan itu. Aku berangkat 2 hari setelah ditetapkannya waktu pernikahan kami. Waktu itu aku memang harus mengurus kantor cabang di sini. Tapi setelah menerima pesan dari Nadine yang mempertanyakan mengenai segala urusan pernikahan, aku mendadak jadi jengah. Lalu terpikirlah untuk tidak ambil bagian. Hal-hal yang kurasa berkaitan denganku, kulimpahkan pada Arnold. Aku bahkan tidak membalas pesan gadis itu. Melihat namanya tertera saja langsung membuat kepalaku pusing. Beberapa kali dia mempertanyakan pendapatku tentang dekorasi, tempat acara, baju, dan terakhir undangan. Aku hanya meminta Arnold untuk menyampaikan pada Nadine, “terserah”. Masih kuingat terakhir kali ia mengirimiku pesan setelah menanyakan warna baju. Setelah itu semua pertanyaan berikutnya dikirimkan oleh Arnold. Walaupun aku yakin gadis itu juga yang mengetikkannya, karena jelas terlihat berbeda tata tulis pesan Arnold dengannya. Urusan pekerjaanku sebenarnya hanya 3 hari, tapi aku memilih mencari-cari kesibukan agar tetap bisa tinggal di Singapura. Membiarkan Nadine mengurus semuanya bersama Arnold. Sejauh ini tidak ada konsep yang terlalu buruk menurutku, pilihan gadis itu cukup bagus. TING.. Sebuah pesan masuk dari nomor Arnold. Beberapa gambar contoh kartu undangan tertera serta pesan untuk memilih. Sejenak aku melihat 5 gambar undangan yang berbeda beda, semua terlihat menarik dan unik. “Sesuaikan saja sama tema dekorasi.” Hanya itu yang kukirim sebagai balasan. Jujur, aku bingung jika disuruh memilih. Andai aku lihai dalam memilih, mungkin nama yang akan tertera di kartu undangan itu nanti bukan nama Nadine Aurelia. Gadis itu hanya dipilihkan untukku, bukan pilihanku. Aku kembali menatap riwayat pesanku, tapi tak ada balasan, dibaca saja tidak. “Tumben, biasanya begitu terkirim sudah langsung ceklis biru.” Meski sedikit aneh, tapi aku menepis rasa ragu. Toh semua itu tidak berarti bagiku. *** Saat jam menunjukkan pukul 6 sore, aku memilih menyudahi kegiatanku di kantor. Terasa juga perbedaan rutinitas di Jakarta dengan di sini. Karena kantor pusat di Jakarta, pekerjaan jauh lebih hectic dan menguras pikiran. Tapi di sini, jauh lebih ringan. Hanya saja, kasihan asistenku yang menangani pekerjaan di Jakarta. Dia bahkan kaget saat kukabari jika aku akan lebih lama di Singapura. Orangtuaku juga belum tahu jika sebenarnya aku berlama-lama di Singapura karena upaya menghindar. Jika mereka tahu, habislah riwayatku berurusan dengan mama, belum lagi papa yang akan langsung mengancamku dengan embel-embel tidak akan bekerja sama lagi dengan perusahaan pribadiku. Sebisa mungkin aku menutupi sandiwaraku dengan mengatakan jika ada strategi baru yang perlu diterapkan di Singapura dan hal tersebut membutuhkan waktu lebih lama. Komunikasiku dengan orang rumah juga tidak ada, ya kecuali dengan Arnold, itupun sekedar membahas hal-hal terkait pernikahanku 2 minggu lagi. Herannya, mamaku yang biasa selalu mencariku justru tidak ada tanda-tanda akan menghubungi. Sepertinya aku sudah mulai terlupakan. Malam ini aku langsung menuju apartemen untuk beristirahat. Selama beberapa hari ini aku memilih untuk menghibur diri di klub. Padahal selama di Jakarta aku hanya akan ke klub jika diajak teman. Sepertinya kehidupanku akan berubah dari biasanya, bukan hanya status tapi juga pola hidupku. Dan kabar buruknya, perubahan ini mengarah ke hal negatif. Setelah selesai membersihkan diri, kurebahkan tubuhku di atas kasur. Kutatap langit-langit kamar, tiba-tiba saja aku merasa bersalah atas sikap dinginku pada Nadine. Dia bahkan sudah berbaik hati menghubungiku, berusaha untuk menjalin komunikasi, namun dengan jahatnya aku malah mengabaikannya. Sekarang aku menjadi pria b******k rasanya. Jika dipikir-pikir, Nadine tidak salah dalam kasus ini. Ia juga salah satu korban, setelah aku tentunya. Memang sejak pertemuan awal, dia tidak serta merta mengajukan penolakan. Namun saat pertemuan di rumahnya, aku sadar dia juga tidak suka dengan perjodohan ini. Dia juga sudah memintaku untuk bicara pada kedua orangtua kami, tapi bodohnya aku malah tidak melakukan apa-apa. Lihat apa yang kulakukan, aku mengacuhkan anak gadis orang seolah-olah dia adalah tersangka hingga aku menderita batin seperti ini. Kuraih gawaiku yang tadi kuletakkan di nakas. Tak ada notifikasi baru selain email dari kantor dan juga pemberitahuan dari asistenku di Jakarta. Perlahan aku melihat nomor gadis itu, ada cukup banyak pesan yang memintaku untuk membalas pesannya beberapa hari lalu. Tapi aku hanya membacanya. Jika aku di posisinya, mungkin aku sudah memaki. Tapi dia hanya meminta tolong agar pesannya di balas. Karena tidak dibalas, dia berhenti dan memanfaatkan nomor Arnold. Apa nanti setelah kami menikah, lalu aku tidak mempedulikannya maka dia akan pergi begitu saja? Sama seperti pada cerita-cerita romansa. Perlahan kutekan ikon profilnya. Ada gambar seorang gadis yang terpenjara namun tetap tertawa. Ilustrasi itu seolah menggambarkan pemilik akun tersebut. Sejenak kukenang bagaimana ekspresinya setiap kami bertemu, dia selalu menampakkan senyum kikuk dan terlihat pandai membuat suasana menjadi riuh. Tapi tak hanya sekali kulihat pundaknya lesu dan wajahnya datar tanpa ekspresi ketika tidak ada yang memperhatikannya. Saat gadis-gadis lain rata-rata menggunakan poto terbaiknya untuk dijadikan poto profil, gadis ini memang berbeda. Sejak awal dia memang sudah terlihat unik. Harusnya dari sikapnya yang cukup tegas menurutku, dia bisa menghindari kenaasan diantara kami, tapi dia justru terpenjara bersamaku. Mungkin ilustrasi tersebut layak untuk kami berdua, yang pura-pura bahagia namun berusaha menghindar dengan apa yang diberikan kepada kami. Ada perasaan yang ingin kami bahagiakan, meskipun harus mengorbankan perasaan kami sendiri. Setelah puas menafsirkan profil tersebut, aku beralih ke akun instagramnya. Meskipun aku bukan orang yang sering membuka media sosial bercover kotak itu, tapi aku tetap membuat akun pribadi. Yahh.. sesekali aku juga membutuhkannya untuk refreshing otak, atau sekedar mencari identitas beberapa orang ataupun organisasi yang menjalin kerja sama dengan perusahaanku. Dan sekarang ini akan bermanfaat untuk melihat tipe gadis yang akan menjadi teman hidupku itu. Kuketik nama lengkapnya di kolom pencarian, muncul satu akun yang poto profilnya wajah Nadine. Saat ku klik akun tersebut, aku terperangah dibuatnya. Bagaimana tidak, jika di akun gadis-gadis yang ku kenal akan ada banyak poto-poto pribadi mereka, mulai dari close up hingga yang sok menye. Tapi di akun anak ini hanya ada gambar-gambar pemandangan dan caption-caption ambigu. Walaupun demikian, isi akunnya justru membuatku tertarik untuk membaca apa isi kepala gadis bar-bar itu. Ternyata dia cukup pandai menghasilkan puisi dan kata-kata mutiara berisi nasehat. Ada sekitar 43 postingan yang semuanya adalah poto senja, tanaman, hewan, dan pemandangan dari perbukitan. Kuakui hasil potonya lumayan bagus. Tapi yang paling menarik adalah caption-captionnya. Setiap gambar memiliki cerita yang berbeda. Di awal postingan dia seolah sedang mengutarakan kesedihannya. Namun perlahan puisi-puisinya beralih menjadi nasehat-nasehat yang banyak menggunakaan perumpamaan. “Hmm… Pintar juga.” Ngomong-ngomong dia sarjana, tapi aku tidak tahu gelarnya apa. Ada satu postingan yang captionya demikian, Kamu menjadikannya yang terakhir Dia menjadikanmu pilihan terakhir Aku masih bingung maksud dari kata-kata tersebut. Apa bedanya dengan menjadi terakhir di dalam dua baris sajak itu? Dan gambar yang menyertainya adalah sebuah pemandangan yang gelap. Entah itu menggunakan efek dark atau memang aslinya gelap, akupun tidak tahu. Gelap itukan maknanya suram, kesedihan, dan semua yang berkaitan dengan negatiflah. Tak bisa menyimpulkan makna dari captionnya, aku beralih pada postingan lain. Cukup menyenangkan membaca setiap kalimat yang dibuatnya. Ada kenyamanan tersendiri, pesan yang ingin disampaikannya terasa masuk ke dalam hatiku, tapi sulit untuk kujabarkan. Intinya kata-katanya adalah untaian tulus dari hati hingga tepat seperti apa yang kurasakan selama ini. Hingga postingan terakhirnya sebuah pemandangan dengan sosok yang tidak menunjukkan wajahnya. Kali ini kata-katanya, Apa kamu pernah sekali saja bertanya tentang aku? Sekali saja kamu berusaha mengenal diriku. Aku yang sebenarnya. Aku yang enggan keluar, dan menutup akses. Tercubit, itu yang kurasakan. Kata-kata itu seolah sedang diucapkan padaku. Mengingat caraku memperlakukannya selama ini, bagaimana teganya aku mengabaikannya. Apa aku pernah berusaha mengenalnya? Padahal jelas-jelas aku sadar ada suatu hal yang disembunyikannya dari orang-orang di sekitarnya. Hanya 4 baris sajak itu, mampu menampar egoku. Gambar yang menyertainya seolah sedang menunjukkan keindahan yang bisa dilihat mata. Menggambarkan semua senyum dan tingkah kocaknya. Tapi ada sosok yang enggan diampilkan rautnya, menyembunyik kepalanya dengan tudung. Apa itu Nadine? Tapi apa yang ia tak ingin perlihatkan pada dunia? Jika kalian melihatnya, kalian akan beranggapan anak itu tidak memiliki beban hidup. Namun semua kata-kata dalam postingannya mengatakan hal yang berkebalikan. Tak terasa aku sudah larut dalam postinga-postingan gadis itu sampai lupa jam sudah cukup larut. Sesak di dadaku terasa semakin menekan setelah kututup layar gawaiku. Wajahnya yang marah saat aku menyinggung hubungannya dengan Arnold terbayang begitu saja. Aku bahkan belum menyampaikan maaf untuk kelancangan itu. Apa aku terlalu egois? Mata ini perlahan memejam menutup perasaan gelisah yang menyusup pelan-pelan tapi menyayat. *** Paginya aku terbangun dengan rasa bersalah yang langsung menyergap, teringat apa yang sudah k****a semalam. “Sial, kayaknya aku harus menyelesaikan masalah ini. Enggak bisa gini-gini terus.” Kuambil gawaiku, lalu kupesan penerbangan kembali ke Indonesia. Masih dari ranjang, kuhubungi penanggungjawab cabang di negeri singa ini. “Halo, aku akan segera kembali ke Indonesia, jadi tolong kamu urus semua sisa pekerjaan!” Tentunya aku mengucapkan menggunakan Bahasa Inggris. Karena pegawaiku di sini bukan orang Indonesia. “Baik pak. Perlu saya pesankan penerbangan Anda?” “Tidak perlu, sudah saya pesan sendiri.” “Ada yang perlu diperbaki pak?” “Untuk sekarang tidak, kabari perkembangan penjualan produk baru kita melalui email.” “Baik pak.” “Oke, saya tutup.” Panggilan pun berakhir. Aku beranjak untuk membersihkan diri dan membereskan barang-barangku yang sudah banyak. Selama di sini aku membeli beberapa barang-barang baru untuk keperluan, karena tidak ada rencana akan tinggal lama, sehingga hampir semua pakaian yang kubutuhkan harus kubeli. Penerbanganku 2 jam lagi, aku hanya punya waktu kurang dari satu jam untuk bersiap sebelum berangkat ke bandara. Di sinilah aku sekarang, bandar udara internasional Changi, duduk menunggu hingga waktunya boarding. Kutatap benda pipih ditanganku yang menunjukkan nomor Nadine. Ada rasa yang mendesak untuk menghubunginya, tapi kuurungkan dengan rasa malu. “Aku harus gimana? Gimana caranya minta maaf?” Kuputuskan untuk mengirim pesan, “Bisa kita bertemu nanti malam? Akan kujemput pukul 7 malam.” Aku tidak tahu apakah dia akan membaca pesanku? Karena masih ceklis satu yang ditunjukkan di layar chat. Demi menghilangkan deg-degan, kunonaktifkan ponsel pintar tersebut, beranjak untuk boarding pass.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN