FITTING

2054 Kata
Nadine Hari ini adalah jadwal untuk fitting baju. Sungguh aku tidak semangat untuk melakukannya, rasanya sia-sia aku fitting baju jika yang mendampingi juga bukan orang yang akan mengenakan baju itu. Tubuhku masih enggan beranjak dari kasur meski jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Aku bisa bangun siang karena mama dan papa masih belum pulang dari luar kota. Kegiatan menangisku kemarin cukup ampuh membuat tubuh kecilku tidak enak badan. Berulang kali aku membuka tutup layar gawaiku. Aku juga tidak tahu apa yang aku tunggu. Kuhempaskan ponselku ke kasur, aku berbalik menjadi tengkurap. Menyembunyikan wajahku pada kasur empukku. Ingin kembali tidur tapi mata ini tak bisa diajak kerja sama, beranjak pun tak b*******h. Dasar kaum rebahan memang aku ini, makin parah dengan sekian banyak alasan yang mampu membuat kepalaku sakit dadakan. Baru saja aku menenangkan pikiran, tiba-tiba ponselku berbunyi. Dengan ogah-ogahan kulirik nama yang tertera di layar. “Hmm…” “Baru bangun lu?” “Hmm..” “Gila, lu jadi cewek males amat. Ini sudah jam 8 woy.” Aku memutar mataku jengah dengan celotehan calon adik iparku ini. Hanya dia yang setia menggangguku kapan saja tanpa melihat situasi dan kondisi. Siapa lagi kalau bukan sahabat terabsurdku Arnold. “Apaan sih? Ini masih pagi.” “Siapa juga yang bilang ini sudah malam? Cepetan bangun, bangke banget sih. Awas ya lu kalau sudah jadi kakak iparku masih gini, kusiram pake air es.” Aku tersenyum kecil mendengar cerewetnya, padahal dia tidak akan pernah mewujudkan ancamannya itu. Sempat dia melakukannya, siap-siap saja perang saudara. “Iya bawel. Dasar adik ipar enggak tahu sopan santun. Mau ngomong apa sih?” “Ntar aku jemput jam 12 ya, temani makan siang.” “Emang lu enggak ngantor?” “Nggak, libur demi calon kakak ipar. “ “Hahahah….” Tanpa sadar aku tertawa mendengar bacotan bocah tengik itu. “Bacot banget sih lu, bilang saja malas. Enggak usah banyak alasan.” “Hehehe.. tahu aja. Lagian, tanggung ke kantor cuma setengah hari. Mending sekalian libur, toh semua sudah kualihkan kesekretaris.” “Terserah deh. Yaudah aku bangun dulu. On time ya.” Aku mengingatkannya, karena memang Arnold itu paling susah untuk datang tepat waktu. Selama ini kalau dia bilang untuk pergi, kupastikan aku tak perlu buru-buru karena satu jam dari yang dijanjikan dia baru datang, itupun aku masih harus menunggu. “Kali ini nggak molor, janji deh.” “Ok. Bye.” Kuakhiri panggilan tersebut, lalu menghempaskan gawaiku. Hingga 5 menit kemudian aku masih belum bangkit dari tempat tidur. “Ahhh.. males banget.” Tapi tak urung kupaksakan juga untuk duduk, perlahan turun dari tempat yang mengandung magnet itu. Sekilas kutatap hasil karyaku yang luar biasa berantakan, guling entah ke mana, bantal juga sudah pindah ke lantai. Kuhembuskan nafas jengah, kemudian kurapikan. Aku selesai mandi hampir menjelang pukul 9. Seusai itu menuju dapur untuk makan. Si mbak sudah tidak terlihat entah di mana, dan aku juga sedang tidak ingin mencarinya. Kususun makanan di piring dan mengisi segelas air minum. Berhubung mama sama papa sedang tidak di rumah, jadi aku akan makan ditemani TV saja. “Let’s go.” Kunyalakan TV, tapi percayalah aku tidak benar-benar tertarik dengan siaran itu. Selain sibuk menyuapkan makanan ke mulutku, tangan dan mataku juga sibuk mengotak atik layar ponselku. Kubuka akun i********:, dan melihat jumlah like pada postinganku. Ada beberapa nama baru yang menyukainya, tapi aku tidak kenal. Bodo amat sih. Lalu aku beralih pada akun watsapp. Satu per satu postingan teman-temanku kubuka. Beginilah caraku menghabiskan waktu setiap hari.  *** Jam menunjukkan pukul 11.30, aku masih sibuk mengoleskan liptint di bibirku. Aku tidak biasa menggunakan hal-hal berbau fiminim, tapi beberapa hari ini aku sepertinya harus terbiasa, bagaimanapun aku ingin tampil menarik. Mana tahu dengan begitu, si kawan sedikit tertarik. Kuoleskan body lotion, lalu menyemprotkan sedikit parfum ke leher. “NADINEEE…” Seseorang berteriak dari luar, dan aku hapal betul siapa manusia yang akan teriak-teriak kayak anak hilang. “IYA BENTAR..” Jawabku dengan turut berteriak. Kuraih tas selempangku yang langka kugunakan, aku lebih sering mengantongi uang beberapa lembar di saku celana daripada membawa dompet kemana-mana. Kali ini aku ingin mengenakannya, mana tahu ada hal-hal yang perlu nanti, sekedar jaga-jaga. Aku keluar dari kamar, dan benar saja di sofa sudah duduk dengan santai sambil angkat kaki manusia tengil yang sialnya sahabatku. “Tumben cepat, belum juga jam 12.” “Salah saja aku ya, cepat salah, lama juga salah.” “Aku bilang ‘tumben’ bukan menyalahkan. Otak lu negatif mulu.” Ucapku tak ingin kalah. “Iya deh, ngalah demi calon kakak ipar.” “Apaan sih lu.” “Ohh iya, abang gue baru nyampe di rumah.” Aku sedikit terkejut, tapi secepatnya kunormalkan. “Ohh…” tak ingin berharap lebih, sudah cukup kecewaku mengharapkan balasan pesan darinya. Dan si kurang asam itu tak pernah membalasnya, jadi kuputuskan untuk memblokir nomornya saja. “Mau kuhubungi? Biar kalian saja yang pergi fitting.” Mendengar hal itu, otomatis aku memelototinya. “Enggak perlu.” Jawabku ketus. Ah.. emosiku sudah kembali tersulut hanya dengan membahas dia. Harusnya dia tidak perlu kembali dari Singapura. Nanti pernikahan pun diwakilkan saja. Sepertinya lebih baik aku menikahi Arnold saja daripada pria enggak tahu diri itu. “Oke, kita berangkat sekarang?” “Enggak, tahun depan.” Ketusku. “Janganlah, kalau tahun depan, keburu aku mati kelaparan.” Kuputar mataku kesal, “yaudah ayok..” Kami berangkat menggunakan mobil mencari tempat makan sebelum nanti ke butik. Setelah menyusuri jalanan, kami memutuskan untuk makan siang di salah satu restoran Jepang. “Ehh.. ini yang bakalan bayar lu kan?” “Enggaklah, lu yang jadi kakak ipar kok.” “Ikhh.. si bangsul. Gue nggak punya duit.” Dan dia malah terkekeh melihatku yang sudah kesal. “Selow sih, gue yang ngajak. Gue tahu kok lo enggak punya duit. Pengangguran mana mungkin punya uang.” “Lu nyindir?” Ku tatap intens wajahnya yang memang ganteng. Sedang ia sedang fokus memakirkan mobil. Selesai ambil posisi dia menatapku dan tersenyum. “Enggak kok, itu realita. Yukk.. kita makan dulu. Tenaga lu nanti abis marah-marah mulu.” Aku semakin mengerucutkan bibir. Tapi tak urung keluar dari mobil dan mengekori Arnold yang sudah lebih dulu berjalan. *** Jam menunjukkan pukul 2 kurang 5 menit ketika kami sampai di butik. Pegawai di sana langsung mengantar kami ke ruang fitting setelah kami memberitahu pesanan kami. Dan akhirnya di sinilah kami, di sebuah ruangan yang lumayan besar dengan satu sofa panjang menghadap sebuah tirai. “Kita langsung coba bajunya mbak?” Kata si pegawai perempuan yang menemani kami tadi. “Ahh.. iya.” “Mari masuk.” Ia mengarahkanku melalui satu pintu lain yang ternyata menuju ruangan rias. Di sana sudah ada gaun pengantin yang kupesan. Sebuah gaun impianku, ala princess. Biarpun ini bukan pernikahan impian, tapi aku tetap ingin membuat yang aku suka. Mumpung yang membiayai tidak komentar apa-apa, peduli setan dia kehabisan uang. Aku segera diminta melepaskan seluruh pakaianku. Ini pengalaman pertamaku harus tanpa busana di depan orang lain. Jujur saja meski yang didepanku hanya seorang perempuan, tetap saja rasanya canggung dan malu sampai ulu hati. Butuh waktu untuk pegawai cantik tersebut membujukku agar tak perlu ragu. “Semua pengantin baru rata-rata pasti malu mbak. Tapi bagaimana gaunnya mau dicoba kalau baju mbak saat ini tidak dilepas?” “Bisa saya pakai sendiri saja gaunnya mbak?” Ucapku lirih. “Nanti mbak tidak bisa. Gaunnya model kemben mbak, nanti harus ada yang mengikatnya, serta mengancingkan dari belakang. “ Jelas pegawai tersebut. Kulihat gaun itu dengan saksama. Memang benar, bagaimana caranya aku bisa mengenakan baju sebesar itu sendirian. Aku benar-benar gerogi, padahal masih mencoba saja. Aku memainkan tanganku mencoba menghilangkan jantungku yang detaknya tak beraturan. Ini antara malu sama si pegawai, juga senang mau mencoba baju ala putri kerajaan. Kurasa lebih dari 10 menit aku masih takut untuk melepas bajuku. Tapi akhirnya aku dengan pasrah kutarik kaosku ke atas, dan melepaskan celana kainku. Menyisakan tangtop dan celana pendek. Saat aku akan menyentuh gaun pengantinnya, si mbak pegawai menatapku seolah ingin menyampaikan sesuatu, tapi aku tidak paham. “Mbak, atasannya dilepas juga.” “Ha?? Maksudnya mbak? Bra  juga ikut?” Tanyaku tak percaya. Masa bra juga ikut dibuka. Ribet banget. “Iya mbak, gaunnya model kemben mbak, bagian atas tidak perlu lagi pakai dalaman.” Terangnya. “Aduh mbak..” Aku menggaruk leherku canggung. Makin lama acara fittingnya. “Tidak apa-apa mbak.” “Di sini tidak ada cctv kan mbak?” Tanyaku sambil mengarahkan pandangan meneliti setiap sudut. Padahal toh pakaian luarku sudah kulepas, gunanya apa juga bertanya sekarang. “Tidak mbak. Mbak tidak perlu takut.” Dengan tangan gemetar akhirnya lepas juga semua yang melekat di tubuh atasku. Aku memeluk diriku malu. Dan mbak pegawai tersebut tidak menampakkan ekspresi apapun, ia langsung mengarahkan baju tersebut padaku. Aku mengikuti gerakannya yang seolah mengarahkan bagaimana cara mengenakan gaun tersebut. Aku masuk ke dalam gaun, sedikit sulit karena pinggang gaunnya yang memang kecil. Butuh perjuangan juga, terlebih tubuhku yang kaku tak terbiasa mengenakan pakaian seperti ini. Beruntung si mbak sabar mengarahkan dan membantuku mengenakan pakaian tersebut. Setelah selesai menutup bagian belakang bajunya, si mbak sebentar memperhatikan apa lagi yang kurang. “Nyaman memakainya mbak?” Tanyaya. Aku hanya mengangguk sembari tersenyum. Rasanya bahagia sekali bisa mengenakannya. “Aku kayak putri putri di film Disney mbak.” Ucapku sumringah. Sedangkan mbak itu hanya tersenyum mentapku. “Mbak cantik, bajunya sangat sesuai. Pilihan mbak tepat sekali. “ Dan aku hanya nyengir sambil menggerakkan tubuhku melihat penampilan gaunku. “Kita makeup sedikit ya mbak.” “Ahh.. oke.” “Silakan duduk dulu.” Dia memintaku duduk di sebuah kursi yang bantalannya cukup lebar sehingga pakaiannya tidak mempersulit. Butuh waktu yang cukup lama mbak pegawai tadi mengoleskan semua jenis-jenis riasan ke wajahku. Sebenarnya aku sangat tidak nyaman, rasanya wajahku gatal karena tidak terbiasa. Belum lagi mataku yang sulit sekali menahan kedipan saat akan membuat maskara dan eyeliner. “Gini amat jadi perempuan. Ribet.” Keluhku lirih. “Tapi biar semakin cantik mbak. Mbak jarang pakai make up ya?” “Bukan jarang lagi mbak. Langka. Di rumah aku hanya punya hand body sama liptint. Itupun liptint baru sebulan ini.” Curhatku. “Pantes mukanya masih mulus polos gini. Tapi mbak tanpa make up juga sudah cantik sekali.” “Akhh.. mbak bisa saja. Kalau aku secantik itu, pasti calon suamiku sudah menemaniku di sini.” Aku mengucapkan itu dengan santai, tapi justru wajah mbak tersebut yang seperti orang shok. “Lalu yang di depan tadi siapa mbak?” Tanyanya masih dengan mata yang membulat serta gerakannya yang terhenti meminta penjelasan. “Calon adik ipar saya mbak. Abangnya yang akan jadi suami saya.” “Ohh.. memang calon mbak di mana?” “Entah. “ Jawabku santai. Aku benar-benar sudah tidak peduli ladi sama pria pengecut itu. “Oke, kita selesai.” Akhirnya, hampir leherku tidak bisa bergerak lagi saking tegangnya. Perlahan aku menatap cermin di depanku. Tak puas rasanya memandang wajah yang ada di sana. ‘apa itu aku?’ seperti melihat orang lain. Sosok yang jauh lebih cantik dari aku yang selama ini. Mataku memanas, dan rasanya ada kaca lain yang menghalangin pemandangan di depanku. Segera kutadahkan wajahku ke atas agar cairan bening tidak merusak riasanku. Aku mengatur senyum semanis mungkin. “Andai kamu yang ada di depan sana bang. Apa kamu juga akan terpana melihatku” Gumamku kecil. “Ayo mbak, kita tunjukkan ke ..” Mbak tersebut nampak bingung hendak menyebut Arnold apa. “Iya mbak.” Aku berajalan pelan ke arah sebuah panggung kecil di sisi lain ruangan. Aku mengatur nafas pelan. Si mbak yang tadi sudah keluar dan menyuruhku berdiri agar nanti dia buka tirainya dari luar. Aku gerogi, entah mengapa jantungku detaknya lebih cepat dan sedikit mengganggu pasokan udara ke paru-paruku. Aku masih sibuk meneliti gaunku. Melihat apakah ada yang rusak atau tidak. Sekaligus menikmati betapa indahnya gaun tersebut. Aku mendengar suara mbak tadi memberi aba-aba akan membuka tirai. Aku sudah siap dengan tanganku di kedua sisi gaun. Begitu tirai terbuka aku akan memutar tubuhku sesuai arahan tadi. Lalu tirai terbuka, otomatis aku pun memutar tubuhku searah jarum jam. “Gimana Nol, cantik nggak?” Tanyaku setelah berhenti di posisi awal. Aku mengulas senyum bahagia dan mengangkat wajahku yang sejak tadi masih tertunduk menikmati gaun tersebut. “Wow…” Aku terpaku menatap pria yang ada di depanku. Senyumku hilang seketika, bukan ini yang kuharapkan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN